Bentuk-Bentuk Pelecehan Verbal yang Masih Sering Dinormalisasi

Dewi Maharani Astutik | Beautynesia
Kamis, 14 May 2026 12:30 WIB
Sarkasme atau Candaan yang Sebenarnya Merendahkan
Pelecehan verbal yang sering dinormalisasi kerap muncul dalam bentuk sarkasme atau candaan yang terdengar ringan/Foto: Freepik/jcomp

Meskipun dikenali sebagai suatu tindakan yang negatif, nyatanya, pelecehan verbal masih kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini karena ada beberapa pelecehan verbal yang sering dinormalisasi karena sifatnya halus sehingga sering dianggap “bercanda”, “wajar”, atau “tidak serius”.

Padahal, di balik hal yang tampak sepele, bentuk-bentuk verbal abuse yang tidak disadari itu dapat meninggalkan luka psikologis, menurunkan rasa percaya diri, dan memengaruhi kesehatan mental dalam jangka panjang.

Dampak tersembunyi dari pelecehan verbal itulah yang kerap diabaikan karena tidak terlihat secara fisik, padahal nyata dirasakan oleh korban. Melalui pembahasan yang dilansir dari Join One Love ini, kita akan mencari tahu tentang beberapa contoh pelecehan verbal dalam kehidupan sehari-hari yang masih sering dinormalisasi itu!

Panggilan Merendahkan yang Dianggap “Biasa” saat Emosi

Pelecehan verbal yang sering dinormalisasi kerap muncul dalam bentuk panggilan merendahkan saat emosi memuncak. Banyak orang menganggap ucapan seperti ini sebagai hal biasa ketika bertengkar, padahal dampaknya bisa bertahan lama pada orang yang mendengarnya. Karena itu, emosi sebaiknya disampaikan tanpa merendahkan pasangan atau orang lain.
Pelecehan verbal yang sering dinormalisasi kerap muncul dalam bentuk panggilan merendahkan saat emosi memuncak/Foto: Freepik/bearfotos

Banyak orang menganggap hal ini wajar sebagai pelampiasan emosi sesaat, apalagi jika terjadi saat bertengkar. Padahal, kebiasaan ini bukan sekadar cara mengekspresikan kemarahan, melainkan bentuk komunikasi yang tidak sehat.

Ucapan seperti ini bisa meninggalkan dampak yang lebih dalam dari yang terlihat karena meskipun mungkin cepat terlupakan oleh yang mengucapkan, kata-kata tersebut bisa terus teringat dan perlahan memengaruhi rasa percaya diri bagi yang menerima. Dalam hubungan yang sehat, emosi tetap bisa disampaikan tanpa harus merendahkan. Marah adalah hal yang manusiawi, tetapi cara mengungkapkannya tetap perlu dijaga agar tidak melukai.

Sarkasme atau Candaan yang Sebenarnya Merendahkan

Pelecehan verbal yang sering dinormalisasi kerap muncul dalam bentuk sarkasme atau candaan yang terdengar ringan/Foto: Freepik/jcomp

Pada awalnya, hal ini mungkin terdengar biasa saja dan bahkan mengundang tawa. Namun, jika terus berulang, terutama dengan sasaran yang sama, candaan ini perlahan berubah menjadi cara halus untuk merendahkan seseorang.

Masalahnya, karena disampaikan dengan nada santai atau disertai tawa, korban sering ragu untuk merasa tersinggung, padahal perasaan tidak nyaman itu valid. Jika dibiarkan, pola ini bisa berdampak pada kepercayaan diri, di mana seseorang bisa mulai meragukan dirinya sendiri karena terus-menerus menerima “candaan” yang mengarah pada kekurangan atau kelemahan pribadi.

Manipulasi Emosional yang Dibungkus Sebagai Bukti Cinta

Bentuk-bentuk verbal abuse yang tidak disadari sering kali muncul melalui manipulasi emosional yang dibungkus sebagai tanda cinta dan perhatian/Foto: Freepik/yanalya

Kalimat seperti “kalau kamu sayang aku, kamu pasti mau…” sekilas terasa wajar, seolah hanya ungkapan kebutuhan dalam hubungan. Padahal, di balik itu ada upaya untuk mengarahkan atau memaksakan pasangan agar mengikuti keinginan tertentu, meskipun sebenarnya mereka tidak nyaman melakukannya.

Salah satu pelecehan verbal yang sering dinormalisasi ini bekerja dengan cara memainkan perasaan bersalah dan rasa tanggung jawab emosional lawan bicaranya. Hal yang membuatnya sering dinormalisasi sendiri adalah karena tidak terdengar “kasar” seperti bentakan atau hinaan.

Padahal, dalam hubungan yang sehat, rasa sayang tidak digunakan sebagai alat untuk menekan atau mengatur pilihan pasangan, tetapi untuk memberi ruang bagi kedua pihak untuk tetap merasa aman dan dihargai.

Kritik Berlebihan yang Dianggap sebagai “Kejujuran”

Bentuk-bentuk verbal abuse yang tidak disadari sering tersembunyi di balik kalimat yang disebut sebagai “kejujuran”/Foto: Freepik/lookstudio

Dalam hubungan yang sehat, menyampaikan pendapat atau masukan memang penting. Namun, ketika kritik muncul hampir setiap saat—baik soal hal besar maupun hal sepele—itu bukan lagi bentuk kejujuran, melainkan pola komunikasi yang bertujuan melemahkan lawan bicara.

Jika terjadi terus-menerus, kritik berlebihan bisa membuat pendengarnya mulai meragukan dirinya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini tidak hanya merusak hubungan, tetapi juga kondisi emosional individu yang mendengarnya.

Komentar yang Merendahkan Identitas Pribadi

Pelecehan verbal yang sering dinormalisasi dapat muncul dalam bentuk komentar yang merendahkan identitas pribadi seseorang/Foto: Freepik

Komentar yang merendahkan identitas pribadi adalah ucapan yang menyerang hal-hal mendasar dalam diri seseorang—seperti ras, suku, agama, gender, atau latar belakang kehidupan. Dampak pelecehan verbal yang sering dinormalisasi ini bisa jauh lebih dalam dari bentuk pelecehan yang lain karena menyentuh bagian identitas yang tidak bisa diubah.

Hal yang perlu dipahami, hubungan yang sehat tidak akan menjadikan identitas sebagai bahan untuk merendahkan pihak lain. Justru, perbedaan seharusnya dihargai, bukan dijadikan alasan untuk menyerang.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.