Waspada, 11 Makanan dan Minuman Ini Bisa Bikin Otak Jadi Lemot

Dewi Maharani Astutik | Beautynesia
Jumat, 17 Apr 2026 10:00 WIB
Keripik Sayur (Vegetable Straws)
Ilustrasi/Foto: Freepik

Otak adalah pusat kendali tubuh yang bekerja tanpa henti. Seperti mesin canggih, organ tubuh yang satu ini juga membutuhkan “bahan bakar” yang tepat untuk berfungsi optimal. Dalam hal ini, nutrisi yang kamu konsumsi setiap hari memiliki peran besar dalam menjaga ketajaman berpikir, fokus, dan daya ingat.

Sayangnya, beberapa jenis makanan dan minuman justru dapat mengganggu kinerja otak, memperlambat proses berpikir, hingga merusak kesehatan saraf dalam jangka panjang. Artikel yang dilansir dari She Finds ini akan membahas 11 makanan dan minuman yang bikin otak lemot sehingga sebaiknya dihindari agar kesehatan otak tetap prima dan kemampuan kognitifmu tetap tajam seiring waktu.

Yoghurt Berperisa

Yoghurt berperisa/Foto: Freepik/wirestock
Yoghurt berperisa/Foto: Freepik/wirestock

Yoghurt memang bisa memberi banyak manfaat bagi kesehatan, khususnya untuk menjaga keseimbangan antara kesehatan usus dan otak. Namun menurut Dr. Maniscalco, tidak semua yoghurt sama.

Yoghurt berperisa sering kali menyimpan gula dalam jumlah besar, bahkan setara dengan makanan penutup. Jika dikonsumsi setiap hari dengan anggapan sehat, gula ini justru bisa menimbulkan masalah seperti penurunan daya ingat dan berkurangnya kemampuan otak untuk beradaptasi akibat peradangan serta resistensi insulin.

Namun, bukan berarti kamu harus meninggalkan yoghurt sepenuhnya. Sebagai gantinya, Dr. Maniscalco menyarankan untuk memilih Greek yogurt tawar yang dipadukan dengan buah beri dan sedikit taburan kayu manis sehingga minuman ini tetap manis, tetapi jauh lebih bersahabat untuk tubuh.

Keripik Sayur (Vegetable Straws)

Ilustrasi/Foto: Freepik

Keripik kentang yang diproses berlebihan sudah lama dikenal sebagai camilan yang tidak sehat. Sayangnya, produk yang diklaim sebagai pengganti lebih sehat, seperti vegetable straws (keripik/stik sayur), juga sama-sama bisa dikategorikan sebagai makanan penyebab otak lemot.

Menurut Dr. Maniscalco, camilan ini sering digoreng dengan minyak biji-bijian yang bersifat memicu peradangan, seperti minyak bunga matahari atau kanola, dan kehilangan banyak nutrisi penting saat diolah. Mengonsumsi minyak yang telah teroksidasi dalam jangka panjang seperti itu dapat memicu peradangan pada sistem saraf.

Daripada memilih camilan olahan semacam itu, lebih baik membuat sendiri keripik dari sayuran segar seperti kale, bit, atau ubi jalar yang dipanggang dengan minyak zaitun atau minyak alpukat. Cara ini tidak hanya lebih menyehatkan, tetapi juga memberikan manfaat gizi yang nyata.

Dr. Maniscalco juga menyarankan untuk mencoba camilan lain yang kaya nutrisi, seperti kacang-kacangan, biji-bijian, atau buah kering tanpa pemanis, yang bisa memuaskan rasa ingin ngemil sekaligus memberikan asupan lemak sehat dan protein yang membuat kenyang lebih lama.

Granola Bars

Granola Bars/Foto: Freepik/azerbaijan_stockers

Granola bars sering kali dianggap pilihan sarapan yang sehat dan praktis saat bepergian. Namun, sebenarnya banyak granola bars yang dijual di pasaran telah mengalami proses pengolahan yang kompleks, di mana bahan-bahannya sudah sangat dimodifikasi, termasuk penambahan gula halus, perisa buatan, dan zat tambahan lain.

