sign up SIGN UP

Selain Penyalin Cahaya, 5 Film Indonesia Ini Juga Mengangkat Isu Kekerasan Seksual

Camellia Ramadhani | Beautynesia
Rabu, 12 Jan 2022 12:00 WIB
Selain Penyalin Cahaya, 5 Film Indonesia Ini Juga Mengangkat Isu Kekerasan Seksual
caption
Jakarta -

Belakangan ini jagat perfilman Indonesia kembali dihebohkan dengan perbincangan tentang film Penyalin Cahaya. Sayangnya bukan hanya soal prestasinya, kehebohan publik justru dipicu kabar mengejutkan terkait adanya dugaan pelecehan seksual yang dilakukan salah satu kru film tersebut. Kejadian ini sangat disayangkan publik, mengingat film Penyalin Cahaya didedikasikan untuk membuka mata masyarakat tentang posisi penyintas kekerasan seksual yang susah mendapat keadilan.

Tapi, film Penyalin Cahaya ternyata bukan satu-satunya film Indonesia yang mengangkat isu kekerasan seksual lho, Beauties.  Berikut ini ada lima film Indonesia yang mengangkat isu kekerasan seksual dilihat dari sudut pandang penyintas. Simak, yuk!

Pasir Berbisik

Pasir Berbisik/Foto: Pinterest
Pasir Berbisik/Foto: Pinterest

Sebelum perannya sebagai Cinta di AADC viral, Dian Sastrowardoyo telah memerankan tokoh Daya dalam film Pasir Berbisik di bawah arahan sutradara Nan Achnas.

Film Pasir Berbisik mengisahkan seorang gadis bernama Daya yang hanya tinggal berdua di sebuah gubuk dekat pantai dengan ibunya yang sangat protektif. Sedangkan Agus, sang ayah, pergi meninggalkan mereka sejak Daya masih kecil.

Akibat terlalu sering dibatasi, Daya selalu merasa kesal dengan ibunya dan sangat merindukan figur seorang ayah. Hal inilah yang kemudian membuat Daya sangat mudah menerima kehadiran Agus kembali ke keluarganya meski ibunya tidak menyambut baik kedatangan Agus.

Tapi, bukannya menjadi sosok yang melindungi anaknya, Agus justru membawa petaka dengan membawa Daya ke rumah laki-laki yang kemudian melecehkannya.

27 Steps of May

27 Steps of May/ Foto: Pinterest
27 Steps of May/ Foto: Pinterest

Film ini berpusat pada kehidupan yang dijalani tokoh May, seorang penyintas kekerasan seksual yang dilecehkan saat masih duduk di bangku SMP. Kejadian traumatis ini membuat May menarik diri dari lingkungan sosial bahkan membatasi interaksi dengan ayahnya sendiri.

Uniknya, dari film ini kita bisa melihat bagaimana gambaran ketakutan tercermin dari gerak-gerik May meski dia sangat jarang berkata-kata. Melalui film ini pula kita bisa melihat bagaimana sekadar menenangkan diri adalah hal sulit bagi penyintas saat memori traumanya tiba-tiba muncul.

Di sisi lain, kita akan berurai air mata melihat sosok ayah May yang setiap hari diliputi rasa bersalah karena merasa tidak bisa menjaga anaknya dengan baik.

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak/ Foto: Pinterest
Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak/ Foto: Pinterest

Penyintas kekerasan seksual tidak selalu memiliki sosok yang bisa dijadikan sandaran. Gambaran penyintas mandiri ini dapat kita temukan dalam tokoh Marlina, korban perampokan dan pemerkosaan sekaligus.

Sejak paruh awal cerita, Marlina diceritakan sudah berhasil menebas leher ketua perampok yang juga melecehkannya, Markus. Marlina juga membunuh anak buah Markus lainnya dengan cara berbeda-beda saat berada di rumahnya.

Berniat mencari keadilan atas kejadian yang telah menimpanya, Marlina menempuh perjalanan jauh sambil menenteng kepala Markus ke kantor polisi. Sepanjang perjalanannya, kita akan melihat bagaimana Marlina dan perempuan-perempuan yang ditemui di jalan saling menguatkan satu sama lain dengan masalah hidup masing-masing.

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas

Seperti Dendam RIndu Harus Dibayar Tuntas/Foto: Detik.com
Seperti Dendam RIndu Harus Dibayar Tuntas/Foto: Detik.com

Diangkat dari novel karya Eka Kurniawan, film ini sempat mendapat penghargaan bergengsi Golden Leopard dalam Festival film Internasional Locarno.

Film ini mencertakan tentang Ajo Kawir, seorang petarung jalanan yang selalu memiliki hasrat untuk berkelahi. Emosinya yang meletup-letup ini menyembunyikan fakta besar bahwa dia pernah mengalami pelecehan seksual semasa kecil.

Ajo Kawir kemudian bertemu Iteung dengan cara tak biasa, yaitu berkelahi hingga kalah. Kekalahan ini justru membuat Ajo Kawir jatuh cinta pada Iteung yang ternyata juga pernah mengalami pelecehan seksual semasa kecil.

Please Be Quiet

Please Be Quiet/ Foto: Youtube/ William Adiguna
Please Be Quiet/ Foto: Youtube/ William Adiguna

Berbeda dengan keempat film sebelumnya, film Please Be Quiet merupakan film pendek besutan William Adiguna. 

Bercerita dengan sudut pandang Sarah, seorang pegawai ambisius yang menyaksikan peristiwa pelecehan yang dilakukan atasan terhadap rekan kerjanya. Film ini menggambarkan gejolak batin antara keinginan bersaksi untuk menolong rekannya atau bungkam demi menyelamatkan posisi pribadinya di tempat kerja.

Hal semacam ini sangat dekat dengan kehidupan kita di mana tindakan tidak menyenangkan dari atasan sangat jarang diusut tuntas. Tidak hanya beresiko kehilangan pekerjaan, laporan yang diajukan bahkan bisa berujung bumerang bagi korbannya sendiri. 

Itulah lima film Indonesia yang mengangkat topik kekerasan seksual dengan beragam latar belakang cerita. Dari film tersebut, kita bisa belajar bahwa kekerasan seksual dapat menimpa siapa saja dan di mana saja.

***

[Gambas:Youtube]

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id