Jangan Abaikan! Ini 5 Ciri Trauma Bond yang Sering Dianggap Normal
Beauties, dalam hubungan yang terlihat intens dan penuh emosi, ada kalanya rasa sayang, keterikatan, dan pengorbanan justru menjadi tanda hubungan yang menyakitkan secara emosional. Salah satu kondisi yang kerap luput disadari adalah trauma bond, yaitu ikatan emosional kuat yang terbentuk dari pola hubungan tidak sehat.
Banyak orang terjebak di dalamnya karena mengira dinamika tersebut adalah bentuk cinta yang wajar. Trauma bond sering muncul secara perlahan dan tersamarkan oleh momen-momen manis di awal hubungan.
Pola tarik-ulur emosi ini membuat korban terus berharap keadaan akan membaik, meski berulang kali disakiti. Mengenali 6 ciri trauma bond berikut sangat penting agar kamu tidak terus terjebak dalam hubungan yang merugikan kesehatan mental.
1. Mengalami Siklus Love Bombing dan Perlakuan Buruk
![]() Siklus love bombing dan perlakuan buruk menjadi salah satu ciri trauma bond/Foto: Freepik.com/stockking |
Salah satu ciri trauma bond yang paling umum adalah adanya siklus love bombing dan perlakuan buruk. Di awal atau di sela konflik, pasangan bisa bersikap sangat manis, penuh perhatian, dan membuat kamu merasa sangat dicintai.
Namun, fase ini sering diikuti dengan sikap merendahkan, mengontrol, atau menyakiti secara emosional. Pola ekstrem inilah yang membuat hubungan terasa intens dan sulit dilepaskan. Melansir Self, siklus ini memengaruhi respons emosional dan kimia otak, membuat korban terus mengejar kembali fase manis yang pernah dirasakan.
Harapan bahwa pasangan akan kembali seperti dulu membuat perilaku buruk terasa bisa dimaklumi. Padahal, hubungan sehat tidak dibangun dari naik-turun emosi yang menyakitkan, melainkan dari konsistensi dan rasa aman.
2. Sering Merasa Malu atau Bersalah
Perasaan malu dan bersalah berlebihan bisa menjadi ciri trauma bond/Foto: Freepik.com/Freepik
Dalam trauma bond, perasaan malu dan bersalah kerap muncul, bahkan ketika kamu tidak melakukan kesalahan besar. Pasangan bisa memanipulasi situasi hingga kamu merasa bertanggung jawab atas emosi, kemarahan, atau perilaku buruknya. Lambat laun, rasa bersalah ini membuat kamu terus mengalah demi menjaga hubungan tetap berjalan.
Dinamika seperti ini berkaitan erat dengan pola keterikatan tidak aman. Korban trauma bond sering merasa dirinya kurang dan harus berusaha lebih keras agar pantas dicintai. Perasaan bersalah yang terus-menerus ini bukan tanda cinta, melainkan sinyal bahwa hubungan tersebut menggerus harga diri.
3. Mengisolasi Diri dari Teman dan Keluarga
![]() Trauma bond dapat membuat korban mengisolasi diri/Foto: Freepik.com/wavebreakmedia_micro |
Trauma bond juga dapat membuat kamu menjauh dari orang-orang terdekat. Hal ini bisa terjadi karena pasangan secara langsung melarang atau mengkritik lingkungan sosial kamu, atau karena kamu merasa lelah menjelaskan kondisi hubungan yang rumit. Akibatnya, pasangan menjadi satu-satunya tempat bergantung secara emosional.
Isolasi sosial merupakan salah satu tanda bahaya dalam hubungan. Ketika dukungan dari luar berkurang, perspektif menjadi semakin sempit dan korban lebih mudah menerima perlakuan tidak sehat. Hubungan yang sehat seharusnya memberi ruang bagi kamu untuk tetap terhubung dengan teman dan keluarga, bukan memutusnya.
4. Kehilangan Jati Diri dalam Hubungan
Kehilangan jati diri dalam hubungan bisa menjadi ciri trauma bond/Foto: Freepik.com/tirachardz
Ciri trauma bond berikutnya adalah perlahan kehilangan jati diri. Kamu mungkin mulai mengubah cara berpakaian, berpikir, atau mengambil keputusan demi menyesuaikan diri dengan keinginan pasangan. Hal-hal yang dulu kamu sukai terasa tidak lagi penting, selama hubungan tetap bertahan.
Melansir The Attachment Project, kehilangan jati diri sering terjadi pada individu dengan pola keterikatan cemas. Ketakutan akan ditinggalkan membuat seseorang rela mengorbankan kebutuhan dan identitas pribadinya. Padahal, hubungan yang sehat seharusnya memberi ruang untuk tumbuh sebagai individu, bukan menghilangkan siapa diri kamu sebenarnya.
5. Merasa Sulit untuk Meninggalkan Hubungan
|
Merasa sulit pergi meski hubungan menyakitkan merupakan ciri kuat trauma bond/Foto: Freepik.com/rawpixel.com |
Meski menyadari hubungan tersebut menyakitkan, korban trauma bond sering merasa sangat sulit untuk pergi. Ada rasa takut, cemas, atau bahkan panik saat membayangkan hidup tanpa pasangan. Ikatan emosional yang terbentuk dari siklus luka dan rekonsiliasi membuat perpisahan terasa seperti kehilangan besar.
Trauma bond bekerja mirip seperti kecanduan, di mana otak terus mengharapkan hadiah emosional setelah fase menyakitkan. Inilah yang membuat banyak orang bertahan, meski hubungan tersebut tidak lagi membawa kebahagiaan.
Trauma bond sering kali tersembunyi di balik hubungan yang tampak penuh cinta dan pengorbanan. Dengan mengenali ciri-ciri trauma bond sejak dini, kamu bisa lebih jujur pada diri sendiri tentang kondisi hubungan yang sedang kamu jalani.
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

