Mengenal Vivi Lin, Pendiri Museum Menstruasi Pertama di Asia

Sri Purwantiningrum | Beautynesia
Kamis, 10 Sep 2026 07:00 WIB
Mengenal Vivi Lin, Pendiri Museum Menstruasi Pertama di Asia
Profil Vivi Lin, sosok inspiratif pendiri museum menstruasi fisik pertama di Asia/ Foto: Social Enterprise World Forum (SEWF)

Beauties, pernahkah kamu merasa canggung saat mau beli pembalut atau mendengar orang memakai kata ganti tertentu untuk menyebut menstruasi? Ternyata, rasa tabu ini adalah masalah global.

Di Amerika Serikat, lebih dari separuh perempuan pernah merasa malu karena menstruasi, dan di Inggris, hampir setengah anak perempuan pernah bolos sekolah karenanya. Di Taiwan sendiri, diperkirakan ada puluhan kata ganti rahasia agar orang tidak menyebut kata "menstruasi".

Namun, ada satu sosok inspiratif asal Taiwan bernama Vivi Lin yang berani melawan tabu ini hingga mendirikan museum menstruasi pertama di Asia! Dirangkum dari laman Forbes, The Diana Award, Taiwan Panorama, dan Taipei Times, yuk, simak kisah perjalanan Vivi Lin yang sangat inspiratif berikut ini!

Berawal dari Duri di Hati

Vivi Lin mengubah pengalaman dibungkam dan rasa sakit menjadi energi positif untuk kesetaraan menstruasi/ Foto: Instagram/vivilin0510

Perjalanan Vivi bermula dari pengalaman dirinya sendiri. Saat mendapat menstruasi pertamanya di usia 13 atau 14 tahun, ibu, nenek, dan gurunya justru mewanti-wanti agar ia tidak membicarakannya secara terbuka. Alih-alih diedukasi, ia merasa dibungkam.

Vivi mengibaratkan pengalaman tersebut serta perjuangan panjangnya menghadapi masalah kesehatan sistem reproduksi seperti duri yang menancap di hatinya. Namun, ia tidak menyerah, rasa sakit itu diubahnya menjadi energi positif untuk memperjuangkan kesetaraan gender dan pandangan positif tentang menstruasi.

Lahirnya With Red sebagai Aksi Nyata

Aksi nyata pendistribusian produk menstruasi gratis oleh With Red/ Foto: Taiwan Panorama/With Red

Sadar tak bisa bergerak sendiri, Vivi mendirikan organisasi non-profit With Red pada 2019. Gerakan edukasi mereka sangat komprehensif. Mereka telah menjangkau lebih dari 90 institusi pendidikan, dan berhasil membantu National Taiwan University membuka mata kuliah khusus menstruasi pertama di tingkat universitas di Asia.

Bersama berbagai sektor, mereka memengaruhi lebih dari 20 perubahan kebijakan publik. With Red juga sangat vokal melawan mitos kuno, seperti menolak sebutan yang menyiratkan rasa malu terhadap menstruasi.

Riset mereka menemukan 9 persen populasi di Taiwan mengalami period poverty (kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan atau tidak punya akses terhadap produk sanitasi menstruasi). Mengatasi hal ini, With Red telah mendistribusikan lebih dari 350 ribu produk menstruasi gratis, termasuk di fasilitas publik seperti MRT Taipei hingga bantuan darurat ke Ukraina.

Museum Menstruasi dan Kepingan Sejarah Nenek

Red House Period Museum di Taipei yang menjadi ruang edukasi sekaligus simbol perlawanan terhadap stigma/ Foto: Instagram/vivilin0510

Puncak inovasi Vivi terwujud lewat pembukaan Red House Period Museum di Taipei pada 2023. Bangunan berfasad merah menyala ini didedikasikan sepenuhnya untuk segala hal tentang menstruasi, sekaligus sebagai simbol perlawanan nyata terhadap stigma.

Di lantai satu, pengunjung disuguhi instalasi anatomi yang imut dan toko suvenir unik seperti teh celup berbentuk pembalut untuk menormalkan isu menstruasi. Di lantai dua, suasananya berubah emosional dengan pameran berbagai kisah nyata. Mulai dari mitos larangan menyentuh tanaman saat haid, trauma siswi yang diperiksa paksa oleh gurunya untuk membuktikan ia benar-benar haid, hingga kisah kelam perempuan yang menahan lapar demi menghemat pembalut.

Selain itu, museum ini juga merawat sejarah lintas generasi melalui proyek The Women (Granny's Period). Uniknya, proyek ini berawal saat Vivi ditegur seorang nenek karena membahas haid di ruang publik, yang malah berujung pada curhatan sang nenek tentang pengalaman haid di masa mudanya. Menyadari bahwa sejarah pengelolaan menstruasi perempuan lansia Taiwan belum pernah didokumentasikan, Vivi pun menjadikan sejarah lisan ini sebagai pameran permanen agar kepingan kisah perempuan tidak hilang.

Bermimpi untuk Membubarkan Diri

Meraih berbagai penghargaan internasional, Vivi Lin bermimpi suatu hari nanti organisasinya tidak lagi dibutuhkan/ Foto: Taiwan Panorama/Jimmy Lin

Berkat dampak nyatanya, Vivi masuk daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2024 kategori Social Impact dan memenangkan Diana Award 2021. Uniknya, Vivi memiliki filosofi bahwa organisasinya sejak awal sengaja berjalan menuju misi purna tugas.

Vivi sangat berharap suatu hari nanti, dunia sudah tidak lagi membutuhkan kehadiran organisasi seperti With Red. Ia bermimpi kesetaraan menstruasi sudah benar-benar terwujud dan mengakar di masyarakat, sehingga isu dan stigma ini hanya akan tertinggal sebagai catatan di buku sejarah.

Vivi juga berpesan bahwa perjalanan ini memang panjang, namun yang terpenting adalah langkah bersama. "Menstruasi seharusnya tidak pernah menghalangi pilihan, aspirasi, atau kesejahteraan siapa pun," tegasnya.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE