Perempuan Gaza Terpaksa Minum Obat Penunda Menstruasi di Tengah Gempuran Israel

Nadya Quamila | Beautynesia
Selasa, 31 Oct 2023 07:30 WIB
Terpaksa Tidak Makan Agar Tidak Menggunakan Toilet
Foto: AFP via Getty Images/MOHAMMED ABED

Jumlah korban tewas akibat gempuran Israel ke Gaza Palestina mencapai 8.005 orang dan melukai lebih dari 20.200 orang lainnya. Sebagian besar korban tewas di Gaza merupakan anak-anak dan perempuan.

Menurut badan bantuan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), lebih dari 613 ribu dari 1,4 juta pengungsi di Gaza berlindung di fasilitas UNRWA di seluruh wilayah yang diblokade, termasuk sekolah-sekolah.

Namun, padatnya pengungsi, kurangnya privasi dan sanitasi yang tidak memadai membuat pengungsi di sekolah-sekolah ini berisiko terkena berbagai risiko kesehatan. Fasilitas kebersihan yang terlalu padat dan tidak sesuai di akomodasi sementara telah menyebabkan berjangkitnya penyakit kudis dan cacar di kalangan pengungsi.

Beberapa sekolah UNRWA telah menjadi sasaran atau mengalami kerusakan akibat serangan udara Israel di sekitar sekolah tersebut.

Dengan adanya serangan terhadap sekolah di kamp pengungsi al-Maghazi, yang menyebabkan puluhan orang terluka, jelas bahwa sekolah mungkin bukan tempat perlindungan yang diharapkan oleh lembaga-lembaga kemanusiaan.

Kurangnya kebersihan dasar, terutama bagi perempuan, menambah kondisi yang buruk, terutama ketika menstruasi. Perempuan di Gaza dilaporkan terpaksa mengonsumsi obat penunda menstruasi.

Tak Hanya Sakit Fisik saat Menstruasi, Ada Pula Tekanan Psikologis

GAZA CITY, GAZA - OCTOBER 17: Palestinian women carry their bottles of water after Israeli authorities have ceased supplying electricity, water and food as Israeli airstrikes continue in Gaza Strip on October 17, 2023. (Photo by Ali Jadallah/Anadolu via Getty Images)

Perempuan di Gaza Terpaksa Minum Obat Penunda Menstruasi di Tengah Gempuran Israel/Foto: Anadolu via Getty Images/Anadolu Agency

Ketika menstruasi, beberapa perempuan harus menghadapi beberapa ketidaknyamanan, seperti sakit kepala, nyeri sendi, nyeri perut dan punggung. Bagi perempuan Gaza, rasa sakit tidak hanya soal fisik. Namun ada pula tekanan psikologis, seperti rasa cemas dan ketakutan terus-menerus akibat gempuran dari Israel.

“Mengalami menstruasi saat mengungsi di sekolah penampungan terasa seperti mimpi buruk,” kata seorang perempuan bernama Noor kepada Al Jazeera. “Tidak ada selimut, tidak ada kasur yang nyaman, tidak ada pembalut, tidak ada obat pereda nyeri, dan tidak ada akses air panas untuk membuat minuman yang menenangkan."

“Beberapa anak perempuan di tempat penampungan ini terpaksa meminum obat untuk mencegah menstruasi mereka, dengan tujuan untuk menghindari rasa malu dan rasa sakit yang bertambah,” tambahnya.

Bagi mereka yang sedang menstruasi tetapi tidak memiliki akses terhadap produk sanitasi, mereka terpaksa mencuci dan menggunakan kembali pembalut yang telah dipakai sebelumnya. Hal ini tentu bisa membahayakan kesehatan mereka karena potensi kontaminasi.

Terpaksa Tidak Makan Agar Tidak Menggunakan Toilet

TOPSHOT - Palestinian women with their children fleeing from their homes following Israeli air strikes rush along a street in Gaza City on October 11, 2023. At least 30 people have been killed and hundreds wounded as Israel pounded the Gaza Strip with hundreds of air strikes overnight, a Hamas government official said on October 11. Israel declared war on Hamas on October 8 following a shock land, air and sea assault by the Gaza-based Islamists. (Photo by MOHAMMED ABED / AFP) (Photo by MOHAMMED ABED/AFP via Getty Images)

Foto: AFP via Getty Images/MOHAMMED ABED

Di sekolah UNRWA lainnya di al-Maghazi, Amal bersama suami dan ketiga putranya yang masih kecil berjuang untuk mendapatkan kebutuhan dasar.

Meskipun UNRWA terus memberikan sejumlah bantuan di tempat penampungan, pengepungan total di Jalur Gaza dan pemboman yang tak henti-hentinya telah menghambat akses terhadap layanan-layanan penting. Ini menimbulkan risiko kesehatan bagi para pengungsi Palestina.

Amal terpaksa meninggalkan rumahnya di kamp pengungsi Shati (Pantai) sebelah barat Kota Gaza pada 13 Oktober. Rumahnya rusak akibat serangan yang dilancarkan Israel.

Amal dan keluarga melarikan diri ke al-Maghazi untuk menyelamatkan diri. Namun, perjalanan menyelamatkan diri bukanlah hal mudah. Dengan bom berjatuhan dari langit, perjalanan menyelamatkan diri menjadi sangat menakutkan.

Beberapa keluarga mengendarai truk dan menjadi sasaran rudal Israel hingga tewas, sementara pria, perempuan, dan anak-anak lainnya berlarian di jalan.

Satu-satunya yang bisa dibawa Amal hanyalah tas darurat, di mana ia menaruh kartu identitas keluarganya dan beberapa barang untuk putra bungsunya, Karim, yang belum genap berusia satu tahun.

“Situasi di sekolah-sekolah UNRWA sangat suram,” kata Amal. “Saya kesulitan menemukan ukuran popok yang tepat untuk anak saya. Kami tidak menerima bantuan apa pun untuk anak-anak, dan saya bahkan tidak punya susu untuk memberinya makan.”

Amal mengatakan dia terpaksa menggunakan kain alih-alih popok untuk putranya, yang menyebabkan ruam parah pada putranya.

Dia menambahkan bahwa dia menghindari makan tuna dan roti dalam jumlah sedikit pun yang disediakan oleh UNRWA sehingga dia tidak perlu menggunakan toilet. Karena kurangnya selimut, dua anaknya yang lain, berusia tujuh dan lima tahun, kini menderita pilek dan sakit perut.

“Saya tidak tahan dengan situasi yang kita jalani,” kata Amal. “Perang ini sangat kejam, dan kami mendengar suara pemboman sepanjang hari.”

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE