Kasus pelecehan seksual telah berulang kali terjadi dan dilaporkan di ruang dengar maupun ruang visual publik. Namun, banyaknya kasus yang terjadi nyatanya tidak menjamin terciptanya solusi yang optimal.
Salah satu hal yang paling disoroti adalah peran publik alias bystander dalam beberapa kasus pelecehan seksual yang seolah memberi lampu hijau sehingga pelaku bisa leluasa menjalankan aksinya kepada korban. Hal ini dikenal sebagai bystander effect, yaitu fenomena ketika seseorang membutuhkan pertolongan tapi orang di sekitarnya tidak ada yang membantu.
Dilansir dari The Conservation, inilah pembahasan mengenai bystander effect dalam kasus pelecehan seksual.
Peran Publik dalam Kasus Pelecehan Seksual
Ilustrasi pelecehan seksual (Foto: Unsplash/KamranAydinov) |
Lebih dari 50 tahun penelitian yang mendokumentasikan bystander effect dengan situasi di mana saksi gagal untuk mencegah terjadinya sesuatu dalam situasi darurat karena mereka berasumsi bahwa orang lain akan mengambil tindakan.
Dalam kasus pelecehan seksual khususnya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada beberapa alasan yang membuat bystander gagal memberi bantuan kepada korban, yakni karena mereka tidak menyadari adanya pelecehan atau mereka tidak merasa bertanggung jawab untuk memberikan pertolongan.
Alasan lain yang membuat orang di sekitar korban tidak memberi bantuan adalah karena mereka tidak percaya diri bahwa dirinya mampu memberikan pertolongan yang memadai dan orang lain mungkin akan memberikan penilaian negatif karena mereka berusaha ikut campur.
Bahaya Bystander Effect pada Kasus Pelecehan Seksual
Ilustrasi pelecehan seksual (Foto: Freepik/freepik) |
Pada tahun 2013, beberapa universitas di Amerika Serikat mulai mengimplementasikan program pelatihan publik alias bystander training programs. Program ini bertujuan untuk mengasah kepekaan generasi muda terhadap tanda terjadinya pelecehan seksual.
Program ini akan mengajarkan generasi muda untuk mengantar temannya pulang ke rumah ketika mereka minum terlalu banyak alkohol, mengajakĀ perempuan yang terlihat tidak nyaman dengan pasangannya untuk berbincang, hingga cara menghubungi petugas keamanan atau berwajib.
Hasil dari pelatihan ini menunjukkan bahwa peserta yang mengikuti pelatihan lebih mampu untuk mengambil tindakan pencegahan dibandingkan yang tidak.