STATIC BANNER
160x600
STATIC BANNER
160x600
BILLBOARD
970x250

Isu Bullying di Korea Selatan Masih Marak, Ini Fakta dan Penyebabnya yang Bikin 'Miris'

Della Oktivia Armitha | Beautynesia
Jumat, 28 Oct 2022 09:00 WIB
Isu Bullying di Korea Selatan Masih Marak, Ini Fakta dan Penyebabnya yang Bikin 'Miris'

Sejak tahun 2021 hingga awal tahun 2022, banyak artis Korea Selatan yang tersandung kasus bullying. Teman sekolah mereka, mengaku pernah menjadi korban bully yang mereka lakukan di masa lalu.

Isu bullying itu, berbuntut dengan pembatalan beberapa project baru yang akan ditangani para artis ternama tersebut. Bahkan, beberapa idol sampai keluar dari K-Pop grup yang membesarkan nama mereka.

Sebagian kasus tersebut diakui oleh para artis, tetapi sebagian lain membantah rumor bullying yang beredar. Kasus bullying yang menyeret para artis Korea, sebagian terkesan masih abu-abu. Namun, dari banyaknya kasus yang beredar, menunjukkan bahwa isu bullying masih marak di Korea Selatan.

Dilansir dari jetsflyover.com, Kementrian Pendidikan Korea Selatan mencatat ada 41,7% siswa yang mendapat kekerasan verbal di lingkungan sekolah. Kemudian, ada 14,5% siswa menjadi korban bully oleh sekelompok siswa lainnya, 12,4% mendapat kekerasan fisik, serta 9,8% menjadi korban cyberbullying.

Cyberbullying juga kerap terjadi di Korea Selatan.
Ilustrasi korban cyberbullying/Foto: istockphoto.com/Jatuporn Tansirimas

Isu bullying di sekolah bahkan tercatat terus meningkat setiap tahunnya. Menurut cosmo.ph, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kementrian Pendidikan Korea Selatan, kasus bullying di tahun 2017 berada di angka 37 ribu kasus.

Angka tersebut terus bertambah, hingga di tahun 2019, tercatat ada 60 ribu kasus bullying yang terjadi. Cosmo.ph juga mencatat, setidaknya ada 3 alasan dari perbuatan tidak menyenangkan ini. Pertama, bullying dilakukan dengan alasan, hanya bercanda.

Kedua, pelaku bullying mengaku tidak mengetahui alasan spesifik mereka melakukan tindakan bullying. Dan yang ketiga, bullying terjadi karena pelaku menganggap korban mereka tampak berbeda.

Pembullyan terus terjadi sepanjang tahun di Korea Selatan.
Ilustrasi pembullyan yang terjadi/Foto: istockphoto.com/Ponomariova_Maria

Meskipun begitu, beberapa sumber menyebutkan bahwa, pem-bully-an kerap terjadi karena pelaku selalu menganggap dirinya paling baik dibandingkan korban. Hal tersebut juga berhubungan dengan kompetisi yang terjadi antar individu. Situasi ini seakan cocok dengan kondisi masyarakat di Korea Selatan.

Di mana para siswa saling berkompetisi untuk menjadi yang terbaik. Mereka akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya dan berada diposisi terkuat.

Jadi, agar mereka terlihat kuat, mereka tidak segan menindas orang lain atau bergabung dengan kelompok penindas yang dianggap kuat. Kondisi ini seakan tergambar jelas dalam alur cerita beberapa K-drama seperti, Sky Castle dan Who Are You: School 2015.

Kasus pembullyan kerap disinggung dalam berbagai judul K-drama.
Adegan pembullyan yang terjadi di drama Who Are You: School 2015/Foto: youtube.com/KBS World TV

Di sisi lain, hukuman yang dianggap kurang tegas juga menjadi alasan terus meningkatnya kasus bullying ini. Dikutip dari creatrip.com, pelaku kasus bullying di Korea Selatan, dikategorikan dalam 9 level.

Di mana sebanyak 29,25% pelaku, dalam kurun waktu 2016-2019, melakukan hukuman di level 1, yakni menulis surat permintaan maaf. Bahkan, kasus bullying bisa terhapus setelah 2 tahun masa kelulusan, untuk menjaga reputasi siswa yang bersangkutan.

Menurut beberapa ahli pendidikan dan politisi, hukuman tersebut dianggap kurang tegas. Sehingga, pelaku tidak mendapat konsekuensi atas perilaku negatif yang sudah ia lakukan. Sedangkan, para korban mendapatkan trauma yang terus menghantuinya sepanjang hidup.

Isu bullying memang terjadi diberbagai negara, termasuk Indonesia. Namun, isu bullying yang terjadi di Korea Selatan terus menarik perhatian, karena sering menyangkut beberapa nama terkenal. Bahkan, tidak sedikit isu ini berujung pada kasus bunuh diri.

Oleh karena itu, rantai bullying harus benar-benar diputuskan, mulai dari diri kita sendiri. Salah satunya, menahan diri untuk tidak mengetik komentar negatif pada orang terdekat maupun selebriti ternama.

Melaporkan kejadian bullying yang diketahui, juga bisa menjadi salah satu cara pencegahan. Yuk, Beauties, ciptakan lingkungan sehat dan ramah, mulai dari diri kita sendiri.

---

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(sim/sim)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE