Mengenal 7 Jenis Teh yang Populer di Dunia

Nindya Putri Hermansyah | Beautynesia
Kamis, 06 Aug 2026 15:15 WIB
6. Teh Pu-erh (Pu-erh Tea)
Ilustrasi teh pu-erh/wikipedia.com

Teh merupakan salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia, setelah air putih. Menariknya, berbagai jenis teh yang beredar di pasaran sebenarnya berasal dari tanaman yang sama, yaitu Camellia sinensis. Namun memiliki rasa, aroma, warna, dan karakteristik yang berbeda.

Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh proses pengolahan, tingkat oksidasi, hingga cara penyajiannya. Tak heran jika setiap jenis teh memiliki cita rasa yang khas dan penggemarnya masing-masing.

Lantas, apa saja jenis-jenis teh yang populer di dunia?

1. Teh Hijau (Green Tea)

Ilustrasi teh hijau/Freepik: magnific

Teh hijau merupakan salah satu jenis teh yang paling populer di dunia. Teh ini dibuat dari daun Camellia sinensis yang diproses dengan cara dikukus atau dipanggang sesaat setelah dipanen untuk mencegah oksidasi. Proses tersebut membantu mempertahankan warna hijau alami daun sekaligus kandungan antioksidannya, sehingga menghasilkan rasa yang ringan, segar, dan sedikit pahit.

Menurut Tea Association of the U.S.A, teh hijau kaya akan katekin, terutama epigallocatechin gallate (EGCG), yaitu antioksidan yang membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Sementara itu, proses pengolahan tanpa oksidasi penuh membuat warna dan karakteristik teh hijau tetap terjaga.

2. Teh Hitam (Black Tea)

Ilustrasi teh hitam/Freepik: 8photo

Teh hitam merupakan jenis teh yang mengalami proses oksidasi paling sempurna dibandingkan jenis teh lainnya. Proses ini menghasilkan warna seduhan yang lebih gelap, rasa yang lebih kuat, serta aroma yang khas. Kandungan kafeinnya yang relatif lebih tinggi juga membuat teh hitam sering dipilih untuk membantu meningkatkan energi dan kewaspadaan.

Proses oksidasi penuh menjadi ciri khas teh hitam dan membentuk warna serta cita rasanya yang kuat. Sementara itu, Harvard T.H. Chan School of Public Health menyebutkan bahwa teh hitam tetap mengandung polifenol yang berperan sebagai antioksidan.

3. Teh Oolong (Oolong Tea)

Ilustrasi teh oolong/Freepik: jcomp

Teh oolong merupakan teh semioksidasi yang berada di antara teh hijau dan teh hitam. Tingkat oksidasinya berkisar antara 10–80%, sehingga menghasilkan cita rasa yang sangat beragam, mulai dari ringan dan floral hingga lebih kaya, roasted, dan sedikit manis. Karakter tersebut membuat oolong menjadi salah satu jenis teh yang populer di China dan Taiwan.

Tingkat oksidasi yang berbeda menjadi faktor utama yang membedakan rasa dan aroma teh oolong. Oolong juga mengandung polifenol yang berperan sebagai antioksidan, meski jumlahnya dapat bervariasi tergantung proses pengolahan.

4. Teh Putih (White Tea)

Ilustrasi teh putih/Freepik: magnific

Teh putih dibuat dari pucuk daun dan kuncup teh muda yang dipanen sebelum daun berkembang sepenuhnya. Setelah dipanen, daun hanya melalui proses pelayuan dan pengeringan sehingga mengalami oksidasi yang sangat minimal. Proses sederhana ini menghasilkan rasa yang lembut, ringan, dan sedikit manis alami.

Menurut Tea Association of the U.S.A., teh putih merupakan jenis teh yang mengalami proses pengolahan paling sedikit dibandingkan jenis teh lainnya. Sementara itu, Harvard T.H. Chan School of Public Health menjelaskan bahwa teh putih tetap mengandung polifenol dan antioksidan yang berasal dari daun Camellia sinensis.

5. Matcha

Ilustrasi matcha/Freepik: jcomp

Matcha merupakan teh hijau berbentuk bubuk yang dibuat dari daun teh yang dinaungi selama sekitar 20–30 hari sebelum dipanen. Proses peneduhan ini meningkatkan kandungan klorofil dan asam amino L-theanine, sehingga menghasilkan warna hijau cerah serta cita rasa umami yang khas. Berbeda dengan teh seduh biasa, matcha dikonsumsi bersama seluruh bubuk daun tehnya.

Menurut Japanese Tea Association, proses budidaya dan penggilingan batu menjadi ciri khas pembuatan matcha. Selain itu, karena seluruh daun dikonsumsi, matcha umumnya mengandung katekin, L-theanine, dan kafein lebih tinggi dibandingkan teh hijau seduh.

6. Teh Pu-erh (Pu-erh Tea)

Ilustrasi teh pu-erh/wikipedia.com

Pu-erh merupakan teh khas Provinsi Yunnan, China, yang diproses melalui fermentasi dan pematangan. Berbeda dengan jenis teh lainnya, pu-erh dapat disimpan selama bertahun-tahun sehingga cita rasanya berkembang menjadi lebih kompleks. Teh ini memiliki karakter earthy atau aroma tanah yang menjadi ciri khasnya.

Menurut Tea Association of the U.S.A., pu-erh termasuk kategori post-fermented tea, yaitu teh yang mengalami proses fermentasi setelah pengolahan awal. Sementara itu, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Foods menyebutkan bahwa proses fermentasi menghasilkan perubahan pada senyawa bioaktif yang memengaruhi rasa, aroma, dan karakteristik pu-erh.

7. Teh Herbal (Herbal Tea)

Ilustrasi teh herbal/Freepik: jcomp

Berbeda dengan enam jenis teh sebelumnya, teh herbal sebenarnya tidak berasal dari tanaman Camellia sinensis. Minuman ini dibuat dari seduhan berbagai bahan alami, seperti bunga, daun, buah, akar, biji, maupun rempah-rempah. Beberapa jenis teh herbal yang populer antara lain chamomile, peppermint, rooibos, hibiscus, dan jahe.

Menurut National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH), setiap teh herbal memiliki kandungan dan manfaat yang berbeda-beda, tergantung bahan yang digunakan. Selain itu, sebagian besar teh herbal secara alami tidak mengandung kafein sehingga sering dipilih sebagai minuman untuk dinikmati pada malam hari atau bagi orang yang ingin membatasi asupan kafein.

--

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE