STATIC BANNER
160x600
STATIC BANNER
160x600
BILLBOARD
970x250

Berdasarkan Studi, Ini Alasan Orang Suka Mem-bully Virtual di Medsos

Agesti | Beautynesia
Sabtu, 07 Nov 2020 22:15 WIB
Berdasarkan Studi, Ini Alasan Orang Suka Mem-bully Virtual di Medsos

Fenomena bullying atau perundungan secara virtual di media sosial alias medsos masih marak terjadi. Anonimitas membuat sebagian orang merasa bebas berkomentar di media sosial yang terkadang berakhir menjadi cacian hingga ujaran kebencian. Ironisnya, para pelaku perundungan ini tak peduli apakah tulisan yang mereka buat akan menyakiti hati orang lain atau tidak. 

Maraknya bullying yang terjadi membuat kita bertanya, apakah ada alasan mengapa seseorang bisa dengan mudahnya melontarkan kalimat negatif di media sosial bahkan kepada orang yang tidak mereka kenal? Berikut pembahasannya seperti dilansir dari Wolipop.

Mayoritas Gender Pelaku Bully

Pria menatap layar smartphone
Pelaku bully virtual datang dari berbagai latar belakang. Sumber: Unsplash/James Sutton

Ternyata pertanyaan serupa juga membayangi seorang profesor dari Tokyo International University, Shinichi Yamaguchi. Akhirnya Shinichi Yamaguchi membuat penelitian secara terpisah pada 2014 dengan 20 ribu responden di tahun 2016 dengan 40 ribu responden mengenai fenomena perundungan di internet.

Hasilnya cukup mengejutkan, di mana 70 persen pelaku bully virtual adalah pria dan sisanya adalah wanita. Para pelaku perundungan ini datang dari berbagai tingkatan pekerjaan di antaranya, 30 persen adalah para pengangguran, 30 persen lagi di level karyawan, 31 persen dari kalangan manajerial dan sisanya adalah pelaku bisnis atau pemilik toko.

Dari temuan ini menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan nyatanya tak selalu berpengaruh terhadap sikap dan kecenderungan seseorang untuk melakukan pembulian.

Faktor Orang Mem-bully Virtual

pelaku bully
Ada beberapa faktor yang membuat seseorang melakukan bully di medsos. Sumber: Unsplash/Morgan Basham

Menurut Sinichi, ada satu faktor yang menggerakkan orang untuk ‘menyerang’ orang lain di internet yakni “keharusan”. Para pelaku perundungan virtual memberikan ujaran kebencian karena merasa bahawa itulah ‘tugas’ mereka. Mereka mengungkapkan kebenciannya seperti sebuah ‘keharusan’ atau ‘kewajiban’ agar mereka merasa sudah mendapat perlakuaan sesuatu yang ‘adil’. Perilaku dan alasan ini tentu tidak bisa dibenarkan ya, Ladies!

Sementara itu, Psikolog Jo Hemmings menyebut bahwa penyebab seseorang mudah menungkapkan ujaran kebencian adalah karena mereka biasanya tidak bisa membangun hubungan yang sehat di dunia nyata.

Dapat Bully di Social Media, Apa yang Harus Dilakukan?Dapat Bully di Social Media, Apa yang Harus Dilakukan?/ Foto: Freepik

“Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang ini cenderung tidak bisa membangun hubungan yang sehat di dunia nyata. Mereka tidak selalu merupakan orang sedih atau kesepian seperti yang kita kira. Dan tidak selalu pria tetapi juga wanita (pelaku pembulian virtual),” terang Jo Hemmings.

Selanjutnya ia pun menambahkan bahwa ketidak seimbangan dalam hubungan interpersonal juga bisa menjadi alasan kuat. Pendapat ini ternyata serupa dengan apa yang diungkapkan oleh Psikolog, Dr. Linda Kaye.  

“Alasan terjadinya perilaku (bully virtual) ini disebabkan karena banyak faktor, salah satunya adalah (mereka) hanya ingin cari hiburan dan adanya masalah kepribadian seperti sadisme atau psikopat. Mereka termotivasi oleh status (sosial). Ingin menarik perhatian dengan menyakiti atau membuat orang lain sedih. Bahkan ketika mendapat dukungan dari pelaku bully lain, mereka justru merasa dihargai dan penting. Dua hal ini yang mungkin tidak mereka dapatkan di kehidupan nyata,” pungkas Jo Hermmings.

(kik/kik)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE