Dinilai Ingkar Janji, Ini Sederet Larangan Taliban untuk Perempuan Afghanistan
Setelah mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada Agustus 2021 lalu, Taliban terus melakukan penyesuaian pemerintahan yang baru bagi warganya. Salah satu perubahan yang paling signifikan adalah penetapan beberapa aturan baru bagi kaum perempuan.
Sejak kembali berkuasa, berbagai pertentangan muncul dari dalam negeri hingga luar negeri. Kontroversi tentang peraturan Taliban pun masih bergulir hingga saat ini.
Berikut rangkuman peraturan pemerintahan Taliban untuk kaum perempuan Afghanistan. Yuk, simak!
Aturan 72 Km dan Larangan Menyetir Bagi Perempuan
Perempuan Afghanistan/ Foto: Getty Images/christophe_cerisier |
Sejak kembali merebut kekuasaan pada Agustus 2021 lalu, Taliban terus memperbarui aturan yang menyangkut posisi perempuan dan pria di ruang publik. Peraturan tentang perempuan di perjalanan juga tak luput dari perhatian Taliban.
Dilansir dari laman BBC, Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan mengumumkan aturan bahwa perempuan dilarang melakukan perjalanan lebih dari 72 kilometer (km) tanpa didampingi keluarga atau suami. Selain itu, perempuan sudah tak diperbolehkan untuk menyetir sendiri.
Sedangkan di tempat umum, perempuan dan pria harus dipisahkan oleh sekat yang jelas. Riazullah Seerat selaku pejabat Taliban di Kementreian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan di Herat mengatakan bahwa aturan perempuan dan pria harus duduk terpisah mulai diberlakukan di restoran, bahkan berlaku bagi suami istri.
Melarang Anak Perempuan Bersekolah
Melihat adanya ketakutan masyarakat akan perampasan hak-hak perempuan, Taliban mencoba meyakinkan masyarakat bahwa perempuan akan tetap diperbolehkan aktif di bawah peraturan yang lebih fleksibel dibanding 20 tahun silam, utamanya soal pendidikan. Saat merebut kembali kekuasaan pada 2021 lalu, Taliban menegaskan bahwa hanya anak perempuan usia sekolah dasar yang boleh mengenyam pendidikan formal.
Sementara itu, anak-anak perempuan lainnya harus menunda keinginannya kembali bersekolah setelah Taliban membatalkan janjinya untuk memberi mereka izin bersekolah pada 23 Maret lalu. Dikutip dari laman BBC, penutupan ini dikarenakan pemerintah Taliban masih mendiskusikan pakaian apa yang pants digunakan anak-anak perempuan saat bersekolah.
Taliban Kembali Wajibkan Perempuan Memakai Burqa
Perempuan Afghanistan menggunakan burqa/ Foto: Getty Images/Paula Bronstein |
Dilansir dari laman Al Jazeera, pemimpin Taliban Haibatullah Akhundzada mengeluarkan dekrit yang isinya melarang perempuan meninggalkan rumah tanpa memakai burqa, yakni pakaian yang menutup badan dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan juga menegaskan bahwa ayah seorang perempuan atau kerabat pria terdekat dari perempuan yang tidak menutupi wajahnya saat berada di luar rumah akan ditangkap dan dipenjara atau dipecat dari pekerjaan di instansi pemerintahan.
Reaksi Perempuan Afghanistan hingga PBB
Taliban Wajibkan Perempuan Afghanistan Tutupi Wajah/Foto: Twitter/UNAMANews
Reaksi Perempuan Afghanistan Atas Aturan Khusus Perempuan Dari Taliban
![]() Larangan Taliban Untuk Perempuan Afghanistan/Foto: Pakistan Today |
Menyikapi aturan-aturan Taliban yang dinilai tidak berpihak pada kesetaraan gender, perempuan di Afghanistan menentang Taliban secara terang-terangan. Dilansir dari laman DW, pencabutan izin bekerja dan bersekolah bagi kaum perempuan adalah pemicu gelombang protes besar-besaran.
Seorang perempuan yang dipecat dari jabatan tinggi di Kementerian Luar Negeri Afghanistan mengatakan kepada wartawan bahwa haknya bersama perempuan lain dikebiri.
“Saya dulu memimpin satu departemen, dan banyak perempuan yang bekerja dengan saya. Sekarang kami semua kehilangan pekerjaan,” terang perempuan yang ingin identitasnya dirahasiakan kepada AFP.
Dilansir dari laman The New York Times, salah satu pendiri Gerakan Perempuan Kuat Afghanistan Monisa Mubariz menggelar konferensi pers singkat di tempat rahasia dengan mengundang beberapa wartawan. Tindakan tersebut ia lakukan dalam rangka menyuarakan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh perempuan Afghanistan di bawah pemerintahan Taliban.
“Perempuan telah dirampas haknya untuk bekerja dan berpartisipasi dalam kehidupan politik dan ekonomi,” ujarnya kepada sekelompok kecil media, dikutip dari The New York Times.
Seorang aktivis perempuan terkemuka di Afghanistan, Rokhsana Rezai, turut memberi respon atas aturan-aturan yang ditetapkan Taliban bagi kaum perempuan.
“Tujuan, kebebasan, keinginan, impian, pilihan, pendidikan, dan pekerjaan apapun yang pernah dimiliki perempuan telah hilang. Saya merasa marah tubuh saya tanpa jiwa dan semua impian kami sekarang tidak ada apa-apanya,” ujarnya.
Respon Internasional Atas Pemerintahan Taliban
![]() Larangan Taliban Untuk Perempuan Afghanistan/Foto: Humanium.org |
Penentangan terhadap peraturan Taliban tidak hanya datang dari dalam negeri, tapi juga dari mancanegara. Kebijakan demi kebijakan Taliban yang dianggap merugikan anak-anak dan kaum perempuan membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) buka suara.
Dilansir dari laman resmi PBB, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Gueterres menilai penolakan pendidikan untuk perempuan ini tidak hanya melukai kesetaraan gender dalam hal pendidikan, tapi juga membahayakan masa depan Afghanistan itu sendiri, mengingat banyaknya kaum perempuan Afghanistan yang telah berkontribusi besar pada negara.
Selain itu, negara-negara Kelompok Tujuh (G7) juga melontarkan kritik keras terhadap Taliban yang dinilai mengisolasi Afghanistan.
“Kami menyerukan kepada Taliban untuk segera mengambil langkah-langkah untuk mencabut pembatasan pada perempuan dan anak perempuan,” seru para Menteri Luar Negeri Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat, dikutip dari laman detikNews.
Di tengah gejolak pertentangan rakyat Afghanistan dan desakan berbagai organisasi internasional, pemerintahan Taliban masih belum memberikan respon. Sejauh ini kaum perempuan Afghanistan adalah pihak utama yang masih menantikan realisasi janji-janji kampanye Taliban untuk mengakomodasi kepentingan semua orang dalam membuat kebijakan.
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!
Pilihan Redaksi |
Perempuan Afghanistan/ Foto: Getty Images/christophe_cerisier
Perempuan Afghanistan menggunakan burqa/ Foto: Getty Images/Paula Bronstein

