STATIC BANNER
160x600
STATIC BANNER
160x600
BILLBOARD
970x250

Fenomena Johatsu di Jepang: Alternatif 'Menghilangkan Diri' dari Kenyataan, daripada Bunuh Diri

Fina Prichilia | Beautynesia
Selasa, 15 Mar 2022 19:45 WIB
Fenomena Johatsu di Jepang: Alternatif 'Menghilangkan Diri' dari Kenyataan, daripada Bunuh Diri

Norma sosial 'mengharuskan' seseorang melakukan hal-hal sesuai standar yang dianggap 'baik' di masyarakat. Biasanya, biar tidak ditanya-tanya atau dibahas-bahas kenapa seseorang dianggap belum memenuhi standar masyarakat, maka pilihan untuk menghilang kalau memang ada, mungkin saja akan dipilih.

Hal inilah yang telah terjadi di Jepang, Beauties. Yakni fenomena Johatsu atau 'evaporated people' ---orang-orang yang menguap, yang berarti praktik untuk menghilangkan diri tanpa meninggalkan jejak, karena tekanan yang telah dialami. Bisa itu karena lingkungan pekerjaan maupun sosial.

Orang-orang yang menghilang tersebut, memutuskan untuk pergi ke suatu tempat dan memulai hidup yang baru, bahkan tanpa memberitahu orang terdekat.

Kenapa Pilih Menghilangkan Diri?

Pernahkah kamu merasa nggak nafsu makan saat sedang cemas atau depresi? Nah, ketika seseorang sedang merasa cemas atau depresi, kondisi ini bisa menyebabkan ia nggak merasa lapar.Ilustrasi depresi. /Foto: freepik/yanalya

Takehiko Kariya, seorang profesor sosiologi Masyarakat Jepang di Institut Nissan, Universitas Oxford, dikutip dari laman Time, mengungkap kalau fenomena ini bisa saja juga terjadi di negara lain.

Tapi kenapa eksis terjadi di Jepang? Menurutnya selama bertahun-tahun tradisi di sekolah-sekolah di Jepang telah mendukung kreativitas dan ekspresi murid, tetapi lingkungan sosial dan perkantoran tidak berubah.

Contohnya, lulusan baru yang baru bekerja, 'terjebak' dalam hierarki yang mana mereka tidak diperlakukan dengan baik seperti para seniornya. Selain itu, adanya budaya overwork di Jepang serta durasi waktu libur yang pendek, belum lagi support system yang kurang mendukung.

"Pilih bunuh diri, bekerja sampai mati, atau menghilang begitu saja dan memulai hidup kembali, menghilang tampaknya merupakan pilihan yang lebih baik," kata Jake Adelstein, seorang jurnalis veteran yang berbasis di Jepang kepada Time.

Orang Jepang Beribadah Di Kuil Saat Cap Go Meh/Foto : pinterest.com/Japanko OfficialOrang Jepang Beribadah Di Kuil Saat Cap Go Meh/Foto : pinterest.com/Japanko Official/ Foto: ivanacete

Jepang memang dikenal sebagai negara maju dan disiplin tinggi, Beauties. Tetapi juga ada sisi gelap berupa stres dan depresi dalam menghadapi kenyataan.

Adapun kebanyakan kasus kenapa orang-orang di sana melakukan praktik ini bisa karena dirinya terlilit utang, mengalami kekerasan dalam rumah tangga, persoalan ekonomi, kehidupan pernikahan yang tidak harmonis, jenuh dalam jebakan rutinitas, dan sebagainya.

Praktik Johatsu ini sendiri pun diketahui bisa tetap 'subur' karena ada pihak-pihak yang mendukung. Yakni ada layanan yang bertugas mengatur strategi 'kabur' hingga memastikan kliennya tidak bisa ditemukan keluarganya, dengan memasang tarif yang tidak murah.

---

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(fip/fip)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE