Mengenal Rage Booking, Tren Liburan Spontan karena Lelah dengan Rutinitas

Retno Anggraini | Beautynesia
Sabtu, 18 Jul 2026 12:30 WIB
Dampak Rage Booking
Dampak rage booking/Foto: Magnific.com/lookstudio

Rutinitas yang terasa begitu padat sering kali membuat banyak dari kita mendambakan liburan. Namun, belakangan muncul fenomena baru ketika keinginan berlibur bukan lagi lahir dari rasa antusias, melainkan karena emosi yang sedang memuncak. Fenomena ini dikenal sebagai rage booking.

Rage booking tidak bisa dianggap sepele karena sering kali berujung pada penyesalan finansial dan waktu. Sebelum menyesal karena telah memesan tiket perjalanan di tengah emosi yang tidak stabil, yuk, cari tahu dulu apa itu rage booking dan bagaimana cara menghindarinya berikut ini!

Apa Itu Rage Booking?

Rage booking merupakan keputusan memesan liburan secara spontan akibat emosi negatif, bukan karena keinginan menikmati perjalanan.
Pengertian rage booking/Foto: Pexels.com/Yan Krukau

Melansir USA Today, istilah rage booking mengacu pada kebiasaan memesan perjalanan secara impulsif karena sedang diliputi emosi negatif. Alih-alih merencanakan liburan dengan matang, kita langsung membeli tiket atau memesan akomodasi sebagai bentuk pelarian dari rasa marah, kecewa, stres, atau kelelahan yang sedang dirasakan.

Fenomena ini semakin banyak ditemukan dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan tren ini paling banyak ditemukan pada kelompok milenial yang menjadikan liburan sebagai cara tercepat untuk "kabur" dari tekanan hidup.

Alasan Rage Booking Semakin Banyak Terjadi

Penyebab rage booking/Foto: Magnific.com/tirachardz

Tingginya tingkat stres menjadi salah satu penyebab utama munculnya fenomena rage booking. Tekanan pekerjaan, tuntutan finansial, rutinitas yang padat, hingga minimnya waktu untuk beristirahat membuat banyak orang merasa benar-benar membutuhkan jeda.

Akibatnya, liburan sering kali dianggap sebagai jalan keluar tercepat untuk melepaskan diri dari berbagai tekanan yang sedang dihadapi. Penelitian Hilton menunjukkan bahwa 56 persen wisatawan global menjadikan istirahat dan memulihkan tenaga sebagai alasan utama melakukan perjalanan pada 2026.

Selain dipicu oleh burnout, rage booking juga dipengaruhi oleh cara kerja otak saat kita berada dalam kondisi emosional. Ketika kadar hormon kortisol meningkat akibat stres berkepanjangan, fungsi prefrontal cortex yang berperan dalam pengambilan keputusan rasional menjadi menurun.

Tanda Seseorang Terjebak Rage Booking

Keinginan kabur dari masalah, minim riset, hingga memesan perjalanan saat emosi sedang tidak stabil merupakan tanda-tanda rage booking yang perlu diwaspadai.
Tanda-tanda rage booking/Foto: Magnific.com/rawpixel.com

Tidak semua keputusan liburan mendadak termasuk rage booking. Namun, ada beberapa tanda yang bisa membantu kita mengenalinya. Salah satunya adalah munculnya rasa ingin segera pergi dari situasi yang sedang dihadapi, bukan karena benar-benar antusias menjelajahi destinasi baru.

Selain itu, orang yang sedang melakukan rage booking biasanya tidak melakukan riset terlebih dahulu mengenai tujuan wisata. Mereka cenderung memilih destinasi pertama yang muncul, tanpa mempertimbangkan aturan visa, biaya perjalanan, waktu tempuh, maupun agenda selama liburan.

Ada pula yang memesan tiket ketika sedang menghadapi konflik pribadi, patah hati, tekanan pekerjaan, bahkan larut malam saat emosi belum stabil. Jika beberapa kebiasaan tersebut terasa familier, bisa jadi keputusan traveling yang kita ambil lebih dipengaruhi oleh emosi daripada kebutuhan sebenarnya.

Dampak Rage Booking

Dampak rage booking/Foto: Magnific.com/lookstudio

Sekilas, rage booking memang terasa menyenangkan karena memberikan harapan akan suasana baru yang jauh dari rutinitas. Namun, rasa lega tersebut sering kali hanya berlangsung sementara. Setelah emosi mulai mereda, tidak sedikit orang yang justru menyadari bahwa keputusan tersebut diambil tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan, jadwal pekerjaan, atau kebutuhan lainnya.

Akibatnya, sebagian orang memilih membatalkan perjalanan dan harus menanggung biaya pembatalan. Ada juga yang tetap berangkat, tetapi merasa pengeluaran yang dikeluarkan terlalu besar dibandingkan manfaat yang diperoleh.

Meski liburan dapat membantu tubuh dan pikiran beristirahat untuk sementara waktu, akar permasalahan seperti burnout, beban kerja berlebihan, atau konflik pribadi biasanya tetap ada ketika liburan selesai. Karena itulah, perjalanan tidak selalu menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi tekanan emosional.

Cara Menghindari Rage Booking

Menghindari rage booking bisa dilakukan dengan memberi waktu sebelum membeli tiket, mengelola emosi, berdiskusi dengan orang terpercaya, serta merencanakan liburan dan anggarannya sejak awal.
Cara menghindari rage booking/Foto: Magnific.com/rawpixel.com

Sebelum menekan tombol pembayaran, ada baiknya memberi jeda sejenak pada diri sendiri. Para ahli menyarankan untuk menunggu satu hingga dua hari sebelum mengambil keputusan besar terkait perjalanan. Waktu singkat tersebut dapat membantu emosi mereda sehingga keputusan yang diambil menjadi lebih rasional.

Selain itu, cobalah menenangkan diri dengan berjalan santai, melakukan latihan pernapasan, atau menulis jurnal ketika rasa penat mulai memuncak. Berdiskusi dengan keluarga atau teman juga bisa menjadi cara sederhana untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih objektif.

Jika keinginan berlibur muncul setiap kali stres datang, mungkin yang sebenarnya dibutuhkan bukan tiket pesawat, melainkan waktu istirahat yang cukup, pembagian beban kerja yang lebih sehat, atau dukungan dari orang-orang terdekat. Merencanakan dana liburan secara bertahap juga menjadi pilihan yang lebih bijak agar perjalanan terasa menyenangkan tanpa menambah tekanan finansial.

Sebelum buru-buru memesan tiket karena emosi sedang memuncak, cobalah bertanya pada diri sendiri apakah yang dibutuhkan benar-benar liburan atau justru waktu untuk beristirahat dan memperbaiki keseimbangan hidup. Tiket pesawat memang bisa membawa kita ke tempat baru, tetapi ketenangan yang sesungguhnya tetap berawal dari cara kita mengelola stres dan menjaga diri dengan lebih baik.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE