sign up SIGN UP

Mengenal Istilah Sadfishing yang Lagi Tren, Ternyata Bisa Pengaruhi Emosi Orang Lain!

Salsabila Pratiwi | Beautynesia
Kamis, 30 Jun 2022 22:00 WIB
Mengenal Istilah Sadfishing yang Lagi Tren, Ternyata Bisa Pengaruhi Emosi Orang Lain!
caption

Saat ini, media sosial bukan hanya tempat untuk terkoneksi satu sama lain, tetapi juga dijadikan media untuk mengungkapkan perasaan. Yup, mungkin kamu pernah melihat satu postingan yang sangat emosional, entah itu seorang teman yang bercerita tentang kejadian yang sedang dirasakan atau trik promosi dari merek yang menargetkan empati dan simpati dari audiensnya.

Well, hal-hal tersebut sebenarnya sangat dekat dengan perilaku sadfishing, yaitu tindakan untuk menarik perhatian dan simpati orang lain dengan cara melebih-lebihkan. Namun perlu diketahui, tidak semua perilaku di atas termasuk sadfishing, ya!

Lalu, apa yang membedakannya? Yuk, pahami lebih lanjut soal istilah sadfishing berikut ini!

Apa Itu Sadfishing?

Kenali Istilah Sadfishing yang Sedang Tren, Ternyata Bisa Mempengaruhi Emosi Orang Lain
Pengertian Sadfishing/Foto: pexels.com/Karolina Graboswka

Mengacu pada Family Online Safety Institute, sadfishing adalah perilaku di mana seseorang 'memancing' perhatian dan simpati dengan melebih-lebihkan. Sadfishing adalah istilah yang relatif baru yang diciptakan oleh Rebecca Reid pada Januari 2019 lalu.

Rebecca menciptakan kata tersebut setelah membaca postingan di media sosial oleh seorang influencer terkenal yang memposting tentang masalah jerawatnya secara online dan diikuti oleh foto-foto produk sebagai solusinya. Namun, produk ini ternyata adalah sponsor merek berbayar dari produk perawatan kulit. 

Jadi, secara singkat sadfishing ini adalah tindakan memposting hal-hal sedih, sensitif, atau emosional di media sosial untuk memancing simpati dan mendapatkan perhatian.

Mengapa Orang Melakukan Sadfishing?

Kenali Istilah Sadfishing yang Sedang Tren, Ternyata Bisa Mempengaruhi Emosi Orang Lain
Alasan Seseorang Melakukan Sadfishing/Foto: pexels.com/Momstera

Dikutip dari tulisan Malavika Pradeep yang dilansir oleh Screenshot, beberapa kemungkinan penyebab orang menggunakan sadfishing adalah kurangnya perhatian dan kepercayaan diri yang rendah. Keinginan utamanya yakni untuk pujian atau sifat dari narsistik.

Sementara kecemburuan dan kesepian juga ada dalam daftar penyebab terjadinya sadfishing. Satu studi mencatat bagaimana postingan tentang kecemasan dan depresi biasa dilakukan dengan tujuan karena orang cenderung peduli dan lebih memperhatikan para sadfisher. Alasan lain dari sadfishing bisa jadi seseorang merasa tidak nyaman berbagi perasaan dengan teman dekat atau keluarga, dan akibatnya, mereka beralih ke media sosial untuk berbagi. 

Menurut studi yang dikutip dari The Conversation, orang-orang yang dengan sengaja “melakukan sadfishing” harus mengetahui bahwa tindakan mereka berpotensi mempengaruhi kesejahteraan orang lain. Memposting konten yang sangat emosional, seperti tentang masalah kesehatan yang serius, juga dapat menyebabkan pembacanya mengalami kecemasan, tekanan fisik atau mental.

Cara Membedakan Sadfishing

Terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial/ Foto: pexels.com/Mikotoraw PhotographerIlustrasi bermain media sosial/Foto: Pexels.com/Mikotoraw Photographer

Beauties, manusia adalah makhluk sosial yang tentu saja ingin merasa dicintai hingga memiliki rasa aman dan nyaman. Tapi sadfishing dapat dikatakan manipulasi. Meskipun perilaku ini telah menjadi coping mechanism bagi banyak generasi Z, ternyata perilaku ini juga bisa mengaburkan batas antara seseorang yang berpura-pura mengalami masa sulit dan mereka yang sebenarnya hanya ingin mencari perhatian semata,

Lantas, bagaimana caranya membedakan sadfishing dari emosi yang sebenarnya, terutama jika kamu bukan ahli kesehatan mental? Dilansir dari Screenshoot, Dr. Lindsey Giller, seorang psikolog klinis yang berbasis di New York menjelaskan jika seseorang memposting tentang tidak ingin hidup dengan ekspresi langsung atau tidak langsung, seperti “Tidak ada lagi alasan harus hidup” atau “Dunia akan lebih baik tanpaku”, itu harus ditanggapi dengan sangat serius.

Alasannya, membicarakan tentang bunuh diri bisa menjadi permohonan bantuan dan bisa menjadi tanda menuju upaya bunuh diri. Sementara itu, Dr. Shoshana Bennett, psikolog klinis dari California, menyoroti bahwa ketika seorang teman yang biasanya tidak memposting sesuatu yang dramatis tiba-tiba melakukannya, itu bisa menjadi tanda bahwa orang tersebut perlu dukungan dan rujukan untuk bantuan profesional. 

Jika begitu, maka kamu bisa melontarkan kata-kata yang mendukung, sehingga temanmu tahu bahwa ada yang peduli pada mereka dan kamu bukanlah seseorang yang menghakimi mereka.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id