sign up SIGN UP

Fenomena Kasus Pelecehan Seksual, Viral Dulu Baru Dapat Perhatian

Nadya Quamila | Beautynesia
Selasa, 09 Nov 2021 11:45 WIB
Fenomena Kasus Pelecehan Seksual, Viral Dulu Baru Dapat Perhatian
caption
Jakarta -

Dugaan kasus pelecehan seksual yang dialami oleh mahasiswi Universitas Riau (Unri) kini tengah menjadi sorotan.

Berdasarkan pengakuan yang diungkapkan mahasiswi tersebut di video yang diunggah oleh akun Instagram Korps Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UNRI, @komahi_ur, diduga terduga pelaku mencium kening dan pipi kiri mahasiswi saat ia hendak berpamitan selesai bimbingan skripsi.

Hingga berita ini ditulis, video yang diunggah pada Jumat (5/11/2021) ini sudah mencapai 1,7 juta views dan 14,8 ribu komentar. Dugaan kasusĀ pelecehan seksual ini menambah daftar kelam kasus kekerasan pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan kampus dan viral di media sosial.


Penyintas Kerap Ambil 'Jalan Pintas'

Waspada! Kenali tingkatan pelecehan seksual ini agar lebih berhati-hatiPenyintas kerap memilih jalan pintas demi mendapatkan pertolongan/Foto: Pexels/Rodnae Productions


Jika kita telusuri, ada satu pola yang sama dari kasus-kasus pelecehan seksual yang viral ini: adanya gerakan yang kuat dan kolektif dari masyarakat untuk mencari keadilan bagi korban dengan memanfaatkan media sosial.

Fenomena ini seharusnya cukup menjadi tamparan bagi para pembuat kebijakan di negara ini. Korban atau penyintas merasa tidak memiliki jalan lain untuk mencari keadilan.

Masih belum ada mekanisme atau regulasi yang benar dalam menangani kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus. Hal inilah yang mendorong korban atau penyintas akhirnya mengambil 'jalan pintas'.


Belum Ada Regulasi Pencegahan Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus

kekerasan dalam hubunganFenomena kasus pelecehan seksual, viral dulu baru dapat perhatian/Foto: Freepik



Poppy Dihardjo memiliki tanggapan atas fenomena ini. Poppy Dihardjo sendiri dikenal sebagai perempuan yang aktif dalam menyuarakan hak-hak perempuan serta penggagas PenTas (Perempuan Tanpa Stigma) dan gerakan No Recruit List.

Sudah banyak korban atau penyintas yang didampingi Poppy dalam kasus pelecehan seksual. Namun, satu hal yang selalu menjadi perhatiannya adalah banyak korban atau penyintas yang seringkali mengambil jalan pintas.

"Korban atau penyintas speak up di media sosial dengan harapan kasusnya menjadi perhatian dan bisa mendapat keadilan. Hal ini karena nggak banyak kampus yang paham SOP untuk penanganan kasus kekerasan seksual," ungkapnya saat dihubungi Beautynesia.id via telepon pada Senin (8/11/2021).


Viral di Media Sosial Tak Selalu Berujung Baik bagi Korban

Hindari akun-akun negatif di media sosial yang suka melakukan body shaking.Kasus yang viral di media sosial tak selalu berujung baik bagi para korban atau penyintas/Foto: Pexels.com/mikoto.raw


Poppy yang juga bagian dari Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (KOMPAKS) mengungkapkan kegelisahannya ketika suatu kasus dugaan pelecehan seksual menjadi viral, seringkali tidak dibarengi dengan pemetaan risiko dan langkah mitigasi.

"Jika tidak ada pemetaan risiko saat viral di media sosial, korban atau penyintas akan berada di posisi yang rentan dan mudah untuk dilaporkan oleh terduga pelaku," ungkapnya. "Karena bagi kami saat menjadi pendamping, yang kami utamakan adalah korban dan penyintas."

Menurutnya, apa yang dilakukan atas nama keadilan perlu menjunjung tinggi hukum di Indonesia, serta menjunjung tinggi pula hak korban dan penyintas untuk mendapatkan pemulihan atas trauma yang dialami.

Bentuk Pendampingan yang Dibutuhkan Korban atau Penyintas

pelecehan seksualBentuk pendampingan yang dibutuhkan korban atau penyintas/Foto: Pexels.com/Polina Zimmerman


Segala bentuk kekerasan seksual yang dialami korban atau penyintas pasti akan meninggalkan bekas, tidak hanya secara fisik namun juga mental. Dibutuhkan pendampingan atau proses pemulihan agar korban atau penyintas dapat sembuh dari trauma.

Menurut Poppy, setiap korban atau penyintas membutuhkan bentuk pendampingan yang berbeda-beda, tergantung dari seperti apa kondisi yang bersangkutan. "Membutuhkan assessment. Kalau aku biasanya menggunakan psychological first aid."

Melansir dari WHO, psychological first aid atau pertolongan pertama psikologis adalah serangkaian tindakan yang diberikan guna membantu menguatkan mental seseorang yang mengalami krisis.

"Aku ajak ngobrol, apakah saat ini korban atau penyintas mengalami depresi, stres berat hingga tidak bisa tidur, atau merasa tertekan karena skripsinya belum selesai," ujar Poppy.

Jika melihat dari kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami mahasiswa Unri yang kini telah melibatkan aparat penegak hukum, menurut Poppy, korban atau penyintas tidak hanya memerlukan pendampingan psikologis namun juga pendampingan hukum.

"Yang harus kita perhatikan adalah jangan menempatkan korban atau penyintas di posisi yang rentan, seperti rentan terhadap reviktimisasi (kondisi korban menjadi korban lagi). Harus paham betul risikonya dan melangkah secara strategis," tutup Poppy.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id