Jurnalis Julia Hartley-Brewer Dikritik karena Dinilai Bersikap Tidak Sopan & Rasis Saat Wawancara Politisi Palestina

Nadya Quamila | Beautynesia
Selasa, 09 Jan 2024 17:00 WIB
Jurnalis Julia Hartley-Brewer Dikritik karena Dinilai Bersikap Tidak Sopan & Rasis Saat Wawancara Politisi Palestina
Jurnalis Julia Hartley-Brewer Dikritik karena Dinilai Bersikap Tidak Sopan & Rasis Saat Wawancara dengan Politisi Palestina/Foto: Tangkapan Layar/Instagram

Penyiar asal Inggris Julia Hartley-Brewer baru-baru ini mendapat kritik dan kecaman dari publik. Hal ini karena komentar bernada rasis yang ia lontarkan saat mewawancara seorang anggota parlemen Palestina, Mustafa Barghouti, soal serangan yang dilancarkan Israel terhadap Palestina.

Dilansir dari The New Arab, Hartley-Brewer berulang kali meneriaki dan berbicara keras kepada Barghouti selama wawancara di saluran TalkTV Inggris. Selama wawancara, Barghouti mengecam Israel dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas serangan brutal Tel Aviv di Gaza dan dampak mematikan perang tersebut ke Timur Tengah yang lebih luas.

Namun, Hartley-Brewer membela Israel dan menyebut negara tersebut 'demokratis'. Hartley-Brewer juga terlihat gelisah ketika Barghouti tetap terlihat tenang melanjutkan argumennya meski setelah perempuan itu meneriakinya.

"Dan apakah menurut Anda Israel adalah negara demokratis?" tanya Barghouti.

"Saya tahu Israel adalah negara demokratis. Mereka mengadakan pemiilu," jawab Hartley-Brewer.

Ketika Barghouti melanjutkan pembicaraannya, Hartley-Brewer berkata, "Mungkin Anda tidak terbiasa dengan perempuan yang berpendapat."

Komentar Hartley-Brewer itu memicu tuduhan rasisme di dunia maya, dan para pengamat mengatakan bahwa komentar itu seolah beranggapan bahwa pria Arab dan Muslim adalah sosok yang misoginis.

Komentar Rasis Julia Hartley-Brewer terhadap Mustafa Barghouti Tuai Kecaman

Julia Hartley-Brewer

Komentar Rasis Julia Hartley-Brewer terhadap Mustafa Barghouti Tuai Kecaman/Foto: Tangkapan Layar/Instagram

Mendengar komentar bernada rasis dari Hartley-Brewer, Barghouti tampak tidak terpengaruh. Pria itu kemudian menyebut bahwa Hartley-Brewer "menyesatkan masyarakat" dengan narasi ahistoris mengenai pendudukan Israel dan kekerasan di wilayah Palestina.

Tampak tak terima, Hartley-Brewer kembali 'menyerang' Barghouti. Mengakhiri wawancara itu, Hartley-Brewer menyatakan bahwa wawancara Barghouti didorong oleh misogini, dan mengatakan, "Maaf telah menjadi seorang perempuan yang berbicara kepada Anda."

Aksi Hartley-Brewer dikritik netizen sebagai rasis dan tidak profesional, menimbulkan pertanyaan serius mengenai etika jurnalistik dan perlakuan terhadap tamu di platform media.

Selama wawancara, Hartley-Brewer terlihat sangat marah dan berulang kali menyela Barghouti, sehingga politisi itu tidak bisa mengungkapkan pandangannya sepenuhnya.

“Tingkat rasa tidak hormat yang ditunjukkan kepada anggota parlemen Palestina Mustafa Barghouti di sini sangat mengejutkan,” kata peneliti Philip Proudfoot dalam sebuah postingan di X.

[Gambas:Instagram]

Direktur Carnegie Middle East Center Lina Khatib juga menyampaikan kritiknya terhadap aksi Hartley-Brewer. Menurutnya, tindakan Hartley-Brewer sangat tidak profesional dan memalukan.

"Ini sangat tidak profesional, @TalkTV. Siapa pun yang diwawancarai, presenter tidak boleh histeris seperti ini. Pada kesempatan ini, Anda juga menambahkan rasisme yang disamarkan sebagai feminisme. Memalukan melihat standar seperti itu di saluran Inggris," tulis Lina Khatib di akun X-nya.

Editor Majalah Meem, Soumaya Ghannoushi, ikut mengkritik wawancara Hartley-Brewer dengan Barghouti. Ghannoushi menyoroti komentar-komentar merendahkan yang ditujukan Hartley-Brewer kepada Barghouti dan bagaimana komentar-komentar tersebut menyiratkan bahwa ia adalah seorang pria bodoh, yang berasal dari komunitas perempuan yang tidak berpendidikan.

Banyak netizen yang mendesak pengguna media sosial untuk mengajukan keluhan kepada regulator penyiaran Inggris, Ofcom, terkait aksi tidak sopan Hartley-Brewer. Bahkan, muncul sebuah petisi untuk membuat Julia Hartley-Brewer mundur dari posisinya sebagai penyiar.

Wawancara tersebut adalah salah satu dari banyak kejadian di mana tamu atau narasumber berdarah Palestina atau pro-Palestina di platform media Barat mendapati diri mereka dikucilkan oleh penyiar ketika berbicara mengenai apa yang terjadi di Palestina saat ini.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE