Extended Adolescence Viral di Media Sosial, Ini Maknanya

Riswinanti Pawestri Permatasari | Beautynesia
Rabu, 14 Jan 2026 07:00 WIB
Terkait Extended Adolescence yang Viral di Media Sosial
Ilustrasi Extended Adolescence/Foto: Freepik.com

Belakangan ini kamu mungkin sering melihat istilah extended adolescence di media sosial. Bukan tanpa alasan, kata-kata ini ramai dibahas setelah seorang konten kreator muda menggunakannya dalam konteks pilihan hidup seperti menikah di usia 19 tahun.

Melansir Insertlive, kreator tersebut menyebut bahwa kebanyakan orang saat ini menormalisasikan extended adolescence sehingga menganggap nikah muda yang dijalaninya adalah sebuah kesalahan. Sebenarnya apa makna extended adolescence? Benarkah masyarakat saat ini banyak yang terlambat menjadi dewasa? Simak penjelasannya berikut ini!

Apa Itu Extended Adolescence?

Ilustrasi Extended Adolescence: Foto: Freepik.com/tirachardz
Ilustrasi Extended Adolescence: Foto: Freepik.com/tirachardz

Melansir laman Denver Wellness Counseling, extended adolescence adalah istilah untuk menggambarkan fase transisi dari remaja menuju dewasa yang berlangsung lebih lama dibanding definisi tradisional. Meski demikian, definisi kedewasaan sendiri umumnya sangat relatif dan mungkin berbeda standar pada setiap orang.

Laurence Steinberg, dalam bukunya berjudul In The Age of Opportunity, menjelaskan bahwa kedewasaan adalah tahap perkembangan yang dimulai dengan pubertas dan diakhiri dengan kemandirian sosial dan ekonomi. Jika patokannya adalah pubertas, maka setiap orang dianggap sudah dewasa ketika usianya masih di bawah 20 tahun.

Namun, dalam fenomena ini, individu sering kali belum mencapai kemandirian finansial, stabilitas emosional, maupun tanggung jawab hidup seperti pernikahan atau karier stabil pada usia yang dulu dianggap “dewasa”. Artinya, masa remaja tidak lagi berhenti di akhir belasan tahun, tetapi bisa berlanjut hingga pertengahan dua puluhan atau lebih.

Dalam konteks konten viral itu sendiri, istilah ini dipakai untuk mengkritik budaya yang “dimanjakan” oleh narasi modern sehingga generasi muda dinilai menunda langkah-langkah dewasa seperti menikah atau berbisnis. Namun, penggunaan istilahnya di media sosial ini sering bersifat simplifikasi sosial menyederhanakan kompleksitas perkembangan manusia menjadi narasi populer.

Ciri-Ciri Extended Adolescence

Ilustrasi Extended Adolescence/Foto: Freepik.com

Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, kematangan pola pikir manusia zaman sekarang memang bisa dibilang lebih lambat. Dalam laman Denver Wellness Counseling, fenomena ini sering terlihat dalam pola hidup generasi muda saat ini, antara lain:

  • Masih tinggal bersama orang tua lebih lama, karena faktor ekonomi atau kenyamanan.
  • Menunda pernikahan dan memiliki anak hingga usia akhir dua puluhan atau lebih.
  • Mengeksplorasi identitas dan karier melalui pendidikan lanjut dan pengalaman hidup yang beragam.

Hal-hal di atas mencerminkan bahwa kedewasaan zaman sekarang bukan semata ditentukan oleh umur biologis, tetapi oleh kesiapan emosional, finansial, dan sosial secara menyeluruh.

Kenapa Semakin Umum?

Ilustrasi Extended Adolescence/Foto: Freepik.com

Sekali lagi, ada banyak faktor yang mungkin dihadapi seseorang sehingga dianggap mengalami kondisi “terlambat dewasa”. Perpanjangan masa transisi menuju dewasa ini bukan hanya soal pandangan budaya, tetapi juga faktor struktural. Berikut beberapa penyebabnya menurut Denver Wellness Counseling:

  • Pendidikan yang lebih panjang: Banyak orang memilih pendidikan tinggi hingga pascasarjana agar bisa bersaing di dunia kerja, sehingga memundurkan waktu masuk kerja penuh waktu.
  • Tantangan di pasar kerja: Dunia kerja sekarang menuntut keterampilan kompleks dan pengalaman, sehingga banyak orang muda masih mencari karier yang cocok lebih lama.
  • Realitas ekonomi: Harga rumah dan biaya hidup yang tinggi membuat banyak orang tidak bisa cepat mencapai kemandirian finansial.
  • Perubahan norma sosial: Standar kehidupan modern menempatkan pencarian pengalaman dan pengembangan diri sebagai prioritas sebelum mengambil peran dewasa tradisional seperti menikah atau membangun keluarga.

Secara ilmiah, konsep extended adolescence ini pernah dibahas oleh Jeffrey Arnett, dalam bukunya yang berjudul Emerging Adulthood. Dalam bukunya, melansir Research Gate, dia menggambarkan periode perkembangan antara usia sekitar 18 hingga akhir 20-an. Pada rentang ini, peran tradisional seperti kemandirian finansial, hubungan jangka panjang, maupun tanggung jawab keluarga sering kali tertunda karena individu masih mengeksplorasi identitas, pendidikan, dan karier.

Penelitian juga menunjukkan bahwa otak manusia, khususnya bagian yang menangani pengambilan keputusan dan kontrol impuls, terus berkembang sampai pertengahan dua puluhan. Hal ini, secara neurologis, memperpanjang fase transisi dari remaja ke dewasa penuh. Ini berarti biologi dan perkembangan otak ikut berkontribusi pada realitas bahwa banyak orang muda saat ini belum “dewasa” secara psikologis, meskipun sudah berumur di atas 18 tahun.

Meski demikian, harus dipahami bahwa kondisi tidak bisa dipukul rata. Ada faktor lain yang mungkin membuat seseorang dianggap mengalami extended adolescence. Misalnya, secara tradisional, beberapa orang terlambat menikah bukan karena keinginan pribadi namun karena alasan ekonomi, masih punya tanggungan lain, atau masalah pribadi lainnya.

Terkait Extended Adolescence yang Viral di Media Sosial

Ilustrasi Extended Adolescence/Foto: Freepik.com

Istilah ini menjadi populer dan viral terutama ketika dibahas di konten media sosial yang mengaitkannya dengan fenomena kehidupan nyata seperti pilihan menikah muda, menjalani hidup berbeda dari generasi sebelumnya, atau menunda milestone klasik dewasa.

Banyak netizen menanggapi istilah ini dengan dua perspektif, di mana sebagian mendukung karena ini mencerminkan realitas hidup modern, sementara yang lain mengkritik penyederhanaannya karena setiap orang punya jalur perkembangan hidup yang unik.

Perbincangan online sering kali memperlihatkan ketidaksetujuan terhadap generalisasi fenomena ini sebagai “kemunduran” atau “alasan untuk malas dewasa”, karena banyak faktor ekonomi dan sosial yang memengaruhi kehidupan dewasa.

Apakah Extended Adolescence Selalu Negatif?

Ilustrasi Extended Adolescence/Foto: Freepik.com

Faktanya, kondisi tak bisa dilihat hanya dari satu sisi. Banyak ahli melihat periode ini sebagai bagian dari perkembangan manusia yang lebih kompleks, di mana eksplorasi identitas, pengalaman, dan pencarian arah hidup justru bisa memberi landasan kuat sebelum mengambil tanggung jawab hidup besar.

Justru, jika fase ini dihadapi dengan tujuan jelas, seperti membangun keterampilan hidup, jaringan sosial, dan kesiapan emosional, extended adolescence bisa menjadi waktu berharga untuk memperkuat fondasi masa depan.

Dengan kata lain, extended adolescence menjelaskan bagaimana masa remaja kini sering berlangsung lebih lama dalam kehidupan generasi muda dibandingkan definisi tradisional. Ini bukan sekadar tren internet atau alasan untuk menunda tanggung jawab, tetapi sebuah refleksi dari perubahan sosial, ekonomi, dan perkembangan otak yang nyata di era modern. 

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.