sign up SIGN UP

Mengenal Marital Rape, Pemerkosaan dalam Perkawinan yang Sering Dianggap Tak Ada

Meydiana Adinda | Jumat, 17 Sep 2021 20:00 WIB
Mengenal Marital Rape, Pemerkosaan dalam Perkawinan yang Sering Dianggap Tak Ada
caption

Marital rape atau pemerkosaan dalam perkawinan sering dianggap tidak mungkin terjadi. Akibatnya, kasus pelecehan seksual jenis ini sering disepelekan atau ditanggapi dengan tidak serius. 

Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan, Beauties. Tindak pemerkosaan yang dilakukan oleh pasangan sendiri berisiko akan jauh terasa menyakitkan bagi korban. Untuk itu, kita harus memahami pelecehan seksual jenis ini agar tidak menganggap sepele marital rape!

Apa itu Marital Rape?

Marital rape
Marital rape/foto: pexels.com/ronlach

Secara harfiah, marital rape diartikan sebagai pemerkosaan dalam perkawinan. Dilansir dari Frye Law Group, pemerkosaan dalam perkawinan ini terjadi ketika seorang suami/istri melakukan tindakan seksual yang tidak disetujui oleh pasangannya. Marital rape dapat terjadi dalam beberapa bentuk, seperti:

  • Pemaksaan hubungan seks
  • Hubungan seks dengan ancaman
  • Hubungan seks dengan manipulasi
  • Hubungan seks saat pasangan tidak sadar
  • Hubungan seks dengan situasi korban terpaksa setuju

Mirisnya, kasus pemerkosaan ini banyak menimpa para perempuan lantaran dianggap harus melayani suaminya. Anggapan ini jugalah yang membuat sebagian masyarakat tidak mempercayai bahwa marital rape itu ada.

Dilansir dari CNN Indonesia, Wakil Ketua Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin menjelaskan bahwa masyarakat menganggap apapun bentuk hubungan seksual setelah menikah adalah sah, meskipun ada salah satu pihak yang tidak menghendakinya. 

Dampak bagi Korban

Marital rape
Marital rape membuat depresi/foto: pexels.com/enginakyurt

Mengalami pelecehan seksual tentu sangat menyakitkan dan bisa memberikan dampak yang besar bagi kondisi psikologis korban. Apalagi jika pemerkosaan ini dilakukan oleh pasangan yang seharusnya menjadi orang yang paling dipercaya. 

Dilansir dari Psych Central, Charna Cassell, seorang terapis seks dan trauma di California, AS, menjelaskan bahwa korban kekerasan seksual umumnya mengalami trauma yang dapat berakibat pada kesehatan tubuh.

Korban pemerkosaan juga berisiko mengalami berbagai masalah mental, seperti depresi, gangguan kecemasan, gangguan stres pascatrauma (PTSD), hingga keinginan untuk menyakiti diri sendiri.

Situasi ini sungguh tidak mudah bagi korban, penting bagi kita untuk bisa memberikan dukungan kepada korban. Untuk mendukungnya, kamu bisa senantiasa menemani korban, memberikannya waktu untuk mencerna apa yang ia alami, atau mendampingi korban untuk mendapatkan bantuan psikologis. Yang paling penting, ingatlah untuk tidak menyepelekan kasus marital rape, karena kasus ini nyata terjadi!

Pentingnya Sexual Consent

Marital rape
Persetujuan seksual mencegah marital rape/foto: pexels.com/alexgreen

Pemerkosaan tidak akan terjadi apabila kedua pihak setuju untuk melakukan hubungan seksual. Persetujuan ini disebut sebagai sexual consent atau persetujuan seksual. Konsensual ini sangat penting untuk diungkapkan agar mencegah kesalahpahaman dalam melakukan hubungan seksual. 

Menurut RAINN (Rape, Abuse & Incest National Network), sexual consent ini harus didapatkan untuk setiap kegiatan dan setiap momen berhubungan seksual. Artinya, persetujuan yang diberikan kemarin tak berlaku untuk hari ini. Bahkan, kita juga harus saling tahu seberapa jauh aktivitas seksual yang diinginkan oleh pasangan.

Nah, ada beberapa bentuk sexual consent yang bisa kamu lakukan, yaitu:

  • Meminta izin sebelum melakukan aktivitas seksual apapun dengan kalimat “Apakah ini boleh?”
  • Mengonfirmasi ada minat timbal balik sebelum memulai sentuhan fisik apapun
  • Memberi tahu pasangan bahwa aktivitas dapat dihentikan kapan pun ia tidak berkenan
  • Bertanya secara berkala “Apakah masih bisa dilanjutkan?”
  • Memberikan umpan balik positif ketika nyaman dengan suatu aktivitas

Persetujuan ini sangat penting untuk dibicarakan dengan pasanganmu. Jangan pernah ragu untuk mengatakan “tidak” jika kamu memang tidak menginginkannya. Ingatlah bahwa hubungan yang sehat dimulai dari komunikasi yang baik.

Jika kamu mengalami pemaksaan hubungan seksual dari pasanganmu, kamu bisa segera meminta bantuan kepada orang terdekat atau lembaga terpercaya. Salah satunya, kamu bisa menghubungi Unit Pengaduan Komnas Perempuan dengan telepon di 021-3903963.

(fip/fip)

Our Sister Site

mommyasia.id