sign up SIGN UP

Tuduhan Eksploitasi Viral Lagi, Shein Klaim Video Minta Tolong dari Pekerja Palsu

Nadya Quamila | Beautynesia
Selasa, 28 Jun 2022 16:30 WIB
Tuduhan Eksploitasi Viral Lagi, Shein Klaim Video Minta Tolong dari Pekerja Palsu
caption
Jakarta -

Baru-baru ini viral video di TikTok yang menunjukkan kompilasi foto berisikan 'pesan-pesan' meminta tolong yang mengkhawatirkan dari pekerja Shein, sebuah perusahaan fast fashion besar di China.

Salah satu video TikTok yang diunggah pada akhir Mei 2022 lalu menunjukkan tulisan "tolong saya" di secarik kertas dan label surat dari paket yang dikirim dari Shein. Ada pula tulisan tersemat di label baju bertuliskan "need your help" atau "membutuhkan bantuanmu" serta sebuah catatan dengan tulisan tangan berbunyi "SOS! SOS! SOS!". Video yang memiliki hingga 6,5 juta like tersebut berjudul "POV: Pekerja di Shein meminta bantuan!".

Tak sedikit yang kemudian menduga bahwa pesan-pesan tersembunyi tersebut merupakan tanda meminta tolong dari pekerja di Shein yang mengalami eksploitasi. Pembuat video TiKTok viral tersebut pun mengajak orang-orang untuk memboikot Shein.

"Saya tidak berpikir orang benar-benar memahami kapasitas di mana Shein sebenarnya memproduksi dan berapa banyak yang mereka hasilkan daripada merek fast fashion lainnya," kata bmekween, salah satu pembuat video TikTok tersebut.

Menggunakan data dari Business of Fashion, ia menemukan bahwa Shein memproduksi sekitar 20 kali lipat jumlah pakaian baru dari Boohoo, merek fast fashion populer lainnya.

Shein Buka Suara, Sebut Video Mengandung Informasi yang Menyesatkan

Viral video di TikTok tuduh Shein lakukan eksploitasi pekerjaViral video di TikTok tuduh Shein lakukan eksploitasi pekerja/ Foto: Tangkapan Layar/Instagram/AJPlus

Shein pun buka suara menanggapi tuduhan soal video TikTok yang menjelaskan pekerja mereka dinilai meminta tolong lewat pesan tersembunyi. Menurut Shein, video tersebut 'berisi informasi yang menyesatkan dan salah'. 

"Baru-baru ini. ada beberapa kebingungan tentang salah satu label produk kami. Tujuan kami adalah untuk mengingatkan pelanggan untuk membantu melembutkan kain ini dengan menggunakan pelembut saat mencuci pakaian untuk pertama kalinya. Kainnya dicetak secara digital, sebuah proses yang mengurangi penggunaan air, berbeda dengan pencetakan tekstil tradisional yang intensif air," tulisnya di TikTok.

"Kami ingin memperjelas bahwa kami menangani masalah rantai pasokan dengan serius. Kode Etik kami yang ketat melarang pemasok menggunakan pekerja anak atau pekerja paksa dan kami tidak menoleransi ketidakpatuhan," tambahnya.

Shein berpendapat bahwa masing-masing foto label pakaian di video yang viral itu berasal dari perusahaan lain. Misalnya, catatan "tolong saya" sebenarnya dari paket yang diterima seorang perempuan dari Filipina pada tahun 2015, seperti yang terlihat dalam laporan berita yang diposting di YouTube pada saat itu oleh WXYZ 7 Action News.

Shein juga berargumen bahwa pesan "butuh bantuan Anda" pada label perawatan hanyalah bagian dari pesan di label kepada konsumen tentang mencuci pakaian.

Sebuah Laporan Sebut Pekerja di Shein Hanya Libur 1 Hari dalam Sebulan

Pekerja di SheinPekerja di Shein/ Foto: Dok. Public Eye

Ini bukan kali pertama Shein mendapat tuduhan soal eksploitasi pekerja. Sebelumnya, sebuah NGO (Non-Governmental Organization) atau di Indonesia sering disebut LSM, bernama Public Eye di Swiss menerbitkan sebuah laporan pada November 2021 yang menyebutkan bahwa pekerja di Shein kerap lembur, di mana mereka bekerja 75 jam dalam seminggu.

Dilansir dari BBC, David Hachfeld dari Public Eye mengatakan ada "tekanan besar" pada staf untuk memproduksi pakaian dengan cepat. Public Eye juga melaporkan bahwa para pekerja yang mereka interview bekerja tiga shift per hari. Mirisnya, mereka hanya diberi satu hari libur dalam sebulan.

Public Eye menunjukkan fakta bahwa pekerja, terutama migran, dibayar per item pakaian dan hal ini mendorong mereka untuk bekerja berjam-jam. Hal ini melanggar undang-undang perburuhan setempat, yang menetapkan hari kerja maksimum delapan jam, serta jam kerja 40 jam seminggu.

Tak hanya itu, pihak penyidik dari Public Eye juga menemukan pabrik tempat mereka kerja tidak memiliki jalur evakuasi penyelamatan dan lorong-lorongnya tertutup.

Pekerja di SheinPekerja di Shein/ Foto: Dok. Public Eye

Dilansir dari detikNews, Shein meluncurkan Laporan Dampak pada Keberlanjutan pertama kalinya pada Februari lalu, setelah mendapat keluhan soal transparansi.

Laporan tersebut mencatat 83 persen dari 700 pemasok barangnya memiliki setidaknya satu risiko besar, sementara 12 persen di antaranya melakukan pelanggaran berat, dan hampir sepertiganya tidak siap dipecat.

Tenaga kerja di bawah umur ditemukan di kurang dari satu persen dari 700 perusahaan mitra yang diperiksa. Lebih tepatnya satu dari enam perusahaan mitra. China telah meratifikasi Konvensi Umur Minimal Organisasi Tenaga Kerja Internasional di tahun 1973 dan menetapkan jika umur minimal tenaga kerja adalah 16 tahun. 

Menanggapi laporan dari Public Eye, Shein mengatakan mereka memiliki Kode Etik pemasok yang ketat, mencakup kebijakan kesehatan dan keselamatan yang ketat dan sesuai dengan hukum setempat. Jika ditemukan ketidakpatuhan, Shein akan segera mengambil tindakan.

Terlepas dari klaim Shein soal tuduhan eksploitasi pekerja, banyak yang menyebut bahwa tidak ada bukti Shein benar-benar transparan soal rantai pasok dan menegakkan aturan dalam Kode Etik untuk pemasok, di mana pabrik dilarang untuk memperkerjakan anak-anak dan pekerja secara paksa.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id