sign up SIGN UP

Menilik Anggapan Perempuan adalah Makhluk yang Lebih 'Emosional' Dibanding Pria, Benarkah?

Syalma Namira | Beautynesia
Jumat, 23 Sep 2022 09:30 WIB
Menilik Anggapan Perempuan adalah Makhluk yang Lebih 'Emosional' Dibanding Pria, Benarkah?
caption

Beauties, apakah kamu pernah mendengar istilah perempuan lebih emosional daripada pria?  Salah satunya misalkan, di saat kedua gender tersebut dihadapkan pada situasi yang menguji kesabaran, pihak pertama yang pasti ditenangkan dengan kata "sabar" adalah perempuan.

Tidak mengherankan lagi, namun cukup membuat bertanya-tanya, ya, Beauties. Mengapa identiknya selalu perempuan? Padahal, emosi adalah sesuatu yang dimiliki oleh manusia sejak lahir yang mempunyai peran yang berbeda-beda. Mengutip laman Glamour Magazine, emosi menjadi stimulus atau alarm manusia dalam merespons sesuatu. Sehingga, sifat emosi tidak ada yang lebih baik atau buruk. Emosi berbentuk netral dan memiliki fungsi di setiap jenisnya.

Kenali Istilah Sadfishing yang Sedang Tren, Ternyata Bisa Mempengaruhi Emosi Orang LainIlustrasi/Foto: Pexels.com/Karolina Graboswka

Walau emosi secara ilmiah bersifat netral berdasarkan kajian studi, stigma perempuan merupakan gender yang lebih “emosional” dibanding gender lainnya masih tertanam pada interaksi sosial. Stigma yang hadir tidak hanya menjadi anggapan yang tidak berdasar, namun hal tersebut turut melukai keberadaan dan peran perempuan.

Melansir dari Glamour Magazine, stigma yang dialami perempuan tersebut berdampak dalam mengganggu individu ketika melakukan kegiatan atau berinteraksi dengan sesama. Tercipta pola pikir “perempuan lebih emosional” mengarah pada gender tersebut lebih “rentan” di antara gender lainnya.

Contoh studi kasus, survei yang dilakukan di Inggris pada 2021, tercatat 184 ribu orang yang berbagi mengenai kisah asmaranya. Jumlah responden menunjukkan dari angka tersebut tercatat lebih dari setengah pria secara terbuka menyampaikan isi hatinya daripada perempuan.

Hal tersebut membuktikan, emosi tidak hanya dirasakan oleh perempuan, melainkan gender lain seperti pria juga turut merasakan. Selain itu studi di Inggris pada 2019 juga turut melakukan survei korelasi gender, emosi, dan fungsi biologis. Hasilnya, belum ditemukan jawaban pasti antara fungsi anatomi biologis perempuan dengan emosi memiliki sebab yang kuat.

Emosi Itu Netral Serta Tidak Berkonotasi Negatif, Tidak Ada Gender yang Lebih “Emosional”

Emosi merupakan bentuk respons diri/Foto:Pexels.com/Ketut Subiyanto
Emosi merupakan bentuk respons diri/Foto:Pexels.com/Ketut Subiyanto

Pemahaman mengenai gender dan emosi, perlu diedukasi dan diperkenalkan lebih dekat dengan masyarakat. Ketimpangan peran dan tugas yang terjadi akibat stigma tersebut menjadi standar ukur tak kasat mata yang membatasi gerak salah satunya menjadi tidak bebas untuk bersuara bahkan mengambil peran.

Seorang professor psikologi bernama Addis, dari Clark University, mengungkapkan pandangan konsep gender tradisional, menciptakan toksik maskulinitas yang menuntut pria untuk tidak berekspresi terhadap emosi yang ia rasakan. Hal ini menjadikan pria dianggap lebih rasional daripada perempuan. Padahal, hal tersebut, justru membuat pria menjadi tidak mengerti dan merasakan emosi yang ada pada dirinya.

Namun, ketika perempuan marah, hal tersebut dianggap sebagai “naluriah” perempuan  sebagai manusia yang “emosional”. Sebaliknya ketika pria marah, emosi yang mereka luapkan adalah bentuk perasaan yang disebabkan oleh latar belakang yang “jelas” atau logis. Sementara perempuan mendapat stigma marah merupakan “tabiat”.

Meluapkan Emosi Bukan Tanda Lemah atau Kekuasaan

Meluapkan emosi merupakan bentuk penyadaran diri/ Foto:Pexels.com/Karolina Grabowska
Meluapkan emosi merupakan bentuk penyadaran diri/ Foto:Pexels.com/Karolina Grabowska

Beauties, ketika kamu menangis, bahagia, kecewa, hingga marah, semua emosi tersebut merupakan hal yang wajar untuk dirasakan. Hadirnya, emosi menjadi respons bagi diri dalam menanggapi sesuatu serta membantumu dalam menentukan pilihan. Emosi pun juga membantumu dalam mengenali jenis karakter manusia yang beragam.

Tidak ada manusia di muka bumi ini dilahirkan tanpa emosi. Bahkan, sejak lahir ke dunia, seorang bayi meluapkan emosinya dengan menangis agar mampu disadari kehadirannya di dunia oleh sang orang tua.

Soraya Chemaly, penulis buku Rage Becomes Her, mengungkapkan emosi menjadi media pembelajaran bagi manusia dalam mengerti satu sama lain. Emosi sendiri terbentuk atas berbagai faktor serta setiap faktornya masih terus dalam proses kajian dan pembelajaran sebab keadaan psikis seseorang bersifat dinamis.

Stigma mengenai perempuan lebih emosional dari gender lainnya, rupanya belum terbukti. Emosi bersifat netral dan menjadi respons alamiah bagi setiap orang tanpa memandang gender ya, Beauties!

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id