Kisah Pilu Bocah Kendari Tewas Tertabrak saat Berjualan Tisu, Janji Bawa Pulang Beras untuk Dimakan Keluarga

Nadya Quamila | Beautynesia
Rabu, 11 Feb 2026 13:15 WIB
Kisah Pilu Bocah Kendari Tewas Tertabrak saat Berjualan Tisu, Janji Bawa Pulang Beras untuk Dimakan Keluarga
Ilustrasi anak/Foto: Freepik

Beauties, beberapa waktu lalu kita berduka soal kabar seorang anak SD berusia 10 tahun di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengakhiri hidupnya. Pemicunya diduga karena anak yang duduk di bangku kelas IV SD itu kecewa dan putus asa lantaran tidak mampu membeli buku dan pena untuk keperluan sekolah.

Tak lama berselang, muncul kisah pilu seorang bocah perempuan berusia 8 tahun di Kendari, Sulawesi Tenggara, yang tewas usai ditabrak alat berat saat berjualan tisu. Bocah bernama Najwa tersebut berjualan tisu karena tidak ada nasi di rumah untuk dimakan keluarganya.

Kecelakaan terjadi di perempatan PLN Wuawua, Jalan KH Ahmad Dahlan Kelurahan Anaiwoi, Kecamatan Kadia, Kendari, Kamis (29/1) malam. Najwa tewas ditabrak kendaraan alat berat jenis loader.

Berjanji Akan Bawa Pulang Beras untuk Dimakan di Rumah Bersama Keluarga

Tangkapan layar seorang ibu menangis histeris sambil memeluk jasad anaknya yang ditabrak alat berat di Kendari.

Tangkapan layar seorang ibu menangis histeris sambil memeluk jasad anaknya yang ditabrak alat berat di Kendari/Foto: Dok. Istimewa

Sebelum kejadian, Najwa berpamitan kepada ibunya. Bocah perempuan tersebut berjanji akan membawa beras untuk dimakan bersama di rumah. Ia ingin pergi keluar menjual tisu karena tidak ada persediaan nasi atau beras di rumah.

"Saat pamit, dia bilang, 'Mak tunggumi, saya bawa pulangkan kita beras sama uang yang banyak'," ujar ibu Najwa, Nurhana kepada wartawan, Sabtu (7/2), dikutip dari detikSulsel.

Najwa sempat duduk di sudut rumah sambil menatap ibunya. Ia sempat berpamitan lama dan mencium tangan ibunya. Bocah tersebut mengambil jibab dan sweater karena merasa kedinginan di luar rumah.

"Dia bilang, 'Mak, tidak adami nasi, tidak adami beras'. Saya bilang cuma sebentar itu untuk adik-adikmu. Dia bilang biarmi, dia mau jual tisu dulu buat beli beras," ungkap Nurhana.

"Pas keluar, dia salim lama sekali. Dia cium tanganku, lalu bilang, 'Mak ciumpi saya lama-lama'. Saya tidak mengerti ternyata itu terakhir kalinya," lanjutnya.

Tak hanya itu, Najwa juga sempat bertaanya kepada ibunya soal penampilannya. Ia bertanya apakah dirinya terlihat cantik atau tidak.

"Dia bilang, 'Mak, saya cantikji kah?' Saya jawab, 'Cantik sekaliko, nak'. Habis itu dia bilang, 'Mak tunggumi, saya bawa pulangkanko beras sama uang yang banyak'," katanya.

Malam itu, Nurhana mengaku tidak memiliki firasat buruk sama sekali. Namun, ia ingat Najwa keluar rumah sambil berjalan mundur, seolah enggan berpisah. Nurhana sempat melarang Najwa untuk pergi ke luar rumah karena hujan dan sudah malam. Tapi Najwa tetap bersikukuh ingin berjualan tisu.

"Dia bilang mau pergi cari uang. Saya sempat larang karena hujan dan malam, tapi dia bilang ndak apaji," tuturnya.

Selepas Magrib, salah satu anak Nurhana datang membawa kabar bahwa kondisi Najwa sudah bersimbah darah. Najwa menjadi korban tabrak lari, ia meninggal setelah ditabrak alat berat, menurut keterangan polisi.

Nurhana langsung pergi ke tempat kejadian, tapi kondisi Najwa sudah tidak bernyawa.

"Setelah salat magrib saya dengarmi kabarnya, adiknya datang bilang Najwa sudah bersimbah darah. Sudah ndak bisami ditolong. Saya angkat dari aspal, sudah tidak bergerak," pungkasnya.

Polisi memastikan Najwa menjadi korban tabrak lari.

"Yang terlibat kecelakaan (menabrak NS) adalah alat berat jenis loader," kata Kasatlantas Polresta Kendari AKP Kevin Fahri Ramadhan kepada detikcom, Minggu (1/2).

Kevin mengungkapkan alat berat tersebut sudah diamankan di Satlantas Polresta Kendari. Polisi ikut mengamankan sopir alat berat tersebut berinisial ZA (26).

Beauties, kisah pilu ini menjadi pengingat pahit bahwa kemiskinan bukan sekadar soal nasib dan kurang kerja keras. Jauh lebih mendalam, ada masalah besar dan telah mengakar bernama kemiskinan struktural.

Bocah 8 tahun itu merasa larangan sang ibu kalah nyaring oleh suara perut yang lapar dan keinginan tulus untuk melihat ada nasi di atas meja makan mereka malam itu. Tak seharusnya seorang anak merasa bertanggung jawab atas dapur yang kosong.

Kejadian ini tentu menjadi tamparan keras dan alarm bagi semua pihak bahwa kegagalan sistem yang tidak berpihak bisa berujung pada nyawa seorang anak yang melayang saat berusaha memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE