STATIC BANNER
160x600
STATIC BANNER
160x600
BILLBOARD
970x250

Studi Terbaru Ungkap Gosip Bisa Perkuat Relasi dengan Orang Lain, Ini Penjelasannya!

Camellia Quinita Ramadhani | Beautynesia
Rabu, 19 Oct 2022 12:00 WIB
Studi Terbaru Ungkap Gosip Bisa Perkuat Relasi dengan Orang Lain, Ini Penjelasannya!

Pernahkah kamu bergosip, Beauties? Secara moral, gosip dinilai sebagai sesuatu yang tercela karena menyebarkan kabar yang belum jelas kepastiannya. Selain sifatnya yang tidak terpuji, menggunjing juga bisa menyebabkan berbagai kerugian pada orang yang dibicarakan. Terutama apabila kabar tersebut bersifat negatif. Tentunya kamu bisa mendapat masalah bahkan hingga ke jalur hukum.

Namun, belakangan ini penelitian mengungkap bahwa jika kabar samar yang positif justru bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan orang lain lho, Beauties!

Terlepas dari stigma bahwa gosip adalah salah satu metode komunikasi yang kerap dianggap licik dan penuh muslihat, bagaimanapun juga gosip tak lepas dari kebutuhan manusia untuk berinteraksi dengan orang lain.

mengalihkan topik pembicaraan dapat jadi cara pertama dalam menghadapi teman yang suka gosipIlustrasi mengobrol/ Foto: Freepik

Dilansir dari Science Alert, penemuan ini ditemukan dari model matematis yang dikembangkan untuk mengetahui apa yang terjadi ketika sebuah kabar samar yang ternyata benar tersebar dan ketika kabar samar yang ternyata salah tersebar. Penelitian yang digagas oleh Paul van Lange dari Vrij Universiteit Amsterdam, Szabolcs Számadó dari Akademi Ilmu Pengetahuan Hungaria, dan Junhui Wu dari Akademi Ilmu Pengetahuan China ini mensimulasikan gosip sebagai suatu segitiga.

Salah satu dasar sudut segitiga adalah penggosip, dasar sudut lainnya adalah penerima, dan bagian atas segitiga adalah orang ketiga yang sedang dibicarakan saat tidak hadir. Model ini kemudian digunakan untuk mengeksplorasi empat interaksi sosial yang berbeda menggunakan empat permainan untuk mengetahui dampak yang memungkinkan dari bergosip. Adapun dampak yang dimaksud adalah termasuk apakah ada yang diuntungkan maupun dirugikan dari gosip tersebut.

Ilustrasi Bergunjing/Foto: Pexels/ Keira Burton
Ilustrasi Bergunjing/Foto: Pexels/ Keira Burton

Sebuah hipotesis yang diuji dari pemodelan ini adalah bahwa penggosip akan memilih untuk menyebarkan kebenaran atau kabar samar secara jujur. Tujuannya untuk memaksimalkan keuntungan pribadi mereka sendiri tanpa merugikan reputasi mereka diimbangi dengan pertimbangan tentang hubungan apa yang mereka miliki dengan kedua pihak yang terlibat (baik komunikan dan orang yang dibicarakan).

Secara umum, penggosip ditemukan akan bersikap jujur ketika mereka berbagi tujuan dengan kedua pihak lain, entah untuk berbagi kesuksesan atau dalam hal memupuk hubungan interpersonal. Tapi, ketika hubungan mereka tidak cocok dengan penerima gosip maupun orang yang dibicarakan, kebohongan tambahan lebih memungkinkan untuk tercipta.

"Misalnya, Anda mungkin bersaing dengan rekan kerja untuk mendapatkan promosi berharga, di mana hanya satu dari Anda yang bisa mendapatkan pekerjaan itu. Dalam situasi seperti itu, orang-orang saling bergantung secara negatif: kegagalan satu orang berarti kesuksesan orang lain. Situasi seperti itu dapat diharapkan mengarah pada gosip yang tidak jujur untuk merugikan rekan kerja, atau gosip yang jujur ketika isi gosip sudah negatif," terang penulis pendukung dan ahli metafisika Leo Tiokhin dari Universitas Teknologi Eindhoven di Belanda. 

Ilustrasi Bergunjing/Foto: Pexels/Rodnae
Ilustrasi Bergunjing/Foto: Pexels/Rodnae

Meski sempat memenangkan penghargaan Ig Nobel, namun model yang digunakan peneliti pada dasarnya hanya bersifat teoritis dan belum tentu mencerminkan kompleksitas interaksi sosial karena mengandalkan asumsi dari sebagian pihak.

Misalnya, penelitian dilakukan dengan asumsi bahwa pendengar selalu mempercayai apa yang didengarnya dari penggosip, dan asumsi bahwa penggosip selalu tahu apakah orang yang diajak bicara atau yang dibicarakan berpihak di sisi yang sama dengan mereka atau tidak. Karena penggosip membuat keputusan optimal akan kejujuran mereka bergantung pada keuntungan, penelitian menemukan bahwa bergosip tentang orang yang dicintai lebih cenderung positif sehingga mungkin membuat kelompok yang saling berhubungan menjadi lebih erat.

Setelah penemuan mencengangkan ini, Leo tetap mengakui bahwa diperlukan perluasan indikator, konsep dan metode untuk bisa menghasilkan teori yang lebih akurat.

Kamu tim mana nih, Beauties? Setujukah jika gosip bisa mendatangkan manfaat?

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE