5 Tanda High Achiever yang Diam-Diam Punya Harga Diri Rendah

Adira P | Beautynesia
Jumat, 06 Mar 2026 07:00 WIB
Sulit Menerima Pujian serta Bantuan dari Orang Lain
Tanda High Achiever yang Diam-Diam Punya Harga Diri Rendah/Foto: Freepik/khroska_nastya

Kita sering melihat seseorang yang tampak punya segalanya. Karier cemerlang, prestasi segunung, dan seolah nggak pernah gagal. Namun, di balik tumpukan piala dan pujian itu, banyak dari mereka yang sebenarnya merasa sangat kelelahan dan tidak pernah merasa cukup dengan diri sendiri.

Dilansir dari Psychology Today, Dr. Alice Boyes, Ph.D., seorang psikolog kognitif-perilaku, konsep diri kita sebenarnya terdiri dari dua sisi: kompetensi (apa yang bisa kita lakukan) dan rasa berharga (siapa kita di dalam).

Masalahnya, seorang high achiever dengan harga diri rendah biasanya andal di sisi kompetensi, tapi sangat rapuh di sisi rasa berharga. Mereka merasa nilainya hanya sebesar pencapaian terakhirnya saja.

Yuk, kenali 5 tanda kalau kamu mungkin sedang terjebak dalam pola ini!

Merasa Seperti Penipu Meski Sudah Berhasil

Harga Diri yang Rendah/Foto: Freepik

Tanda High Achiever yang Diam-Diam Punya Harga Diri Rendah/Foto: Freepik

Salah satu tanda yang paling umum adalah perasaan bahwa semua pencapaian yang diraih hanyalah keberuntungan, bukan hasil kerja keras yang nyata. Kondisi ini dikenal sebagai imposter syndrome, yaitu keraguan mendalam terhadap kemampuan diri sendiri yang dialami oleh individu berprestasi tinggi, meski sudah ada bukti nyata atas kesuksesan mereka.

Penelitian yang diterbitkan di Behavioral Sciences menemukan bahwa lebih dari separuh mahasiswa yang diteliti mengalami imposter syndrome, serta kondisi ini berkaitan erat dengan gejala depresi serta kecemasan yang signifikan. Individu-individu ini terus meyakini bahwa mereka sebenarnya tidak secerdas yang orang lain kira.

Beauties, jika kamu sering merasa takut ketahuan bahwa kamu tidak se-kompeten yang terlihat, itu adalah tanda yang perlu diperhatikan, bukan kerendahan hati yang sehat

Perfeksionisme yang Berujung pada Kelelahan

Menurut Dr. Allison Kelly, orang cerdas sangat mudah mengkritik diri sendiri dengan kejam, takut akan kegagalan, dan menetapkan standar yang tidak realistis bagi diri sendiri. Sifat perfeksionis mereka membuat mereka ingin selalu tampil jadi yang terbaik.

Tanda High Achiever yang Diam-Diam Punya Harga Diri Rendah/Foto: Pexels/cottonbro studio

Bagi high achiever, standar sempurna bukan lagi ambisi, melainkan syarat utama untuk merasa layak dihargai. Riset dalam British Journal of Psychology menjelaskan bahwa orang dengan pola ini cenderung mengevaluasi dirinya dengan standar yang sangat tinggi dan tidak fleksibel.

"Perbandingan sosial yang terus-menerus membuat para perfeksionis merasa tidak pernah cukup,” ujar Gordon Flett, Ph.D, psikolog peneliti di York University, dilansir daari APA Monitor.

Ironisnya, semakin keras kamu bekerja, rasa puas itu justru makin jauh. Pola ini secara konsisten memprediksi terjadinya burnout (kelelahan mental), bukan kepuasan hidup.

Nilai Diri yang Sepenuhnya Bergantung pada Prestasi

Ketika seseorang meminta maaf atas segalanya, pada dasarnya mereka mengatakan bahwa kebutuhan, pikiran, dan kehadiran mereka kurang penting daripada orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa mereka punya harga diri yang rendah.

Tanda High Achiever yang Diam-Diam Punya Harga Diri Rendah/Foto: Freepik

Tanda ini sering nggak disadari, tapi dampaknya luar biasa. Kamu merasa berharga hanya saat ada pencapaian baru yang bisa ditunjukkan ke orang lain. Tanpa prestasi, kamu merasa nggak ada lagi sisi dari dirimu yang layak dibanggakan.

Identitas seperti ini sangat rawan karena setiap kali ada kegagalan kecil, duniamu terasa runtuh. Padahal, menyandarkan harga diri hanya pada hasil profesional membuat emosimu jadi nggak stabil. Nilai dirimu nggak perlu kamu menangkan setiap hari, Beauties. Ia sudah ada di sana sejak awal.

Sulit Menerima Pujian serta Bantuan dari Orang Lain

Membandingkan diri hanya merusak harga diri dan bukan alasan sebenarnya terjadinya perselingkuhan.

Tanda High Achiever yang Diam-Diam Punya Harga Diri Rendah/Foto: Freepik/khroska_nastya

Pernahkah kamu mendapat pujian yang tulus namun langsung merespons dengan, "Ah, itu bukan apa-apa" atau "Orang lain pasti bisa lebih baik"? High achiever dengan harga diri rendah sering merasa tidak layak mendapatkan dukungan serta merasa seharusnya bisa menangani segalanya sendiri.

Individu dengan imposter syndrome cenderung mengaitkan keberhasilan mereka dengan faktor eksternal seperti keberuntungan atau bantuan orang lain, bukan pada kemampuan diri sendiri. Mereka cenderung enggan meminta bantuan karena takut terlihat tidak kompeten.

Kesulitan menerima apresiasi ini bukan soal kerendahan hati, melainkan cerminan dari keyakinan bawah sadar bahwa mereka memang belum cukup layak untuk mendapatkannya.

Terus Bekerja Keras Tanpa Bisa Beristirahat

Ilustrasi belajar

Tanda High Achiever yang Diam-Diam Punya Harga Diri Rendah/Foto: Freepik/kamranaydinov

Seorang overachiever sering menutupi rasa tidak berharganya dengan bekerja tanpa henti. Kamu mungkin benci beristirahat dan merasa bersalah kalau nggak melakukan apa-apa. Kamu melewatkan momen untuk merayakan keberhasilan karena sudah langsung memikirkan target berikutnya.

Perlu diingat, istirahat bukan hadiah, tapi kebutuhan dasar yang layak kamu dapatkan tanpa harus membayarnya dengan prestasi lebih dulu.

Menjadi orang yang berprestasi itu hebat, tapi jangan sampai pencapaianmu menjadi satu-satunya alasan untuk mencintai dirimu sendiri, Beauties. Prestasi boleh jadi bagian dari identitasmu, tapi ia bukan keseluruhan dari siapa kamu.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.