sign up SIGN UP

Curhat Ibu dari Siswi yang Diduga Dipaksa Pakai Jilbab di SMAN 1 Banguntapan: Kembalikan Anak Saya Seperti Sediakala

Nadya Quamila | Beautynesia
Jumat, 05 Aug 2022 11:00 WIB
Curhat Ibu dari Siswi yang Diduga Dipaksa Pakai Jilbab di SMAN 1 Banguntapan: Kembalikan Anak Saya Seperti Sediakala
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/tiero
Jakarta -

Beauties, masih ingatkah dengan kasus siswi di SMAN 1 Banguntapan Bantul, DIY, yang alami depresi usai diduga dipaksa mengenakan jilbab di sekolahnya? Baru-baru ini, sang ibu dari siswi tersebut buka suara atas kejadian yang menimpa anaknya.

Sang anak mengaku dipaksa menggunakan jilbab oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK). Ia pun kemudian mengalami depresi akibat paksaan tersebut, sempat tidak mau makan hingga menolak berbicara dengan orangtuanya. Sang ibu merasa sangat sedih melihat anaknya yang mengalami trauma. Ia menuturkan bahwa anaknya bukan anak yang lemah dan bukan sosok yang bermasalah.

"Putri saya adalah anak yang jadi perhatian media di sekolah di sekolah di SMAN1 Banguntapan, Bantul. Bagi kami orangtuanya, dia bukan anak yang lemah atau bermasalah. Dia terbiasa dengan tekanan. Saya dan ayahnya bercerai, namun kami tetap bersama mengasuh anak kami," ungkap sang ibu, dikutip dari siaran pers yang diunggah oleh Yayasan LKiS di akun Twitter, @yayasanlkis, pada Kamis (4/8).

Teen woman with headache holding her head in her living room during the dayIlustrasi/ Foto: Getty Images/ljubaphoto

Pada Selasa (26/7) lalu, sang ibu menerima telepon dari anaknya. Tidak ada sepatah kata pun dari sang anak, yang terdengar hanya suara tangisan. Setelahnya, ibu siswi tersebut membaca pesan WhatsApp yang masuk. Anaknya mengaku ingin pulang dan tidak sanggup lagi bersekolah di sana.

"Pada Selasa, 26 Juli 2022, anak saya menelepon, tanpa suara, hanya terdengar tangisan. Setelahnya baru terbaca WhatsApp, 'Mama aku mau pulang, aku ga mau di sini'. Ibu mana yang tidak sedih baca pesan begitu?" ungkapnya.

Ayah siswi tersebut juga mendapatkan informasi dari guru bahwa sang anak sudah satu jam lebih berada di kamar mandi sekolah usai diduga dipaksa menggunakan jilbab oleh guru BK. Sang ibu pun langsung menjemput anaknya di sekolah yang sudah berada di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dalam kondisi lemas.

"Saya segera jemput anak saya di sekolah. Saya menemukan anak saya di Unit Kesehatan Sekolah dalam kondisi lemas. Dia hanya memeluk saya, tanpa berkata satu patah kata pun. Hanya air mata yang mewakili perasaannya," tambahnya.

Awal masuk sekolah, menurut penuturan sang ibu, anaknya pernah bercerita bahwa ia 'diwajibkan' menggunakan jilbab berserta seragam lengan panjang. Namun, siswi tersebut menyampaikan kepada pihak sekolah bahwa ia tidak bersedia.

Sad young woman sitting on room floor crying with hand over faceIlustrasi/ Foto: Getty Images/iStockphoto/kieferpix

"Awal sekolah dia pernah bercerita bahwa di sekolahnya "diwajibkan" pakai jilbab, baju lengan panjang, rok panjang. Putri saya memberikan penjelasan kepada sekolah, termasuk wali kelas dan guru Bimbingan Penyuluhan, bahwa dia tidak bersedia. Dia terus-menerus dipertanyakan, 'Kenapa tidak mau pake jilbab?'" paparnya.

Sebelumnya pihak SMAN 1 Banguntapan menyebut bahwa guru BK hanya melakukan sebatas tutorial, bukan memaksa siswi tersebut menggunakan jilbab. 

"Itu hanya tutorial, ketika ditanya siswanya belum pernah memakai jilbab nggak. Oh belum. Gimana kalau kita tutorial dijawab manthuk (mengangguk) iya. Mboten nopo-nopo (tidak apa-apa)," ungkap Kepala SMAN 1 Banguntapan Bantul, Agung Istiyanto, dilansir dari detikJatim.

Usai sang siswi mengiyakan, kata dia, guru BK mencari jilbab yang ada di ruangannya untuk mencontohkan. Itu yang ia maksud sebagai komunikasi antara guru dengan siswa setelah mengangguk.

"Terus guru BK-nya mencari jilbab yang ada di ruangannya kan biasanya ada toto toto maka dicontohkan. Kalau saya contohkan mau nggak? Nggak papa, artinya memang ada komunikasi antara guru BK dengan siswanya dan siswanya mengangguk boleh," jelasnya.

Ilustrasi ruang kelas sekolahIlustrasi ruang kelas sekolah/ Foto: Getty Images/iStockphoto/tiero

Namun, menurut pengakuan ibu siswi tersebut, kala itu di ruang Bimbingan Penyuluhan, seorang guru diduga memasang jilbab di kepala anaknya. 

"Ini bukan tutorial jilbab, karena anak saya tak pernah minta diberi tutorial. Ini adalah pemaksaan. Saya seorang perempuan, yang kebetulan memakai jilbab, tapi saya menghargai keputusan dan prinsip anak saya," tuturnya.

Atas kejadian tersebut, sang ibu ingin pihak sekolah, pemerintah setempat, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bertanggung jawab. 

"Saya ingin sekolah SMAN1 Banguntapan, pemerintah Yogyakarta, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bertanggungjawab. Kembalikan anak saya seperti sediakala," ungkapnya.

Sang ibu juga menyorot soal beberapa pihak yang menuduh putrinya memiliki masalah keluarga. Menurutnya, kejadian ini bukan soal masalah keluarga. 

"Beberapa guru menuduh putri saya punya masalah keluarga. Ini bukan masalah keluarga. Banyak orang punya tantangan masing-masing. Guru-guru yang merundung, mengancam anak saya, saya ingin bertanya, punya masalah apa Anda di keluarga sampai anak saya jadi sasaran? Bersediakah bila kalian saya tanya balik seperti ini?" tutupnya.

Hingga saat ini, kasus ini masih terus diselidiki. Kabar terbaru, kepala sekolah dan tiga guru yang terkait dalam dugaan pemaksaan jilbab terhadap seorang siswi di SMAN 1 Banguntapan Bantul dibebastugaskan. Untuk sementara waktu hingga ada kepastian, keempatnya dibebaskan dari jabatan dan tidak boleh mengajar.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id