sign up SIGN UP

Fenomena Pelecehan Seksual: Korban dan Pakaiannya Selalu Disalahkan, Pelaku Lantas Dibebaskan

Meuthia Khairani | Beautynesia
Senin, 28 Mar 2022 09:00 WIB
Fenomena Pelecehan Seksual: Korban dan Pakaiannya Selalu Disalahkan, Pelaku Lantas Dibebaskan
caption
Jakarta -

Beauties, mungkin kamu sudah sering mendengar berita pelecehan seksual terhadap perempuan, namun yang disudutkan dan disalahkan selalu pihak perempuan yang menjadi korban. Komentar seperti, “karena pakaiannya ketat makanya jadi korban!” atau “korban salah karena pamer-pamer aurat!”, dan kalimat lain selalu bernada menyalahkan pakaian perempuan, seolah-olah caranya berbusana yang mengundang nafsu pelaku.

Dilansir dari The Hindu, banyak orang mengatakan bahwa pelecehan seksual terjadi karena korban mengenakan pakaian yang tidak sopan. Bahkan ketika korban melaporkan pelecehan yang menimpa dirinya, ia selalu ditanyakan, “Pakaian seperti apa yang dikenakan?”. Ini menyiratkan victim blaming, seakan-akan korban yang salah.

korban pelecehan seksualIlustrasi korban pelecehan seksual/Foto: Freepik/Jcomp

The Daily Aztec mengungkapkan secara statistik tidak ada bukti yang menunjukkan korelasi antara pelecehan dengan pakaian. Faktanya, seseorang yang memakai pakaian serba tertutup juga bisa menjadi mangsa pria yang tak mampu melawan nafsu.

Fakta tersebut semestinya mendobrak mindset dan sudut pandang masyarakat tentang fenomena pelecehan seksual. Setidaknya, untuk mengurangi trauma emosional bagi korban. Sebab, mempertahankan diri saat dilecehkan dan mengalami trauma sudah menjadi derita tersendiri untuk korban.

Kekerasan dalam pacaranIlustrasi pelecehan seksual/Foto: Pexels.com/rodnae-productions

Selagi perempuan masih dianggap sebagai “objek seksual", maka pemahaman konservatif sebagian besar masyarakat akan terus keliru. Menyalahkan korban hanya akan menjadi pemicu bagi pelaku untuk terus melancarkan kekerasan seksual dan mereka selalu punya kambing hitam untuk menghindari hukuman yang setimpal.

Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya patut disalahkan dan harus bertanggung jawab ketika perempuan mengalami kekerasan atau pelecehan seksual?

Dilansir dari beberapa sumber, berikut adalah pihak yang harus bertanggung jawab:

  1. Pelaku yang tidak mampu mengontrol diri dan memilih untuk melampiaskan hasrat seksualnya adalah sosok yang mestinya bertanggung jawab. 
  2. Pelaku yang tak paham bahwa perempuan adalah anak, kakak, atau adik orang lain yang harus diperlakukan dengan hormat.
  3. Pelaku yang membuat perempuan merasa tidak nyaman, yang berpikir bahwa ekspresi ketidaksukaan perempuan kepada pria bisa menjadi alasan pria tersebut menyerangnya secara seksual.
  4. Pelaku yang berpikir mereka bisa memperkosa dan bisa terhindar dari hukum atau sanksi sosial atas perbuatan asusilanya.
  5. Pelaku yang merasa superior dan menganggap perempuan sebagai objek dalam hal apa pun, termasuk dalam hal seksual.
  6. Pelecehan seksual terjadi karena adanya kekuatan dan kontrol dari pelaku yang memilih untuk melampiaskan nafsunya.
  7. Pemerkosaan terjadi karena niat jahat pelakunya.
Pelecehan Seksual di Metaverse/ Foto: Canva/RyanKing999Ilustrasi korban pelecehan seksual/Foto: Canva/RyanKing999

Kesimpulannya, tidak ada perempuan yang meminta atau mau dilecehkan secara seksual. Kesalahan ada pada orang yang melakukan, bukan korban.

Jadi, untuk memutus rantai pemaksaan seksual pada perempuan, Beauties bisa mengajarkan anak-anak (perempuan maupun laki-laki) sejak kecil  atau lingkungan sekitar untuk menghormati orang lain dan tubuh orang lain.

Stop blaming the victims!

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id