sign up SIGN UP

Harus Dihindari, 3 Pola Asuh Toksik Ini Bisa Membuat Anak Egois dan Menganggap Dirinya Paling Penting

Putri Rizki Aulika | Beautynesia
Sabtu, 18 Jun 2022 23:00 WIB
Harus Dihindari, 3 Pola Asuh Toksik Ini Bisa Membuat Anak Egois dan Menganggap Dirinya Paling Penting
caption

Perbedaan gaya pola asuh setiap orangtua sudah menjadi hal yang umum dibicarakan. Untuk mencapai perkembangan fisik dan mental yang baik pada anak, maka pola asuh yang dipilih orangtua harus dilakukan dengan tepat dan komitmen yang maksimal.

Sayangnya, beberapa orang tua ternyata terjebak pada gaya toxic parenting atau pola asuh toksik yang bisa mengubah anak menjadi seorang narsistik. Gangguan kepribadian narsistik adalah kondisi di mana seseorang selalu menganggap dirinya paling penting dan harus dikagumi. 

Seorang narsistik biasanya akan merasa bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain sehingga selalu membanggakan pencapaiannya. Anak-anak rentan terpengaruh kepribadian narsistik karena selalu mencontoh perilaku dan tanggapan yang diberikan orang tuanya sebagai hal yang pertama kali mereka pahami.

Dilansir dari laman Your Tango, berikut ini terdapat 3 pola asuh toksik yang sebaiknya dihindari orang tua agar anak tidak egois dan menganggap dirinya yang paling penting. Yuk, simak!

Menilai Anak Berdasarkan Kategori Terbaik

Menilai anak berdasarkan kategori terbaik atau selalu nomor satu/Foto: freepik.com/peoplecreations
Menilai anak berdasarkan kategori terbaik atau selalu nomor satu/Foto: freepik.com/peoplecreations

Jika anak dibesarkan dengan sikap yang sangat kompetitif dalam keluarga yang hanya menghargai prestasi tinggi, maka yang terjadi seterusnya adalah tuntutan untuk selalu memenangkan kompetisi. Orangtua hanya akan bahagia dan memberikan perhatian serta pujian saat sang anak menjadi nomor satu di setiap perlombaan atau kompetisi di sekolah.

Sedangkan, saat anak tidak berhasil mendapatkan kemenangan atau menjuarai suatu lomba, maka orangtua menilai sebagai kekecewaan. Melihat kondisi yang terjadi pada situasi ini, menjadikan anak hanya mengejar kesuksesan demi “yang terbaik” untuk orangtua tanpa benar-benar merasa dirinya berharga dan bahagia dengan apa yang dicapai.

Orangtua Narsistik Mendominasi

Orang tua narsistik mendominasi/Foto: freepik.com/bearfotos
Orang tua narsistik mendominasi/Foto: freepik.com/bearfotos

Pada situasi ini, orangtua sangat mendominasi anak bahkan sampai menekan pribadi anak. Orangtua menjadi mudah tersinggung dan marah ketika harapan tinggi yang mereka inginkan agar anak melakukannya malah tidak terjadi atau tidak tercapai.

Orangtua akan membandingkan pencapaian anak pertama dan anak kedua, dan hanya memuji satu, lalu menjatuhkan yang satunya lagi. Anak-anak merasa tak tenang karena selalu diremehkan, apalagi jika mengungkapkan pendapat tidak setuju.

Perasaan direndahkan, menjadikan anak memiliki tekad membuktikan diri mereka bahwa penilaian orang tua adalah kesalahan. Meski begitu, tidak bisa dipungkiri kondisi mental anak berkemungkinan membenci perilaku orangtua mereka.

Memuji Berlebihan

Memuji berlebihan/Foto: freepik.com/tirachardz
Memuji berlebihan/Foto: freepik.com/tirachardz

Orangtua yang narsis akan memuji berlebihan karena bakat yang dimiliki anak. Tanpa mereka sadari, anak merasa malu dengan pujian berlebihan dan malah terbebani. Selain itu, mereka juga bisa berbohong tentang pencapaian anak mereka di depan orang lain.

Oleh karena itu, sebaiknya orangtua tidak melabel anak dengan menjadi nomor satu atau yang terbaik tanpa tahu apa yang sebenarnya diinginkan anak. Berikan pandangan kepada anak bahwa ketika memiliki tujuan ataupun keinginan, dibutuhkan niat dan kerja keras dalam mencapainya. Ajarkan pula bagaimana menghargai kekalahan agar anak mengerti bahwa hidup tak selalu sempurna.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id