sign up SIGN UP

LIFE

Waspadai Ciri Anak Saat Mengalami Tekanan Mental di Masa Pandemi

Amelia Ayu Kinanti | Senin, 19 Jul 2021 18:30 WIB
Waspadai Ciri Anak Saat Mengalami Tekanan Mental di Masa Pandemi
Foto: tjitradewi
Jakarta -

Pandemi yang terjadi sejak tahun 2020 lalu memang membuat kita hidup jauh dari kondisi ideal. banyak kebiasaan baru yang harus diadaptasikan. Misalnya bekerja dari rumah. Menjaga kesehatan ekstra, mengurangi diri untuk berkumpul bersama orang-orang tersayang dan masih banyak lagi.

Tentunya hal ini tak hanya memengaruhi mereka yang sudah dewasa saja Beauties, anak-anak pun terkena dampaknya.

Anak-anak usia sekolah terpaksa belajar dari rumah. Mereka tak bisa lagi bertemu dengan teman-teman sebayanya. Tak hanya itu, cara mereka bermain juga sangat berubah. Jika mereka biasanya bisa dengan bebas main di luar ruangan, atau menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan kesayangan, kini mereka harus puas dengan berkegiatan di dalam rumah saja, karena risiko penularan Covid-19 sedang tinggi-tingginya.

Adaptasi gaya hidup baru ini bukannya tidak mungkin akan membuat anak-anak mengalami gangguan kesehatan mental. Nah buat kamu para orangtua, perlu diwaspadai ciri-cirinya Beauties.

Beautynesia berbincang dengan dr. Reisa Broto Asmara dalam acara Mothercare Parenytversary, Senin (19/07/2021). Menurut dr. reisa, berikut beberapa cirinya.

dr. Reisa Broto Asmorodr. Reisa Broto Asmoro/ Foto: dok. BNPB

1. Tiba-tiba Kehilangan Semangat

Jika si kecil yang biasanya selalu aktif, talkactive, semangat dalam melakukan kegiatannya namun tiba-tiba menjadi pasif dan lebih banyak diam, itu patut untuk menjadi perhatian.

"Kadang orangtua tidak terlalu memperhatikan perubahan kecil ini, padahal bisa jadi saat itu anak mulai mengalami tekanan mental," jelas dokter lulusan Universitas Pelita Harapan tersebut.

Meskipun terlihat sepele, namun mengingkari janji pada anak juga dapat membuatnya merasa tidak diutamakan.Meskipun terlihat sepele, namun mengingkari janji pada anak juga dapat membuatnya merasa tidak diutamakan./ Foto: Lifia Mawaddah Putri

2. Emosi yang Meledak-ledak dan Mood Swing

Seringkali anak sulit mengartikulasikan perasaannya, oleh karena itu rasa frustasi anak seringkali mereka ungkapkan dengan ledakan emosi dan mood yang berubah-ubah. Menurut dr. Reisa, orangtualah yang harus jelindan sensitif akan perubahan-perubahan ini. Jangan malah melabeli anak "nakal" dan sebagainya, padahal si kecil tengah mengalami tekanan yang cukup berat.

3. Mengalami Penurunan dalam Hal Akademis

Ini juga satu yang patut diperhatikan. Sama halnya dengan bekerja dari rumah, anak-anak saat bersekolah dari rumah pun mengalami berbagai tantangannya sendiri. Jadi tidak aneh jika mereka juga mengalami tekanan saat menjalankan kegiatan belajar mengajar yang tidak ideal. Jika anak mengalami penurunan dalam hal akademisnya secara konsisten, orangtua sudah sepatutnya siaga.

Membuat Jadwal untuk Mencegah Anak Mengalami Tekanan

Walau begitu menurut dr. Reisa, tekanan mental pada anak bisa dicegah. Caranya pun cukup mudah yaitu dengan membuat jadwal. Membuat jadwal kegiatan teratur ternyata berperan besar untuk membantu anak beradaptasi dengan kebiasaan yang baru.

"Membuat jadwal akan membuat anak terbiasa, dan akhirnya merasa nyaman dengan gaya hidup baru di masa pandemi," jelas Reisa.

Jangan Ragu Minta Pertolongan Ahli


Lebih lanjut dr. Reisa juga menjelaskan bahwa jika memang anak sudah terindikasi mengalami tekanan mental, maka kita sebagai orangtua jangan ragu meminta pertolongan ahli seperti ke psikolog anak. Semakin cepat masalahnya ditanggulangi, maka semakin ringan juga beban mental yang diterima anak.

(ayk/ayk)

Our Sister Site

mommyasia.id