6 Cara Agar Korban Tidak Terjerat Tindakan Manipulasi Pelaku KDRT untuk Bertahan di Hubungan Toksik
Ketika korban kekerasan dalam rumah tangga mencoba untuk keluar dari lingkaran kekerasan, hal tersebut bukanlah hal yang mudah, Beauties. Pelaku dapat bertindak ingin mempertahankan hubungan penuh kekerasan tersebut, hal ini terjadi karena mereka masih ingin mengontrol kehidupan korban, baik karena masih ingin mengeksploitasi secara emosional maupun secara ekonomi.
![]() Pelaku Kekerasan Ingin Mempertahankan Hubungan Penuh Kekerasan Masih Ingin Mengontrol Kehidupan Korban Baik Karena Motivasi untuk Mengeksploitasi Secara Emosional Maupun Secara Ekonomi/Freepik.com |
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Steven Lampley dalam artikelnya yang berjudul “Hoovering and the Narcissistic Victim: How abusive narcissists lure victims back”, yang dimuat pada laman Psychology Today, pelaku KDRT akan melakukan serangkaian taktik manipulasi untuk menjerat korbannya kembali, atau yang dikenal dengan istilah hoovering.
Namun, korban tentu dapat memilih untuk tidak terjerat kembali pada hubungan penuh kekerasan. Berikut hal-hal penting yang perlu dilakukan oleh korban agar tidak jatuh atau terjerat pada hubungan yang sengaja diciptakan kembali oleh pelaku kekerasan.
1. Tutup Semua Akses Komunikasi Pelaku Kekerasan
Ilustrasi/Foto: Freepik.com/Thankayij-12 |
Tutup semua akses komunikasi termasuk sosial media, bahkan tutup akses interaksi langsung dengan pelaku kekerasan.
Akses komunikasi merupakan cara pertama bagi pelaku untuk membangun kembali hubungan yang telah usai. Akses komunikasi merupakan cara pelan namun pasti bagi pelaku untuk membangun koneksi dan interaksi dengan korban agar dapat dijerat kembali.
2. Libatkan Pihak Ketiga untuk Membatasi Interaksi Dengan Pelaku
Dalam beberapa kasus KDRT di mana pasangan memiliki anak dari hasil pernikahan, untuk membatasi atau menutup akses komunikasi secara langsung antara korban dengan pelaku rasanya merupakan hal yang sulit. Namun, bukan berarti mustahil untuk dilakukan.
Libatkan pihak ketiga seperti orangtua, kerabat atau tenaga profesional seperti pengacara, konselor atau psikolog yang dipercaya dalam mengkomunikasikan kebutuhan anak. Hal ini dapat dilakukan meskipun tidak dalam interaksi langsung untuk menghindari upaya pelaku kekerasan untuk menjerat kembali korban.
3. Menciptakan Batasan Dengan Support System
Ilustrasi/Foto: Pexels.com/SVETSproduction/ Foto: Sherley Gucci Permata Sari |
Korban kekerasan perlu untuk mengomunikasikan kepada lingkungan dan profesional yang tepat bahwa mereka tidak ingin kembali memiliki hubungan dengan pelaku kekerasan. Menciptakan support system sebagai batasan tegas agar pelaku tidak memiliki akses kepada korban merupakan hal yang sangat penting.
4. Membangun Dukungan Finansial dan Ekonomi
Selain support system yang berkenaan dengan batasan komunikasi, korban juga perlu membangun support system ekonomi. Hal ini sangat penting karena berkenaan dengan kebutuhan dasar korban.
Persoalan ekonomi dapat menjadi pemicu kondisi korban terpuruk pasca perpisahan. Dikhawatirkan persoalan ekonomi akan menjadi penyebab korban terjerat kembali pada hubungan kekerasan. Hal ini disebabkan karena korban tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri dan terpaksa kembali kepada pelaku karena merasa tidak berdaya secara finansial.
Untuk membangun dukungan finansial dan ekonomi, korban jangan segan untuk melibatkan keluarga, teman, profesional dan komunitas yang siap membantu agar bangkit secara ekonomi dengan mengutarakan kebutuhan akan dukungan agar mampu mandiri secara finansial dan ekonomi.
Edukasi Diri Juga Penting
Ilustrasi KDRT/Foto: Pexels/Karolina Grabowska
5. Menguatkan Mental Untuk Melanjutkan Hidup
Tidak ada support system yang paling utama selain tekad dari dalam diri korban kekerasan KDRT untuk lepas dari jerat kekerasan yang diciptakan oleh pelaku. Tanpa tekad yang kuat, korban akan mudah dimanipulasi kembali dengan taktik hoovering pelaku kekerasan. Bersikap tegas kepada pelaku kekerasan agar tidak kembali menjerat korban untuk kembali kepada hubungan kekerasan merupakan hal yang utama yang perlu dilakukan oleh korban.
6. Mengedukasi Diri Dengan Berbagai Ilmu
Ilustrasi/Foto: Freepik.com/Jcomp |
Banyak latar belakang dan faktor terjadinya KDRT serta banyak pula latar belakang dan faktor bagi pelaku kekerasan melakukan kekerasan.
Latar belakang tersebut di antaranya yakni dapat berkenaan dengan faktor psikologis seperti pengaruh pola asuh yang berdampak pada munculnya gangguan kepribadian psikologis seperti gangguan kepribadian narsistik (Narcissistic Personality Disorder/NDP), pengaruh lingkungan pergaulan dan pengaruh pekerjaan.
Faktor sosial-budaya pun dapat mempengaruhi seseorang menjadi pelaku kekerasan dalam rumah tangga, seperti budaya patriarki dan faktor motivasi materi atau ekonomi seperti kecenderungan akan keserakahan (greedy).
Keenam hal di atas merupakan hal yang bisa dilakukan agar korban tidak terjerat kembali pada taktik bujukan jeratan (hoovering) pelaku kekerasan. Semakin korban mengedukasi diri untuk mengetahui faktor-faktor terjadinya kekerasan serta cara untuk melepaskan diri, maka pelaku kekerasan memiliki peluang yang sangat kecil untuk dapat kembali menjerat korban kepada hubungan kekerasan.
Beauties, akses terhadap pengetahuan-pengetahuan tersebut secara lebih luas lagi dapat diperoleh melalui bantuan komunitas yang peduli terhadap korban kekerasan domestik, profesional khusus seperti psikolog, pengacara, pendamping komunitas, serta referensi seperti bacaan dan kelas khusus.
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

Ilustrasi/Foto: Freepik.com/Thankayij-12
Ilustrasi/Foto: Pexels.com/SVETSproduction/ Foto: Sherley Gucci Permata Sari
Ilustrasi/Foto: Freepik.com/Jcomp