sign up SIGN UP

4 Kebiasaan Orangtua yang Ternyata Jadi Penyebab Toxic Family, Hati-hati dan Harus Segera Dihentikan!

Zeyra Haya | Beautynesia
Kamis, 16 Jun 2022 22:30 WIB
4 Kebiasaan Orangtua yang Ternyata Jadi Penyebab Toxic Family, Hati-hati dan Harus Segera Dihentikan!
caption

Perilaku toxic memang tak dapat diartikan dengan pasti. Namun secara harfiah, perilaku toxic atau toksik dapat digambarkan sebagai perilaku buruk seseorang yang dapat merugikan orang lain.

Seringkali perilaku toxic dialami dalam suatu hubungan pertemanan atau hubungan percintaan. Namun sebenarnya, kebiasaan toxic dapat terjadi dan dialami pada situasi apapun. Tak terkecuali dalam keluarga, kebiasaan toxic juga dapat memicu munculnya hubungan yang tidak baik antar keluarga.

Kenali Ciri-ciri Toxic Parenting, Kebiasaan Buruk Orangtua yang Memicu Toxic Family

Beauties, memiliki keluarga yang harmonis tentu menjadi impian kita semua. Untuk itu, menjaga keharmonisan hubungan dalam keluarga menjadi hal penting yang harus kita lakukan.

Sebagai anggota keluarga, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk selalu menjaga sikap dan sopan santun. Namun, juga diperlukan adanya awareness dan saling mengingatkan antar sesama anggota keluarga jika dilihat terjadi suatu hal yang tidak baik.

Karena tanpa disadari, ada beberapa kebiasaan orangtua yang justru menjadi pemicu terbentuknya toxic family. Maka dari itu, melansir dari CNN Indonesia, berikut adalah beberapa kebiasaan toxic parenting yang harus kita kenali dan hindari mulai dari sekarang.

1. Berteriak

Awas toxic parenting. Stop kebiasaan berteriak kepada anak/Foto: pexels.com/Gustavo Fring
(Awas toxic parenting. Stop kebiasaan berteriak kepada anak/Foto: pexels.com/Gustavo Fring)

Salah satu kebiasaan toxic parenting adalah berteriak. Meski memang diperlukan seperti pada situasi berbahaya, namun kebiasaan berteriak yang dilakukan orangtua dengan tujuan memarahi anak justru merupakan suatu kesalahan fatal.

Berteriak bukanlah cara yang efektif untuk mengubah sikap anak. Mengutip dari detikHealth, berteriak justru akan berdampak buruk dan membuat hubungan antara orangtua dan anak merenggang dan rentan memicu terbentuknya toxic family.

2. Labeling

Jangan biasakan perilaku labeling pada anak. Termasuk toxic parenting!/Foto: pexels.com/Karolina Grabowska
(Jangan biasakan perilaku labeling pada anak. Termasuk toxic parenting!/Foto: pexels.com/Karolina Grabowska)

Ciri-ciri toxic parenting selanjutnya adalah labeling. Sangat disayangkan, kebiasaan buruk orangtua yang satu ini masih kerap dinormalisasi dan dianggap sepele oleh banyak orang. Padahal, kebiasaan labeling justru berpotensi berbahaya.

Labeling bisa menjadi pemenuhan diri sendiri dan bisa sangat sulit untuk digoyahkan. Bahkan label “si pintar”, “si paling rajin” atau contoh labeling anak yang tampaknya positif dapat menjadi masalah hingga menjadi sebuah hal yang toxic.

Salah satu peran terpenting orangtua adalah membantu anak-anak mengembangkan kecerdasan emosional, atau "EQ", dengan mengajari mereka mengidentifikasi apa yang mereka rasakan.

3. Membanding-bandingkan

Orangtua sering membanding-bandingkan anak, kebiasaan buruk yang harus dihindari karena dapat memicu toxic family/Foto: pexels.com/Julia M Cameron
(Orangtua sering membanding-bandingkan anak, kebiasaan buruk yang harus dihindari karena dapat memicu toxic family/Foto: pexels.com/Julia M Cameron)

Pernah dibanding-bandingkan dengan anak tetangga? Awas! Ingatkan orangtuamu bahwa itu bukan kebiasaan yang baik. Satu lagi ciri-ciri toxic parenting adalah munculnya kebiasaan membanding-bandingkan.

Orangtua yang toxic cenderung akan membandingkan para anaknya baik dengan anaknya yang lain atau anak orang lain. Tanpa disadari, membandingkan anak-anak bahkan dengan cara-cara kecil yang tampaknya tidak penting justru dapat berdampak buruk.

"Jika Anda memiliki lebih dari satu anak, berusahalah untuk tidak membanding-bandingkannya, baik untuk memotivasi atau mendisiplinkan," ujar seorang ahli, Streep. 

4. Judging

Awas ciri-ciri toxic parenting! Kebiasaan menyalahkan anak tidak boleh dinormalisasi/Foto: pexels.com/Annushka Ahuja
(Awas ciri-ciri toxic parenting! Kebiasaan menyalahkan anak tidak boleh dinormalisasi/Foto: pexels.com/Annushka Ahuja)

Kebiasaan toxic parenting yang dapat memicu terbentuknya toxic family yang terakhir adalah kebiasaan judging atau menyalahkan. Para ahli mengatakan bahwa memberi tahu anak-anak bahwa mereka selalu atau tidak pernah melakukan hal-hal tertentu dalam konteks yang tidak baik akan menjadi tanda bahaya bagi orangtua.

Melakukan kesalahan adalah hal yang wajar dilakukan oleh anak-anak. Sebagai orangtua, alih-alih mengatakan, "Kamu tidak pernah mengerjakan pekerjaan dengan baik", lebih baik jelaskan dengan jelas apa yang kita inginkan terjadi dan beri anak banyak waktu untuk bertransisi, kemudian berikan pujian setelahnya.

Beauties, itulah beberapa kebiasaan toxic parenting yang kerap tak disadari dan sering dilakukan hingga memicu terbentuknya toxic family. Bagaimana menurutmu?

_______________

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)

Our Sister Site

mommyasia.id