sign up SIGN UP

Masih Jadi Ketimpangan, Ini Bentuk Standar Ganda yang Dialami Perempuan, Merugikan dan Batasi Ruang Gerak!

Syalma Namira | Beautynesia
Kamis, 18 Aug 2022 06:15 WIB
Masih Jadi Ketimpangan, Ini Bentuk Standar Ganda yang Dialami Perempuan, Merugikan dan Batasi Ruang Gerak!
caption

Stigma masih hadir di tengah kehidupan sosial, menimbulkan "standar" pada kehidupan. Standar yang tercipta menjadi "norma" sebagaimana manusia bertindak. Namun, beberapa standar justru tumpang tindih dan tidak sesuai dengan realita yang terjadi. Hal ini kerap dialami perempuan yang biasa disebut dengan standar ganda atau double standard.

Standar ganda adalah istilah untuk menggambarkan kondisi di mana penerapan serangkaian prinsip yang berbeda untuk situasi yang pada prinsipnya sama. Di era sekarang, ada berbagai standar ganda yang masih sering dialami perempuan. Berikut ulasannya.

Perempuan yang Pulang Pada Malam Hari Dicap 'Perempuan Nakal', Sementara Pria Dianggap Wajar

Ilustrasi Perempuan Pulang Larut/Foto:Pexels.com/Laurence Hamdy
Ilustrasi Perempuan Pulang Larut/Foto:Pexels.com/Laurence Hamdy

Ada banyak faktor yang membuat seseorang pulang terlambat, misalnya saat lembur bekerja atau urusan urgensi lainnya.

Namun, ini tidak berlaku pada perempuan. Perempuan yang pulang di saat langit sudah gelap, dianggap tidak dapat melindungi diri serta justru memancing predator seksual untuk melakukan kejahatan. Tak jarang, perempuan yang pulang malam hari dicap sebagai 'perempuan nakal'.

Lain halnya ketika pria yang pulang larut. Hal tersebut dianggap lumrah dan bukti pekerja keras atas waktu yang dituangkan untuk bekerja. Stigma ini menjadi standar ganda yang mengganggu aktivitas dan ruang gerak perempuan.

Perempuan Rentan Jadi Korban Kekerasan Seksual, Pelaku Pria Dianggap 'Jantan'

Ilustrasi pelecehan seksual di tempat kerjaIlustrasi pelecehan seksual di tempat kerja/ Foto: Getty Images/iStockphoto/anyaberkut

Kekerasan seksual yang marak terjadi, umumnya dapat menimpa siapapun tanpa memandang gender. Namun berkaca pada data, perempuan selalu menjadi sasaran pertama bagi aksi kejam tersebut.

Menurut SIMFONI PPA, per 1 Januari 2022 terdapat 14.196 kasus kekerasan seksual, di mana 2.193 kasus dialami oleh pria, dan 13.110 dialami oleh perempuan. Hal tersebut menunjukkan perempuan masih rentan menjadi objek seksual.

Sementara itu, ketika pria yang menjadi pelaku pelecehan, malah dianggap bentuk 'kemenangan' dan bentuk 'kejantanan'. Perempuan yang mengalami kekerasan seksual malah mendapatkan stigma serta dikucilkan dari interaksi sosial. 

Perempuan Dituntut Serba Bisa dalam Berumah Tangga

Ilustrasi Ibu Rumah Tangga/Foto:Pexels.com/Gustavo Fring
Ilustrasi Ibu Rumah Tangga/Foto:Pexels.com/Gustavo Fring

Memutuskan untuk membangun keluarga dan berumah tangga merupakan kesepakatan antara dua pasangan. Namun dalam stigma masyarakat, perempuan diminta untuk mengambil segala peran dalam berkeluarga, seperti, mengasuh, memberikan edukasi kepada anak hingga membersihkan dan memelihara rumah.

Apabila perempuan tidak bisa menjalankan tugas tersebut, ia dianggap gagal menjadi seorang istri maupun ibu. Tak pelak, hal tersebut acap kali membuat perempuan depresi dan rawan mengalami kecemasan. Menurut CNN Indonesia, pada 2020, 56 persen perempuan mengalami depresi dengan tugas rumah tangga.

Sementara di sisi lain, pria tidak diwajibkan untuk menguasai segala hal dalam berumah tangga selain mencari nafkah. Adanya ketimpangan dalam pembagian tugas menjadi standar ganda bagi perempuan. Padahal, keputusan berumah tangga adalah keterlibatan dua belah pihak. Bukan hanya pada satu orang.

Berbagai stigma yang melekat pada akhirnya menjadi standar ganda dan merugikan kaum perempuan. Beauties, yuk sama-sama saling mendukung peran perempuan dengan berhenti memberikan standar ganda!

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id