Menurut Dr. Maniscalco, bahan-bahan tersebut dapat berdampak buruk pada kemampuan fokus, daya ingat, dan suasana hati karena mengganggu sistem dopamin di otak serta mekanisme lainnya.

Daripada mengonsumsi makanan yang buruk untuk kesehatan otak ini, kamu bisa membuat sendiri camilan “energy balls” menggunakan bahan alami seperti oat, selai kacang, dan madu atau kurma. Cara membuatnya mudah dan cepat, bahkan bisa dipersiapkan jauh-jauh hari untuk menghemat waktu di hari-hari sibuk.

Protein Shake dengan Pemanis Buatan

Ilustrasi/Foto: Freepik

Protein shake memang menjadi pilihan praktis untuk menambah asupan protein harian. Namun, perlu diketahui bahwa banyak protein shake mengandung pemanis buatan yang sebenarnya bisa membawa risiko kesehatan, terutama bagi otak.

Dr. Maniscalco menjelaskan bahwa pemanis buatan seperti aspartam berpotensi mengganggu hubungan antara usus dan otak yang dikenal sebagai sumbu usus-otak. Gangguan ini bahkan telah dikaitkan dengan masalah suasana hati dan penurunan kemampuan kognitif dalam beberapa penelitian. 

Hal yang membuatnya lebih berbahaya adalah produk ini biasanya rendah atau bebas gula sehingga tampak sehat padahal sebenarnya berisiko. Jika kamu memang tidak bisa menghindari protein shake, ada cara yang lebih aman yaitu dengan membuat sendiri campuran bubuk protein tanpa pemanis bersama pisang, bayam, dan susu almond. Cara ini tidak hanya lebih sehat, tetapi juga tetap lezat dan bergizi.

Roti Gandum Utuh

Ilustrasi/Foto: Freepik

Roti putih sudah lama dikenal sebagai pilihan yang kurang sehat. Namun menariknya, roti gandum utuh yang selama ini dianggap lebih sehat ternyata juga punya risiko tersendiri.

Dr. Maniscalco menjelaskan bahwa meskipun roti tersebut berlabel “biji-bijian utuh”, kandungan karbohidrat yang mudah dicerna dapat membuat gula darah naik secara cepat. Lonjakan gula darah ini bukan hanya membuat badan lelah, tetapi juga bisa menyebabkan kabut otak, kondisi di mana pikiran terasa sulit fokus dan bekerja optimal.

Hal yang membuat tambah serius, fluktuasi gula darah tersebut memberi tekanan pada hippocampus, bagian otak yang sangat penting untuk proses belajar dan memori. Oleh karena itu, jika ingin membuat roti lapis atau roti panggang alpukat, Dr. Maniscalco menyarankan untuk memilih roti yang difermentasi dari biji-bijian (sprouted bread) atau roti panggang dari ubi jalar sebagai alternatif yang lebih sehat.

Jus Buah

Jus tomat/Foto: Freepik/jcomp

Hanya karena dibuat dari buah, bukan berarti jus buah itu sehat. Jus buah termasuk salah satu minuman dengan nilai gizi paling rendah dan kandungan gula paling tinggi. Ini jelas bukan pilihan yang tepat untuk menjaga kesehatan otak.

Menurut Dr. Maniscalco, meski jus buah mengandung beberapa vitamin, kebanyakan sudah kehilangan serat penting dan justru mengandung banyak fruktosa. Kalau dikonsumsi berlebihan, fruktosa ini bisa mengganggu kemampuan berpikir dan memicu peradangan di otak.

Oleh karena itu, alternatif terbaik sebenarnya adalah makan buah secara langsung. Namun, kalau kamu ingin minuman yang berasa tetapi rendah gula, kamu bisa coba air infused dengan tambahan daun mint dan irisan jeruk sebagai pilihan yang lebih sehat.

Alternatif Daging Berbasis Tumbuhan

Ilustrasi/Foto: Freepik

Dr. Maniscalco mengingatkan bahwa label “berbasis tumbuhan” tidak otomatis menjamin sebuah produk itu sehat. Banyak alternatif daging berbasis tumbuhan di pasaran justru sudah melalui proses pengolahan yang kompleks dan mengandung berbagai bahan tambahan seperti minyak biji-bijian dan perisa sintetis. Zat-zat ini bisa mengganggu keseimbangan neurotransmitter di otak sekaligus meningkatkan stres oksidatif, yang tentu saja bukan kabar baik.

