5 Hal yang Diam-Diam Bikin Karyawan Gen Z Mau Cabut dari Perusahaan

Dewi Maharani Astutik | Beautynesia
Senin, 09 Feb 2026 21:30 WIB
5 Hal yang Diam-Diam Bikin Karyawan Gen Z Mau Cabut dari Perusahaan
Turnover karyawan muda meningkat jika budaya perusahaan tidak sejalan dengan harapan Gen Z/Foto: Freepik/benzoix

Generasi Z (Gen Z) kini mulai menjadi kekuatan dominan di dunia kerja yang menghadirkan perspektif dan energi baru bagi berbagai industri. Karyawan Gen Z dikenal sebagai pekerja muda yang memiliki nilai dan harapan yang jelas, termasuk soal lingkungan yang transparan, fleksibel, dan memberikan peluang berkembang. Cara mereka menilai perusahaan tidak hanya dari gaji, tetapi juga dari budaya, dukungan manajemen, dan kesempatan untuk belajar.

Memahami faktor-faktor yang diam-diam membuat Gen Z resign menjadi krusial agar organisasi dapat mempertahankan talenta terbaiknya. Jangan lewatkan kesempatan untuk mengenal lebih jauh soal apa yang membuat mereka ingin meninggalkan perusahaan berdasarkan artikel yang dilansir dari Fodmap Everyday ini agar strategi retensi organisasimu lebih efektif.

Ketidakseimbangan antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi

Gen Z resign seringkali karena ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mereka tidak mau mengorbankan waktu pribadi demi pekerjaan. Perusahaan yang menghormati batasan waktu akan lebih menarik bagi mereka.
Karyawan Gen Z sangat menekankan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi/Foto: Freepik/DC Studio

Generasi Z menekankan pentingnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mereka enggan mengorbankan waktu pribadi demi pekerjaan, dan jika budaya perusahaan menuntut jam kerja panjang atau kesiapan untuk selalu siaga membalas pesan soal pekerjaan, hal itu bisa membuat mereka kelelahan parah. Kesehatan mental dan fisik mereka menjadi priorirtas, dan mereka tidak akan ragu meninggalkan pekerjaan yang merugikan keduanya.

Mereka memahami bahwa menjaga keseimbangan yang sehat tidak hanya melindungi diri, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan kepuasan kerja. Oleh karena itu, mereka akan mencari perusahaan yang menghormati waktu pribadi dan memungkinkan mereka tetap memiliki kehidupan di luar pekerjaan.

Teknologi yang Kuno

Karyawan Gen Z cepat merasa frustrasi saat menghadapi teknologi kuno di perusahaan/Foto: Freepik

Jika teknologi di perusahaan terasa kuno, hal itu akan langsung terlihat oleh pekerja Gen Z. Mereka yang tumbuh dengan ponsel pintar dan layanan cloud terbiasa dengan sistem digital yang lancar dan efisien.

Menghadapi perangkat lunak yang sulit digunakan dan perangkat keras yang usang bukan hanya merepotkan, tetapi juga memberi kesan bahwa perusahaan tidak menghargai waktu dan kemampuan mereka. Bagi Gen Z, ini adalah tanda peringatan serius bahwa perusahaan belum siap menghadapi masa depan.

Gen Z sangat menghargai efisiensi dan cepat merasa frustrasi jika harus bekerja dengan sistem yang ketinggalan zaman. Bagi banyak dari mereka, hal ini bisa menjadi alasan utama untuk meninggalkan perempuan. Menurut studi ThriveSparrow terbaru, sepertiga pekerja Gen Z lebih cenderung tetap bertahan di perusahaan yang menyediakan teknologi modern.

Jarang Menerima Umpan Balik

Karyawan Gen Z tumbuh dengan harapan akan umpan balik yang cepat dan nyata/Foto: Freepik/lookstudio

Gen Z tumbuh dengan budaya kepuasan instan dan menaruh harapan yang sama pada kehidupan profesional mereka. Mereka menginginkan percakapan berkelanjutan dan bimbingan secara real-time untuk membantu mereka berkembang dan memperbaiki diri. Jika perusahaan hanya membahas kinerja mereka saat penilaian tahunan, perusahaan telah melewatkan kesempatan penting.

Ini bukan soal memanjakan, melainkan tentang membangun budaya pengembangan yang berkesinambungan. Gen Z ingin tahu posisi mereka saat ini dan apa yang bisa dilakukan dengan lebih baik, dan mereka ingin mengetahuinya sekarang alih-alih enam bulan kemudian. Menurut artikel Forbes, sebagian besar pekerja Gen Z menginginkan sesi pengecekan yang lebih sering dengan manajer mereka.

Budaya yang Menekan

Karyawan Gen Z cenderung sulit bertahan di lingkungan kerja yang terlalu kaku dan penuh batasan/Foto: Freepik

Gen Z sangat menghargai hal-hal yang otentik dan ingin bekerja di lingkungan yang memungkinkan mereka menjadi diri sendiri. Jika budaya perusahaan terlalu formal, kaku, dan minim rasa kebersamaan, mereka akan merasa terbatasi dan seolah dipaksa mengenakan kostum. Mereka justru berkembang di tempat yang terbuka, kolaboratif, dan lebih santai, bukan di lingkungan yang terasa seperti penjara.

Generasi ini juga tidak takut menentang aturan yang ada dan berharap ide-ide mereka didengar. Mereka mencari suasana kerja yang terasa seperti komunitas, di mana hubungan dengan rekan bisa lebih personal. Mereka tidak ingin hanya menjadi wajah lain di tengah kerumunan.

Upah yang Tidak Kompetitif

Karyawan Gen Z melihat gaji sebagai bagian penting dari stabilitas hidup jangka panjang/Foto: Freepik/stockking

Gaji juga menjadi faktor penting bagi Gen Z yang terbuka dalam membahas soal kompensasi. Mereka memahami standar pasar dan menghargai transparansi gaji. Jika perusahaan menawarkan gaji di bawah rata-rata industri, mereka cenderung tidak bertahan lama karena mengetahui nilai diri mereka dan memilih tempat yang akan menghargai mereka secara finansial.

Selain itu, tekanan dari utang pendidikan dan tingginya biaya hidup membuat mereka tidak mau menerima kompensasi yang kurang. Bagi Gen Z, mereka tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mencari kestabilan finansial.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE