Update Kasus Dugaan Riset Palsu di Konferensi Internasional, Sosok Terduga Pelaku Rilis Klarifikasi

Nadya Quamila | Beautynesia
Jumat, 29 May 2026 11:30 WIB
Kronologi WNI Diduga Lakukan Pemalsuan Penelitian di Konferensi Internasional
Ilustrasi/Foto: Pexels/Tara Winstead

Beauties, netizen Tanah Air di media sosial sedang dihebohkan dengan kasus dugaan pemalsuan riset di konferensi internasional yang dilakukan oleh Warga Negara Indonesia (WNI). Nama WNI ini sedang menjadi trending topic, mereka adalah Rifaldy Fajar dan Prihantini.

Keduanya adalah alumni dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan sama-sama mengambil program studi Matematika. Lalu, Prihantini juga merupakan alumni dari Program Magister Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB angkatan 2020.

Dugaan pemalsuan riset ini terungkap saat keduanya mengikuti konferensi ilmiah International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026, yaitu sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli Pneumonia di seluruh dunia. Tahun ini, ISPPD diadakan di Kopenhagen, Denmark pada 17 - 21 Mei 2026.

Setelah kasus ini viral, Rifaldy dan tim sempat diduga mengunggah permintaan maaf. Lalu, menanggapi kasus ini, UNY dan ITB buka suara. Berikut update terbaru dari kasus dugaan pemalsuan riset oleh WNI di konferensi dunia!

Kronologi WNI Diduga Lakukan Pemalsuan Penelitian di Konferensi Internasional

Ilustrasi penelitian

Ilustrasi/Foto: Pexels/Tara Winstead

Kasus ini pertama kali mencuat dari akun Ida Bagus Mandhara Brasik dan Wa Ode Dwi Daningrat atau Dwi. Ida Bagus adalah dosen dan peneliti Departemen Ilmu Kelautan Universitas Udayana, sementara itu Dwi adalah peneliti Indonesia yang berkiprah di bidang clinical medicine di University of Oxford. Dwi hadir di dalam konferensi ISPPD 2026 di Kopenhagen.

Saat itu, ada sekelompok peneliti asal Indonesia, termasuk di dalamnya adalah Rifaldy Fajar dan Prihantini, yang mempresentasikan temuan luar biasa. Dilansir dari detikEdu, Prihantini mengirimkan empat judul penelitian di konferensi ini. Judul riset tersebut dikerjakan Prihantini bersama Rifaldy Fajar dan Rini Winarti. Baik Prihantini dan Rifaldy menggunakan nama AI-Biomedicine Research Group, IMCDS-Biomed Research Foundation, Jakarta sebagai institusi asal. Sementara Rini Winarti memakai nama Departemen Biologi, Universitas Negeri Yogyakarta. Judul riset tersebut ditampil dalam bentuk poster dalam konferensi tersebut.

Dwi menemukan sejumlah kejanggalan dari kelompok periset tersebut. Mulai dari dugaan pemalsuan identitas, identitas lembaga yang fiktif, hasil penelitian yang diduga palsu, hingga dugaan fabrikasi data menggunakan AI.

"Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag," bunyi unggahan Ida Bagus dan Dwi, Senin (25/5). Prihantini diduga berganti identitas untuk mempresentasikan penelitian atas nama Riana Dwi Kurniawati dan Dimas Fajar Prasetyo. Namun, nama Prihantini tak ada dalam daftar penulis di penelitian-penelitian yang dipresentasikannya.

"Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu! Dibuat dengan AI dan/atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di-generate AI, gambar dan tulisannya juga," lanjutnya.

[Gambas:Instagram]

Lebih lanjut, Ida dan Dwi juga memaparkan bahwa lokasi riset yang digunakan tidak masuk akal, seperti Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, Nepal, hingga India Utara. Namun, anehnya, semua perisetnya adalah orang Indonesia tanpa adnya kolaborator setempat dan persetujuan etik.

Tak hanya itu, kelompok peneliti ini menggunakan lembaga AI-BioMedicine Research Group, IMCDS-BioMed Research Foundation di Jakarta sebagai identitas mereka. Lembaga ini diduga fiktif, Beauties.

