Beda Zaman, Beda Gaya! 5 Kebiasaan Gen Z yang Sering Dicap Malas oleh Boomer
Apa yang dianggap produktif oleh boomer, sering kali dinilai berbeda oleh Gen Z. Generasi Z kerap dipandang lebih santai, fleksibel, bahkan dianggap "malas" oleh generasi sebelumnya. Padahal, di balik kebiasaan Gen Z yang dianggap malas oleh boomer, ada alasan yang logis dan relevan dengan kondisi zaman sekarang.
Kalau dilihat lebih dekat, kebiasaan Gen Z ini justru menggambarkan cara beradaptasi dengan dunia modern yang serba cepat dan penuh tekanan. Sebelum menilai, yuk, pahami dulu 5 kebiasaan Gen Z yang sering dicap malas oleh boomer berikut ini, seperti yang telah dilansir dari Your Tango!
1. Work From Home
![]() Work from home, kebiasaan Gen Z yang dianggap malas oleh boomer./Foto: Freepik.com/benzoix |
Bagi banyak boomer, bekerja identik dengan duduk di kantor dari pagi hingga sore. Sedangkan Gen Z lebih fleksibel, mereka melihat bahwa pekerjaan bisa dilakukan dari mana saja, termasuk rumah. Work from home jadi salah satu kebiasaan Gen Z yang sering dicap malas oleh boomer karena dianggap kurang disiplin dan tidak serius.
Gen Z merasa lebih produktif saat bekerja dari rumah karena minim distraksi kantor. Selain itu, work from home juga membuat Gen Z lebih efisien dalam mengatur waktu. Mereka bisa mengurangi waktu perjalanan yang melelahkan, sehingga punya energi lebih untuk fokus pada pekerjaan atau kegiatan lain yang mendukung pengembangan diri.
2. Memiliki Pekerjaan Sampingan
Pekerjaan sampingan membuat Gen Z lebih mandiri, meski kadang dianggap malas oleh boomer/Foto: Freepik.com/tirachardz
Generasi boomer biasanya fokus pada satu pekerjaan utama dan loyal bertahun-tahun. Gen Z justru kebalikannya, mereka suka punya side job atau pekerjaan sampingan. Bagi boomer, hal ini kadang dianggap tidak fokus dan kurang serius.
Dengan pekerjaan sampingan, Gen Z juga merasa lebih aman secara finansial, apalagi di era ekonomi yang tidak menentu seperti sekarang.
3. Mengutamakan Kesehatan Mental daripada Pekerjaan
![]() Gen Z menjaga kesehatan mental sebagai prioritas/Foto: Freepik.com/tirachardz |
Boomer dikenal sebagai generasi pekerja keras yang rela mengorbankan waktu bahkan kesehatan demi pekerjaan. Gen Z punya pandangan berbeda, mereka berani memprioritaskan kesehatan mental di atas pekerjaan.
Gen Z percaya kalau kesehatan mental yang terjaga justru bisa membuat mereka lebih fokus dan berkualitas dalam bekerja. Mereka tahu bahwa burnout bisa membuat produktivitas menurun drastis, sehingga mencegahnya lebih bijak daripada mengorbankan diri.
4. Meluangkan Waktu untuk Perawatan Diri
Self care bukan perilaku malas, tapi cara Gen Z menjaga keseimbangan hidup/Foto: Freepik.com/Freepik
Perawatan diri jadi salah satu kebiasaan populer di kalangan Gen Z. Mulai dari skincare routine, journaling, yoga, sampai sekadar me time. Bagi sebagian boomer, ritual ini terkesan berlebihan dan buang-buang waktu.
Namun, meluangkan waktu sejenak untuk perawatan diri adalah salah satu cara terbaik menjaga kesehatan otak tetap optimal. Bahkan orang-orang paling sukses pun menyadari pentingnya perawatan diri.
Bill Gates, misalnya, sampai menyisihkan dua minggu dalam setahun untuk menyendiri di hutan demi refleksi, kembali terkoneksi dengan diri sendiri, dan menikmati waktu istirahat yang dia sebut sebagai think week.
Gen Z menyadari kalau mereka tidak bisa selalu produktif tanpa merawat tubuh dan pikiran. Ini yang sering kali salah dipahami oleh generasi sebelumnya.
5. Mengutamakan Kenangan daripada Harta
Gen Z lebih memilih kenangan berharga dibanding harta benda/Foto: Freepik.com/jcomp
Boomer cenderung menilai kesuksesan dari harta dan aset, sementara Gen Z lebih suka menghabiskan uang untuk pengalaman, seperti liburan, nonton konser, atau hangout bersama teman. Bagi boomer, hal ini sering terlihat boros dan tidak visioner.
Riset dari McCombs School of Business di Universitas Texas, Austin, menunjukkan bahwa orang cenderung mendapatkan kebahagiaan jangka panjang lebih besar dari pengalaman dibandingkan dari kepemilikan barang. Gen Z percaya bahwa hidup harus diisi dengan momen bermakna, bukan sekadar menumpuk harta.
Kalau dilihat sekilas, memang kebiasaan Gen Z di atas bisa dianggap "malas" dari kacamata boomer. Namun, kalau dipahami lebih dalam, justru ada nilai positif yang membuat Gen Z lebih adaptif terhadap perubahan zaman.
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

