sign up SIGN UP

Poppy Dihardjo: Perempuan Tidak Pernah Kehilangan Suaranya, Dunia yang Harus Belajar Mendengarkan

Nadya Quamila | Beautynesia
Kamis, 11 Nov 2021 09:45 WIB
Poppy Dihardjo: Perempuan Tidak Pernah Kehilangan Suaranya, Dunia yang Harus Belajar Mendengarkan
caption
Jakarta -

Kasus dugaan pelecehan seksual yang baru-baru ini dialami oleh mahasiswi Universitas Riau (Unri) menambah daftar panjang nan kelam kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan kampus.

Selama regulasi dan mekanisme terkait pencegahan dan penanganan kasus pelecehan seksual belum ada, kasus serupa masih sangat mungkin bisa terjadi. Tentu, hal ini sangat memprihatinkan dan tidak bisa diabaikan begitu saja.

Menanggapi hal ini, Beautynesia melalui #BoldMyLips berbincang dengan Poppy Dihardjo terkait kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang marak terjadi.

Poppy Dihardjo sendiri dikenal sebagai perempuan yang aktif dalam menyuarakan hak-hak perempuan serta penggagas PenTas (Perempuan Tanpa Stigma), gerakan No Recruit List dan bagian dari Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (KOMPAKS)

PenTaS adalah sebuah support group perempuan berbasis komunitas dan membantu perempuan melawan stigma dengan berdaya. Sedangkan No Recruit List adalah sebuah daftar para pelaku kekerasan berbasis gender berdasarkan aduan korban yang digunakan untuk mengawasi dan membatasi pelaku kekerasan seksual di dunia kerja.


Tanggapan Terkait Permendikbudristek Tentang PPKS di Lingkungan Kampus

Saat ini sudah banyak pula kelompok-kelompok penyintas kekerasan seksual yang bisa kamu jadikan tempat mencurahkan isi hati dan pikiran.Kasus pelecehan seksual marak terjadi di lingkungan kampus/Foto: Freepik


Akhir Oktober lalu, Nadiem Makarim mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Menurut Poppy, Permendikbudristek tersebut dapat menjadi salah satu langkah awal yang patut diapresiasi untuk mengisi kekosongan selama payung hukum di Indonesia terkait kekerasan seksual masih belum ada. Sama halnya selama semua Perguruan Tinggi belum memiliki kebijakan mengenai penanganan kekerasan seksual di kampus mereka.

"Permendikbud ini nggak cuma sekadar ngebahas bagaimana melindungi korban, namun juga pelaku dipastikan paham apa yang mereka lakukan itu salah. Jadi nggak sekadar dihukum," ujar Poppy.


Orang Tua Berperan Penting dalam Mencegah Pelecehan Seksual

Tidak segalanya dapat kamu ceritakan mengingat respon orang tua ayang tidak selalu memihak pada diri kamu.Orang tua berperan penting dalam membekali anaknya seputar pendidikan seks agar dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi/Foto: Freepik


Menurut Poppy, salah satu hal penting dan paling mendasar untuk mencegah kekerasan atau pelecehan seksual justru datang dari rumah. Orang tua berperan penting dalam membekali anaknya terkait pendidikan seks.

Terlebih di saat situasi dunia yang sedang tidak kondusif ini. Bagaimana orang tua membekali anak-anaknya dengan informasi dan pengetahuan yang benar menjadi sangat penting.

"Pembekalan pendidikan seks itu penting. Contoh, seperti memberi tahu risikonya. Ada risiko kehamilan yang tidak diinginkan, risiko sexually transmitted infections, risiko mereka perlu mengubah hidup hingga 180 derajat kalau sampai terjadi kehamilan yang tidak diinginkan," tutur Poppy.


Perempuan Tidak Pernah Kehilangan Suaranya

Foto: Pelecehan seksual di ruang publik perlu dihindari/freepik.com/drobotdeanPerempuan tidak pernah kehilangan suaranya untuk menyuarakan hal yang penting baginya/Foto: Freepik.com/drobotdean


Tak sedikit yang berkata kalau perempuan harus mulai bersuara. Padahal menurut Poppy, perempuan tidak pernah kehilangan suaranya. Dunia inilah yang sebenarnya perlu diajari untuk mendengarkan lebih seksama.

"Perempuan itu nggak pernah kehilangan suaranya, tapi makin lama suaranya makin dikecilin karena nggak ada yang mau dengerin," ungkap Poppy.

"Makin banyak perempuan yang berbicara, tapi banyak yang mengabaikan. Sementara yang feminis dibilang lebay. Mendingan dibilang lebay daripada gue abai. Tetap suarakan yang penting menurut kamu," tambah Poppy.


Pesan Bagi Para Penyintas: Fokus dengan Diri Sendiri Dulu

pelecehan seksualPenyintas atau korban harus fokus dengan diri sendiri dan apa yang dibutuhkan/Foto: Pexels.com/Polina Zimmerman



Poppy juga menyampaikan pesan bagi para penyintas dan korban di luar sana untuk menceritakan kisahnya kepada orang yang tepat.

"Kalau korban atau penyintas ingin bicara, bicaralah. Kalau mereka masih takut, bukan berarti mereka pengecut kok, it's okay. Kalau mau bicara, pastikan kamu datang ke orang yang tepat untuk menceritakan kisahmu."

Tak lupa, Poppy juga menyarankan para penyintas atau korban untuk fokus kepada diri sendiri terlebih dahulu. "Walaupun belum sanggup bercerita, tidak apa-apa. Pastikan kamu fokus dengan diri sendiri dan apa yang kamu butuhkan."

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id