Lantas, apa motifnya? Ida dan Dwi menduga bahwa kelompok periset ini berusaha mendapatkan dana travel grant yang membuat mereka bisa pergi ke luar negeri secara gratis.

"Dengan cara ini, pelaku mendapatkan dana travel grant yang membuat mereka bisa keluar negeri "GRATIS". Gratis, karena yang "bayar" mahal adalah Indonesia yang nama baiknya rusak di mata ilmuwan dunia," sambungnya.

Setelah kasus ini viral di media sosial, terungkap pula bahwa rupanya ini bukan pertama kalinya Rifaldy Fajar dan Prihantini diduga melakukan aksi serupa. Ada beberapa konferensi internasional lainnya yang berhasil diikuti oleh keduanya., seperti iCRS 2025, Outstanding Research Abstract Award di Kyoto, hingga APASL STC 2025.

Akun Diduga Milik Rifaldy Fajar Merilis Klarifikasi

Ilustrasi penelitian

Ilustrasi/Foto: Pexels/Markus Winkler

Setelah kasus ini viral dan bikin heboh, netizen menyoroti satu akun di Instagram yang diduga merupakan akun baru Rifaldy Fajar. Akun tersebut memberikan klarifikasi dan meminta maaf atas dugaan pemalsuan riset.

Rifaldy dan tim mengaku akun media sosial mereka yang lama di-banned. Klarifikasi tersebut diunggah atas nama Rifaldy Fajar dan tim.

Berikut klarifikasinya:

Dengan segala kerendahan hati, kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada seluruh pihak atas polemik dan kegaduhan yang terjadi terkait aktivitas konferensi internasional yang kami lakukan. Kami memohon maaf bahwa partisipasi kami dalam konferensi memang bertujuan untuk memperoleh travel grant sekaligus kesempatan untuk bepergian ke luar negeri.

Kami juga memohon maaf bahwa dalam beberapa abstrak dan presentasi terdapat penggunaan Al secara berlebihan dan tidak semestinya, termasuk kombinasi falsfying Al dalam proses penyusunan, framing, dan representasi penelitian. Hal tersebut membuat beberapa karya kami tidak disusun dengan standar transparansi akademik yang seharusnya.

Kami memohon maaf atas kurangnya pemahaman dan etika kami dalam menjalankan aktivitas penelitian dan akademik. Terkait afiliasi, kami memohon maaf bahwa beberapa institusi dicantumkan tanpa izin maupun keterlibatan resmi dari institusi terkait. Kesalahan tersebut sepenuhnya berasal dari pihak kami.

Kami juga meminta maaf terkait penggunaan afiliasi komunitas riset independen kami yang pada penyampaiannya menimbulkan kesalahpahaman seolah-olah merupakan institusi formal resmi. Selain itu, kami mengakui adanya pencantuman nama beberapa individu yang tidak hadir atau tidak terlibat langsung dalam konferensi tertentu, serta adanya presentasi yang diwakili oleh satu orang untuk beberapa nama penulis sekaligus. Hal tersebut merupakan kesalahan kami.

Kami juga memohon maaf bahwa tindakan kami telah menimbulkan kekecewaan dan merusak kepercayaan banyak pihak terhadap integritas akademik.

Kami benar-benar menyesali seluruh tindakan dan keputusan yang telah kami ambil. Kami berkomitmen untuk tidak mengulangi hal serupa lagi dan akan menjadikan peristiwa ini sebagai
pelajaran besar dalam hidup kami.

Sekali lagi, kami memohon maaf kepada seluruh pihak yang dirugikan, termasuk institusi, individu, panitia konferensi, komunitas akademik, dan masyarakat luas. Terima kasih.

Hormat kami,

Rifaldy dan Tim.

UNY, ITB, dan LPDP Buka Suara

Momen saat Prihantini mempresentasikan riset di International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Disease (ISPPD) di Copenhagen, Denmark, 18 Mei 2026 lalu

Momen saat Prihantini mempresentasikan riset di International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Disease (ISPPD) di Copenhagen, Denmark, 18 Mei 2026 lalu/Foto: Dok. WO Dwi Daningrat

Menanggapi kasus ini, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) buka suara. Prihantini merupakan alumni Program Magister Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB angkatan 2020 dan telah lulus pada tahun 2022. Selain itu, Prihantini juga tercatat sebagai alumni penerima beasiswa LPDP yang telah menyelesaikan studinya pada tahun 2022.

