sign up SIGN UP

#MERDEKADARISTIGMA

Stigma Milenial Haus Apresiasi dan Dinilai Pemalas di Dunia Kerja, Benarkah? Ini Faktanya!

Meuthia Khairani | Beautynesia
Kamis, 25 Aug 2022 07:45 WIB
Stigma Milenial Haus Apresiasi dan Dinilai Pemalas di Dunia Kerja, Benarkah? Ini Faktanya!
caption

Beauties, kamu pasti sudah akrab dengan kata ‘milenial’ atau ‘gen y’ kan? Yap, dua kata tersebut adalah julukan yang diberikan untuk orang-orang kelahiran 1981-1996.

Milenial diprediksi akan mengisi bagian lebih besar pada tahun 2025 dengan persentase sekitar 75%, menjadi angkatan kerja yang menduduki posisi penting di perusahaan.

Nah, di kehidupan karier, millennial sering dikenal sebagai pekerja yang haus apresiasi, malas, dan dinilai etos kerjanya kurang maksimal. Benarkah seperti itu? Kira-kira kenapa ya stigma ini meluas? Apakah anggapan itu hanya gurauan yang bermaksud menyepelekan, atau memang benar adanya?

Agar tidak lagi disalahpahami dan menciptakan atmosfer kerja yang nyaman antara karyawan milenial dan atasan, baca terus artikel ini ya, Beauties!

Ingin Segera Mendapat Masukan

Stigma karyawan milenial dalam pekerjaan/Freepik/Freepik
Stigma karyawan milenial dalam dunia kerja/Freepik/Freepik

Menurut Fond, ternyata bukan hanya ingin kinerjanya diapresiasi atau diakui, generasi milenial umumnya lebih suka menerima umpan balik pada real time atau dengan jarak waktu yang terbilang dekat dengan waktu dia menyerahkan hasil akhir pekerjaannya, Beauties.

Mereka lebih suka mendapat koreksi tak berapa lama setelah seorang atasan mengecek tugas yang diserahkannya agar mereka segera tahu dan masih related dengan pekerjaannya tentang mana yang sudah benar dan yang harus diperbaiki, meski terkadang termasuk tidak pada jam kerja yang mana bisa dinilai mengganggu.

Mengukur Kemampuan Kerja

Menyambung dari poin di atas, apresiasi dipandang sebagai bukti seorang atasan atau rekan kerja menghargai usahanya, dan membuat para milenial tahu tentang seberapa penting tugas yang telah dikerjakannya, sebesar apa dampak dari pekerjaannya bagi perusahaan atau klien. Misalnya, berkat pemasaran dan negosiasi yang dilakukannya dengan klien, perusahaan mendapat keuntungan berlipat ganda.

Menyukai Hubungan Horisontal

Stigma karyawan milenial dalam pekerjaan/Freepik/dotshock
Stigma karyawan milenial dalam pekerjaan/Freepik/dotshock

Milenial umumnya lebih nyaman bekerja dengan pimpinan yang tidak membuat jarak antara atasan dan karyawan, lingkungan yang ramah, dan memungkinkan mereka luwes dan leluasa untuk menyampaikan ide dan kebutuhan lewat komunikasi yang lebih cair.

Pastinya mereka juga akan senang jika produktivitas dan kreativitasnya didengarkan dan didukung oleh atasannya. Demikianlah seperti yang dikutip dari Integrated Success

Tidak Ambisius, Bukan Malas

Umumnya, milenial dinilai berpotensi menjadi kolaborator, pembelajar yang tangguh, namun tidak mempunyai nilai dan tujuan yang lebih tinggi dalam dunia kerja. Kehidupan karier dinilai hanyalah sebagian kecil dari gaya hidupnya sehingga dinilai tidak begitu ambisius dalam bekerja.

Sikap inilah yang tampaknya membuat mereka kerap dianggap malas. Di sisi lain, mereka menganggap team work, serunya berkolaborasi, dan tumbuh di tempat kerjanya sebagai hal yang lebih penting.

Pengakuan Meningkatkan Motivasi Kerja

Dilansir dari The HR Observer, pengakuan seorang atasan bahwa kinerja mereka sudah benar dan bagus membuat mereka semakin termotivasi karena kontribusi yang telah mereka lakukan dipandang penting dan berharga. Rasa berharga inilah yang menjadi booster mereka untuk semangat berkembang di dunia kerja. 

Milenial Menghargai Kesempatan

Stigma karyawan milenial dalam pekerjaan/Freepik/lookstudio
Stigma karyawan milenial dalam pekerjaan/Freepik/lookstudio

Dalam dunia kerja, milenial juga dinilai menghargai kesempatan untuk belajar banyak di bidang yang sedang dia geluti dan banyak terlibat dalam tim kerja. Mereka adalah kaum yang senang hati bila diberi kepercayaan untuk memimpin project, berkolaborasi dengan tim-tim lain demi mencapai cita-cita perusahaan. Seperti itulah pandangan yang dilansir dari Social Media Today.

Senang Dianggap Penting

Didengarkan dan dipertimbangkan adalah respons seorang atasan yang dinanti oleh para milenial. Sederhananya, milenial ingin dihargai seperti rekan-rekan kerjanya yang lain. Mereka ingin tahu pekerjaan mereka juga penting bagi perusahaan. Inilah yang membuat milenial dianggap haus apresiasi di tempat kerjanya, Beauties. Demikian seperti yang dilansir dari TLNT.

Jadi, sudah jelas kan sekarang? Milenial bukanlah orang-orang yang tidak mau bekerja keras, melainkan mereka hanya ingin tahu kerja keras mereka dihargai. 

---

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(fip/fip)

Our Sister Site

mommyasia.id