sign up SIGN UP

Mengenal Self Blaming: Kondisi Menyalahkan Diri Secara Berlebihan dan Ini Tips Mengatasinya

Budi Rahmah Panjaitan | Jumat, 25 Jun 2021 07:00 WIB
Mengenal Self Blaming: Kondisi Menyalahkan Diri Secara Berlebihan dan Ini Tips Mengatasinya
caption

Ladies, apakah kamu pernah menyalahkan diri sendiri secara berlebihan karena suatu hal? Baik itu karena pencapaian yang tidak sesuai dengan harapan ataupun perasaan bersalah kepada orang lain, yang berujung pada ketidakmampuan diri untuk memaafkan diri sendiri. Jika ya, maka bisa dikatakan bahwa kamu sudah melakukan tindakan self blaming.

Adapun konteks dalam hal ini mengarah pada perlakuan menyakiti diri sendiri secara emosional dan tidak pantas. Padahal, jika dibiarkan, hal ini sangat tidak baik untuk kesehatan mental dan emosional, lho. Untuk itu, kamu perlu mengenal apa itu self blaming dan tips untuk mengatasinya. Simak selengkapnya di bawah ini.

Apa Itu Self Blaming?

Ilustrasi self blaming merupakan tindakan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan/freepik.com
Ilustrasi self blaming/freepik.com

Self blaming merupakan tindakan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan atau juga bisa dikatakan sebagai pelecehan emosional yang tidak pantas. Bahkan, tidak sedikit pula yang menyebutnya sebagai pelecehan emosional tertinggi dan paling toxic. Hal tersebut bukan tanpa alasan, mengingat self blame dapat memperkuat rasa kekurangan dalam diri, baik itu secara nyata maupun imajiner serta menghentikan langkah untuk dapat memulai sesuatu yang bisa membuat hidup lebih maju.

Biasanya, self blaming ini memiliki rentetan peristiwa  yang diawali dengan kejadian yang tidak diinginkan menimpa diri sendiri maupun orang lain. Terlebih lagi orang lain yang dimaksud tersebut merupakan orang terkasih dan disayangi. Hal ini disebut sebagai negative event yang kejadiannya bisa dipicu kelalaian maupun hal yang di luar kendali.

Atas kesalahan yang terjadi tersebut kemudian muncul perasaan bersalah, baik itu muncul secara alamiah dari dalam diri maupun atas dorongan dan anggapan orang lain atas diri sendiri. Pada akhirnya, hal ini memunculkan persepsi serta emosi yang secara terus menerus menyalahkan diri disertai perasaan sedih dan juga takut. Self talk pun akan menjadi negatif. Misalnya saja ungkapan “ini semua gara-gara aku...” Meski demikian, karakter yang berbeda pada masing-masing diri juga menentukan seberapa besar intensitas untuk menyalahkan diri sendiri.

Penyebab Self Blaming

Ilustrasi menyalahkan diri sendiri bisa disebabkan pencapaian yang tidak sesuai harapan/freepik.com
Ilustrasi menyalahkan diri sendiri/freepik.com

Bukan tanpa sebab, self blame bisa hadir karena adanya beberapa hal. Pertama karena standar yang ditetapkan oleh diri sendiri kepada suatu hal belum sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Ini juga menunjukkan bahwa tidak ada idealisme yang sempurna di dunia ini.

Kedua, disebabkan oleh anggapan bahwa sesuatu yang sedang dilakukan menjadi tanggung jawab diri sepenuhnya dan bisa dikendalikan 100%. Padahal nyatanya, seberapa besar pun tanggung jawab yang ada pada diri terhadap suatu hal, tidak serta merta hasilnya bisa dikendalikan. Ingat, banyak hal-hal di luar kontrol yang seringkali mempengaruhi proses dan hasil akhir.

Ketiga, bisa disebabkan oleh karakter diri secara personal dan lingkungan sekitar yang toxic. Setiap orang tentu memiliki level yang berbeda dalam hal mengkritik diri. Beberapa di antaranya bisa saja cenderung lebih dominan untuk menyalahkan diri dibandingkan yang lainnya. Sementara, untuk lingkungan juga berpengaruh karena bisa mempengaruhi mindset jika terus-terusan di-judge sebagai penyebab masalah.

Namun Ladies tidak perlu khawatir, self blaming ini bisa dikelola supaya tidak menimbulkan masalah emosional maupun psikologis. Berikut tips nya.

1. Menanamkan Mindset yang Tepat

Menanamkan mindset yang tepat penting untuk menepis self blaming/freepik.com
Menanamkan mindset/freepik.com

Tips pertama adalah menanamkan mindset yang tepat. Adapun mindset yang dimaksud di sini adalah mindset bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Beberapa di antaranya hanya bisa diusahakan, namun untuk hasil akhirnya banyak hal di luar kendali yang bisa mempengaruhi.

Dengan mindset seperti ini, diri bisa menyadari bahwa ada perbedaan antara tanggung jawab dengan hasil akhir yang tidak seharusnya terlalu dikhawatirkan. Cobalah menerima bahwa hal-hal yang di luar kontrol merupakan suatu hal yang lumrah. Tidak seharusnya diri merasa bisa mengendalikan segala sesuatunya, termasuk hasil akhir yang akan terjadi.

2. Menyadari Perubahan Emosi

Perubahan emosi harus disadari supaya tidak menyalahkan diri sendiri/freepik.com
Perubahan emosi/freepik.com

Selanjutnya adalah menyadari perubahan emosi. Banyak yang tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan self blaming atau menyalahkan diri sendiri. Oleh sebab itu, penting untuk menyadari setiap perubahan emosi yang terjadi dalam diri. Agar lebih mudah melakukannya, cobalah self talk dan rasakan segala sesuatunya dengan tenang.

Apabila mendapati ada gejala untuk menyalahkan diri sendiri atas hasil di luar kendali, maka sudah sepatutnya untuk mengambil tindakan yang tepat dengan memberikan afirmasi positif pada diri. Jika masih kesulitan dengan ini, maka bisa meminta bantuan teman atau orang terdekat. Mintalah pendapat jujur mereka tentang kamu.

3. Melatih Self Compassion

Self compassion penting dilakukan supaya tidak mudah menyalahkan diri/freepik.com
Self compassion/freepik.com

Self compassion atau welas asih pada diri juga sangat penting untuk diterapkan supaya tindakan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan bisa berangsur hilang. Jangan menyalahkan diri terlalu keras maupun menghakimi diri sendiri terlalu sering ya, Ladies.

Pahamilah bahwa orang pertama yang seharusnya bersikap baik terhadap dirimu adalah dirimu sendiri. Selain itu, terimalah setiap kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri. Jangan terpaku kepada penilaian orang lain terhadap diri karena pada dasarnya setiap orang terlahir dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

4. Menempatkan diri di Lingkungan yang Konstruktif dan Positif

Lingkungan positif bisa menjadikan diri terhndar dari self blame/freepik.com
Lingkungan positif/freepik.com

Nah, satu lagi yang tidak kalah penting adalah menempatkan diri di lingkungan yang konstruktif dan positif. Tidak bisa dipungkiri, circle yang dijalani dalam keseharian sangat mempengaruhi cara bersikap dan mindset. Oleh karenanya, jika merasa berada pada circle yang toxic, cobalah untuk keluar.

Itu adalah keputusan yang tepat. Sebaliknya, carilah lingkungan yang bisa membangun emosi positif dan pandangan yang lebih baik terhadap suatu hal. Ini akan membantu untuk menghilangkan self blaming atau menyalahkan diri sendiri secara berlebihan.


Our Sister Site

mommyasia.id