Oleh karena itu, daripada mengandalkan daging imitasi yang sudah diproses, lebih baik fokus pada sumber protein tumbuhan utuh yang alami, seperti lentil, kacang chickpea, atau tempe yang dipanggang. Memang rasanya tidak sama seperti daging, tetapi tetap enak dan pastinya otakmu akan mendapat manfaatnya.

Ikan Todak

Ilustrasi/Foto: Freepik/topntp26

Mungkin banyak yang tidak menyangka bahwa ikan todak sebenarnya mengandung merkuri dalam kadar tinggi. Dr. Janine Bowring, seorang ahli neuroscience, menyampaikan dalam video TikTok-nya bahwa logam berat seperti merkuri bisa menghancurkan sel-sel otak.

Karena kandungan merkuri yang tinggi, konsumsi ikan todak berisiko mengganggu kesehatan otak. Merkuri ini bisa menumpuk di otak dan memicu gangguan kognitif, mulai dari kehilangan memori, sulit fokus, hingga keterlambatan perkembangan.

Margarin

Ilustrasi/Foto: Freepik/pvproductions

Margarin biasanya mengandung lemak trans, yang oleh Bowring disebut sangat memicu peradangan di seluruh tubuh, khususnya di otak dan sistem saraf. Ia menekankan bahwa masalah utama margarin adalah kandungan lemak trans yang tinggi yang terbentuk saat minyak melalui proses hidrogenasi untuk mengubahnya menjadi padat.

Lemak trans ini tidak hanya berpotensi merusak fungsi otak, tetapi juga terkait dengan penurunan kemampuan kognitif. Lemak ini mengganggu kerja membran sel otak sehingga komunikasi antar sel otak bisa terhambat dan performa kognitif menurun. Bahkan margarin yang dipasarkan dengan label “sehat” pun bisa berbahaya bila dikonsumsi berlebihan karena kelebihan lemak dalam bentuk apa pun tetap tidak baik bagi tubuh.

Kentang Goreng

Kentang goreng/Foto: Freepik/jcomp

Bowring menjelaskan bahwa kentang goreng umumnya digoreng menggunakan minyak nabati atau minyak kanola yang mengandung lemak tak jenuh ganda (PUFA) yang sangat berpotensi menyebabkan peradangan. Ia menegaskan bahwa berbagai studi membuktikan konsumsi makanan gorengan dalam jumlah besar dapat menurunkan kemampuan otak. Hal ini bukan tanpa alasan, karena kentang goreng mengandung kalori tinggi, lemak trans, dan zat akrilamida, senyawa berbahaya yang bisa merusak saraf.

Kentang goreng juga termasuk dalam kategori makanan yang melalui pemrosesan berlebihan. Makanan jenis ini biasanya memang memiliki masa simpan yang lama, tetapi kaya akan lemak, gula, garam, serta berbagai bahan tambahan.

Sereal Manis

Sereal Manis/Foto: Freepik/stockking

Sereal manis memang sering menjadi pilihan sarapan favorit banyak orang. Sayangnya, kandungan karbohidrat olahan dan gula tambahan di dalamnya bisa membawa masalah bagi kesehatan.

Konsumsi sereal manis bisa menyebabkan gula darah melonjak dan turun drastis. Fluktuasi gula darah yang cepat ini membuat otak kesulitan mempertahankan energi yang stabil sehingga fungsi kognitif bisa terganggu. Kalau kebiasaan sarapan tinggi gula ini terus berlangsung, risiko resistensi insulin akan meningkat dan masalah kesehatan otak pun bisa bertambah parah.

Sebagian besar sereal manis juga mengandung kadar gula yang tinggi sehingga dapat memicu lonjakan insulin dan menaikkan risiko diabetes tipe dua. Selain itu, banyak sereal mengandung gandum yang memiliki gluten. Gluten ini berperan meningkatkan peradangan dalam tubuh yang bisa memperbesar kemungkinan terkena penyakit Alzheimer dan berbagai kondisi inflamasi lainnya.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.