sign up SIGN UP

RELATIONSHIP

Hati-Hati, Ini Pengaruh Buruk Memberi Hukuman Fisik ke Anak

tjitradewi | Rabu, 26 May 2021 16:00 WIB
Hati-Hati, Ini Pengaruh Buruk Memberi Hukuman Fisik ke Anak
Foto: Ilustrasi anak trauma/Freepik

Setiap orangtua memiliki cara untuk mendisiplinkan anak. Beberapa di antara mereka ada yang memilih untuk berkomunikasi dan berdiskusi dengan anak tentang perbuatan yang boleh dan tak boleh dilakukan.

Sedangkan beberapa orangtua lainnya memilih untuk menakut-nakuti anak jika mereka tak mau menurut. Sementara itu ada orangtua yang tak segan memberikan hukuman fisik terhadap anak mereka sendiri.

Orangtua biasanya ada yang memberikan hukuman fisik kepada anak.
Orangtua biasanya ada yang memberikan hukuman fisik kepada anak. (Freepik)

Menurut American Academy of Child & Adolscent Psychiatry (AACAP) hukuman fisik adalah perbuatan yang menimbulkan rasa tak nyaman maupun rasa sakit secara fisik. Beberapa hukuman fisik yang rata-rata dilakukan adalah dengan memukul baik menggunakan tangan maupun alat lain, menampar, mencubit, menjambak, hingga membuat anak memakan makanan seperti cabai dan hal lain yang menimbulkan rasa sakit dan tak nyaman.

Meski beberapa orangtua mengaku bahwa mereka tak sepenuhnya sadar saat melakukan hukuman fisik kepada anak, ada beberapa orangtua yang dengan sengaja dan sudah berencana memberikan hukuman ini kepada anaknya. Hal ini dilakukan agar sang anak mau melakukan hal yang diminta orangtua dan memenuhi ekspektasi orangtua terhadap anak. 

Ilustrasi anak menangis
Ilustrasi anak menangis (Freepik)

Mungkin cara ini kerap dan masih dilakukan karena dirasa orangtua paling cepat dalam mendisiplinkan anak, dibanding dengan cara positif yang cenderung memakan waktu lebih lama. Namun apakah kalian tahu bahwa memberikan hukuman fisik kepada anak justru lebih banyak menimbulkan dampak negatif dibanding positif?

Menurut AACAP anak-anak yang pernah dan kerap mendapatkan hukuman fisik dari orangtua maupun pengasuhnya cenderung tumbuh menjadi pelaku perundungan (bullying), agresif, memiliki masalah perilaku, dan memiliki rasa percaya diri yang rendah.

Mereka yang tumbuh dalam kondisi ini juga cenderung tidak dekat dengan orangtuanya, menganggap bahwa melakukan kekerasan fisik merupakan hal wajar, hingga dapat meningkatkan depresi dan kecemasan saat dewasa nanti.

Anak yang kerap diberi hukuman fisik bisa tumbuh menjadi seseorang yang memiliki masalah kesehatan mental.
Anak yang kerap diberi hukuman fisik bisa tumbuh menjadi seseorang yang memiliki masalah kesehatan mental. (Freepik)

Jika dilakukan berkepanjangan, anak-anak yang tumbuh dalam keadaan stres dan trauma seperti ini biasanya tak gemilang dalam pencapaian belajarnya atau memiliki kemampuan kognitif yang rendah. Hal ini terjadi karena otak anak lebih berfokus untuk 'menyelamatkan diri' dan mengabaikan bagian otak yang berfungsi untuk memecahkan masalah--bagian yang sama untuk belajar.

Ilustrasi anak memiliki masalah dalam belajar.
Ilustrasi anak memiliki masalah dalam belajar. (Freepik)

Orangtua yang kesulitan mendisiplinkan anak, sebaiknya tak malu untuk bertemu dengan psikolog anak dan berdiskusi untuk mencari cara tepat. Selain itu, edukasi orangtua mengenai perkembangan anak juga penting agar dapat mengubah cara pandang orangtua lebih positif terhadap anak.

(kik/kik)

Our Sister Site

mommyasia.id