STATIC BANNER
160x600
STATIC BANNER
160x600
BILLBOARD
970x250

Marak Kasus Perundungan Sesama Pelajar, Bagaimana Sanksi yang Tepat Bagi Anak Pelaku Bullying?

Nadya Quamila | Beautynesia
Jumat, 25 Nov 2022 20:00 WIB
Marak Kasus Perundungan Sesama Pelajar, Bagaimana Sanksi yang Tepat Bagi Anak Pelaku Bullying?

Beauties, dalam sepekan terakhir, marak kasus bullying terjadi di Indonesia yang menjadi viral di media sosial. Pelaku dan korban adalah sesama pelajar. 

Kasus bullying pertama terjadi di Bandung, Jawa Barat, dari video yang beredar terlihat siswa SMP pria yang menjadi korban menggunakan helm lalu kepalanya ditendang oleh siswa lainnya. Kasus ini diketahui berakhir damai antara pihak keluarga korban dan pelaku.

Kasus bullying sesama pelajar selanjutnya terjadi di Sumatera Selatan, dari video yang dibagikan terlihat seorang siswa SMP perempuan duduk di tengah ruang kelas dan dikelilingi oleh gerombolan siswa lainnya. Korban terlihat diguyur, diinjak, dan dimaki-maki.

Sementara itu kasus bullying ketiga terjadi di Kendari, Sulawesi Tenggara. Seorang siswa SMA diduga dibully dan dianiaya senior saat mengikuti diklat hingga membuat wajahnya lebam.

Banyak netizen yang mengutuk keras atas kejadian bullying tersebut dan menginginkan agar anak yang menjadi pelaku perundungan diberi sanksi yang tegas.

Lantas, sebenarnya bagaimana penanganan yang tepat bagi anak pelaku bullying?

Bagaimana Sanksi yang Tepat Bagi Anak Pelaku Bullying?

Mengetahui anak menjadi pelaku bullying tentu sangat menyedihkan. Lalu apa yang harus dilakukan orang tua untuk menghadapinya? (Foto: Pexels.com/ Mikhail Nilov)Ilustrasi bullying/Foto: Pexels.com/Mikhail Nilov

Menurut psikolog Intan Erlita, hukuman perlu diberikan bagi anak pelaku bullying, namun bentuk hukuman tersebut yang mendidik dan dapat memberikan efek jera. Sehingga, pelaku menyadari bahwa apa yang mereka lakukan salah dan tidak akan mengulanginya lagi.

"Untuk kasus bullying, boleh nggak, sih, diselesaikan secara kekeluargaan? Kekeluargaan, sih, silakan aja, tapi hukum harus terus berjalan. Apalagi jika kasusnya sudah sampai membahayakan dan mengorbankan nyawa. Jadi pelaku perlu nggak dihukum? Perlu," ungkap psikolog Intan Erlita saat dihubungi Beautynesia beberapa waktu lalu terkait kasus bullying yang menimpa anak SD berusia 11 tahun di Tasikmalaya hingga meninggal dunia.

[Gambas:Instagram]

Masih ada yang menilai dan menganggap bahwa karena pelakunya masih anak-anak atau di bawah umur, maka jalur damai tanpa hukuman bisa ditempuh. Namun justru karena masih anak-anak, menurut Intan, mereka harus tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan.

"Walaupun dia masih anak-anak, justru karena masih anak-anak mereka harus tahu bahwa apa yang mereka lakukan sebuah kesalahan dan mereka harus dihukum, namun hukumannya yang mendidik. Hukumannya yang membuat mereka jera dan menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu salah sehingga mereka tidak mau melakukan lagi," tuturnya.

Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE