Belajar dari Kasus Bullying Anak di Tasikmalaya, Apa yang Orangtua Bisa Lakukan?

Nadya Quamila | Beautynesia
Kamis, 28 Jul 2022 09:15 WIB
Ilustrasi ibu dan anak/Foto: Getty Images/iStockphoto/fizkes

Berdasarkan catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), terdapat pengaduan masyarakat terkait perlindungan khusus anak sepanjang 2021 sebanyak 1.138 kasus yang dilaporkan sebagai korban kekerasan fisik dan atau psikis. Jumlah kasus tersebut bukan hanya angka, melainkan nyawa anak-anak yang berjuang menahan pilu serta trauma akibat bullying atau perundungan.

Baru-baru ini yang menjadi sorotan masyarakat Indonesia adalah kasus bullying yang menimpa anak SD berusia 11 tahun di Tasikmalaya.  Akibat perundungan yang dilakukan oleh rekan sebayanya, ia pun akhirnya sakit keras dan meninggal dunia. Mirisnya lagi, video perundungan tersebut disebarkan oleh pelaku dan menjadi viral di media sosial. 

Menurut psikolog Intan Erlita, dampak perundungan tidak hanya menyerang fisik, namun juga psikis. Anak yang menjadi korban bullying bisa mengalami trauma, depresi, ketakutan, hingga yang paling parah menyebabkan meninggal dunia.

"Dalam istilah psikologi ada yang namanya psikosomatis, di mana ketika punya ketakutan, kecemasan, kemudian psikis terserang, maka fisik terbawa. Jadi tidak mau makan, kemudian juga sering merasa ketakutan, berat badan turun, akhirnya imun tubuh turun, akhirnya jadi fisik yang terkena," ungkapnya saat dihubungi Beautynesia pada Selasa (26/7).

Ilustrasi anak korban bullying/ Foto: Getty Images/iStockphoto/kieferpix

Di beberapa kasus, anak yang menjadi korban bullying sering kali enggan atau tidak melapor kepada orangtuanya. Bisa karena malu, takut diancam oleh pelaku, atau takut dimarahi oleh orangtua. Menurut Intan, sangat penting bagi orangtua untuk mengenali anaknya. Karena ketika melihat gelagat atau karakter anak yang berubah, misal dari periang menjadi pemurung, bisa jadi anak sedang merasa tidak nyaman akan sesuatu.

"Memang banyak yang nggak berani ngomong [menjadi korban bullying] karena ancaman, tapi ini lah kenapa orangtua harus kenal sama anak-anaknya, karena ketika anak itu berubah, dari ceria tiba-tiba jadi pemurung, jadi sering nangis, sering ketakutan, nggak nafsu makan, kok dia cemas, ini sebenernya alarm bagi orangtua bahwa ada sesuatu yang bikin anak kita nggak nyaman. Walaupun belum tentu bullying, tapi perubahan karakter pada anak itu menunjukkan ada sesuatu yang tidak nyaman sama dia," paparnya.

Ketika anak belum berani melapor, Intan menyarankan untuk mendekati anak dan membuatnya merasa aman dan nyaman. Setelah anak merasa nyaman, lalu bisa diajak ngobrol. Kepekaan orangtua untuk membaca kondisi anak sangat penting untuk membantu anak ketika ia menjadi korban perundungan.

Ilustrasi korban bullying/ Foto: Getty Images/ljubaphoto

"Kemudian kalo ada perubahan sama anak, dekati, jangan langsung 'kamu kenapa, sih? Kok jadi diam aja? Kenapa jadi nggak mau makan?'. Jadi kita harus amati, kalo emang nggak mau makannya sekali-sekali, bisa jadi lagi nggak mood. Tapi kalau misalnya 2-3 hari nggak mau makan, cenderung di kamar, sering nangis , terus kalo ke sekolah ada aja alasannya, nah ini kan hal-hal yang harus dipikirkan gitu ya. Jadi orangtua juga harus melatih kepekaan.

"Jadi jangan 'wah anak saya nggak ngomong, jadi saya nggak tau' tahunya anak sudah mengalami perundungan yang parah, akhirnya orangtuanya menyesal," tambahnya.

Belajar dari kasus bullying yang sedang jadi sorotan, Intan menekankan bahwa komunikasi dengan anak sangatlah penting. Selalu luangkan waktu dengan anak meskipun memiliki kesibukan, misalnya seperti bekerja.

Ilustrasi ibu dan anak/ Foto: Getty Images/Erdark

"Bukan tentang kuantitas, bukan seberapa banyak, tapi seberapa berkualitasnya. Jadi ada quality time dengan anak," tutur Intan.

Intan juga menyarankan orangtua untuk meluangkan waktu mengantar anak ke sekolah. Hal ini penting untuk mengetahui apakah lingkungan anak kondusif dan aman.

"Lalu sesekali kalo ada waktu luang, antar anak ke sekolah, kenali siapa teman-temannya, ngobrol dan komunikasi dengan pihak sekolah. Ini penting Karena agar orangtua melihat lingkungan anak gimana, apakah oke dan kondusif, jadi orangtua juga ada turun langsung ke kegiatan anak-anak," tutupnya.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Loading ...
Tonton video di bawah ini ya, Beauties!
3 Fakta Tentang Cacar Monyet