Dilansir dari situs resminya, ITB melalui Dekan FMIPA ITB, Aep Patah, SSi, MSi, PhD, menjelaskan bahwa materi yang dipresentasikan yang bersangkutan dalam konferensi internasional tersebut tidak berkaitan dengan tesis maupun aktivitas akademik di ITB. Adapun Tesis Prihantini saat menempuh studi Magister di ITB berjudul "Kajian Analitik Gelombang Air Akibat Longsoran pada Pantai Miring".

"ITB menyatakan sikap bahwa tindakan Saudari Prihatini tersebut merupakan tindakan hukum sebagai seorang individu. Dengan demikian jika terdapat proses hukum atas tindakan tersebut, maka ITB sangat menghormati upaya hukum dimaksud," bunyi pernyataan ITB.

ITB menegaskan komitmen untuk terus memperkuat budaya akademik, khususnya di ranah penelitian yang berintegritas dan bertanggung jawab. ITB tidak mentoleransi plagiarisme, fabrikasi data, manipulasi hasil, maupun bentuk pelanggaran etika ilmiah lainnya dalam kegiatan akademik dan penelitian.

Sementara itu, menanggapi informasi yang beredar di media sosial mengenai dugaan pelanggaran integritas akademik pada konferensi internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen, LPDP menegaskan komitmennya untuk senantiasa menjunjung tinggi integritas, profesionalisme, dan etika akademik. LPDP tidak mentoleransi segala bentuk pelanggaran dalam aktivitas ilmiah.

"Sehubungan dengan hal tersebut, LPDP saat ini masih perlu mendalami dan menelaah informasi yang beredar, termasuk melakukan verifikasi terhadap data dan fakta yang relevan. Berdasarkan pengecekan awal data internal, yang bersangkutan atas nama Prihantini tercatat sebagai alumni penerima beasiswa LPDP yang telah menyelesaikan studinya pada tahun 2022," demikian dikonfirmasi Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP M Lukmanul Hakim saat dikonfirmasi detikEdu, Kamis (28/5).

LPDP akan melakukan penelaahan lebih lanjut terkait kepatuhan terhadap kewajiban kontrak beasiswa serta berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk perguruan tinggi, guna memperoleh kejelasan yang komprehensif.

"Hasil dari proses pendalaman ini akan menjadi dasar bagi LPDP dalam menentukan tindak lanjut sesuai ketentuan yang berlaku. LPDP mengapresiasi perhatian publik dan berkomitmen untuk terus menjaga akuntabilitas serta kehormatan komunitas akademik Indonesia di tingkat global," pungkas Lukmanul.

Di sisi lain, UNY sedang menyelidiki nama-nama alumninya yang diduga melakukan pemalsuan riset. Wakil Rektor UNY bidang Akademik Prof Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro, MPd, PhD mengungkapkan 3 nama alumni UNY yang sedang ditelisik adalah Rini Winarti, Rifaldy Fajar, dan Prihantini.

"Jadi memang kalau posisi saat ini masih proses mendapatkan konfirmasi (dari terduga alumnus UNY). Sejak Selasa itu kan memang posisi libur. Saya kurang tahu juga (kenapa susah dihubungi), mungkin banyak orang yang mengontak beliau bertiga (terduga). Kalau setahu saya itu satu Rifaldi, dua Prihantini, ketiga Rini. Rini itu Biologi, (ada nama alumni di UNY) Rini Winarti. Jadi, Rifaldi Fajar, nggih, kemudian Prihantini itu Matematika, sama Rifaldi," demikian dikatakan Prof Nur Hidayanto saat dikonfirmasi detikEdu, Kamis (28/5).

Di data UNY, ketiga nama itu ada di database alumni. Hanya memang masih diklarifikasi, apakah nama itu memang benar alumninya atau hanya kesamaan nama.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE