Viral di Medsos, Ini Kronologi WNI Diduga Lakukan Pemalsuan Penelitian di Konferensi Internasional

Nadya Quamila | Beautynesia
Rabu, 27 May 2026 12:30 WIB
Viral di Medsos, Ini Kronologi WNI Diduga Lakukan Pemalsuan Penelitian di Konferensi Internasional
Ilustrasi penelitian/Foto: Pexels/Tara Winstead

Media sosial Tanah Air dihebohkan dengan dugaan pemalsuan riset terorganisir di konferensi internasional yang dilakukan oleh Warga Negara Indonesia (WNI). Hal ini pertama kali terungkap melalui unggahan di akun Instagram @mandharabrasika dan @w.o.d.d atau Ida Bagus Mandhara Brasika dan Wa Ode Dwi Daningrat, dosen serta peneliti, Senin (25/5).

Menurut unggahan tersebut, dugaan pemalsuan ini terungkap di konferensi ilmiah International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026, yaitu sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli Pneumonia di seluruh dunia. Tahun ini, ISPPD diadakan di Kopenhagen, Denmark pada 17 - 21 Mei 2026.

Dua nama WNI sekaligus periset yang terlibat di dalam kasus ini adalah alumni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yaitu Rifaldy Fajar dan Prihantini. Nama keduanya menjadi viral di media sosial sejak kasus ini terungkap.

Dwi menceritakan kejanggalan yang ia temukan pada abstrak ilmiah yang dibuat oleh sekelompok periset tersebut. Mulai dari Prihantini yang diduga berganti-ganti nama, jilbab, dan nametag saat presentasi hingga hasil penelitian yang tidak akurat dan diduga menggunakan Artificial Intelligence (AI).

Berikut ini kronologi kasus dugaan pemalsuan penelitian oleh periset Indonesia di konferensi internasional yang lagi viral di media sosial!

Kronologi WNI Diduga Lakukan Pemalsuan Penelitian di Konferensi Internasional

Ilustrasi penelitian

Ilustrasi penelitian/Foto: Pexels/Markus Winkler

Kasus ini pertama kali mencuat dari akun Ida Bagus Mandhara Brasik dan Wa Ode Dwi Daningrat atau Dwi. Ida Bagus adalah dosen dan peneliti Departemen Ilmu Kelautan Universitas Udayana, sementara itu Dwi adalah peneliti Indonesia yang berkiprah di bidang clinical medicine di University of Oxford. Dwi hadir di dalam konferensi ISPPD 2026 di Kopenhagen.

Saat itu, ada sekelompok peneliti asal Indonesia, termasuk di dalamnya adalah Rifaldy Fajar dan Prihantini, yang mempresentasikan temuan luar biasa. Namun, Dwi menemukan sejumlah kejanggalan dari kelompok periset tersebut. Mulai dari dugaan pemalsuan identitas, identitas lembaga yang fiktif, hasil penelitian yang diduga palsu, hingga dugaan fabrikasi data menggunakan AI.

"Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag," bunyi unggahan Ida Bagus dan Dwi, Senin (25/5).

"Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu! Dibuat dengan AI dan/atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di-generate AI, gambar dan tulisannya juga," lanjutnya.

Lebih lanjut, Ida dan Dwi juga memaparkan bahwa lokasi riset yang digunakan tidak masuk akal, seperti Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, Nepal, hingga India Utara. Namun, anehnya, semua perisetnya adalah orang Indonesia tanpa adnya kolaborator setempat dan persetujuan etik.

Tak hanya itu, kelompok peneliti ini menggunakan lembaga AI-BioMedicine Research Group, IMCDS-BioMed Research Foundation di Jakarta sebagai identitas mereka. Lembaga ini diduga fiktif, Beauties.

Lantas, apa motifnya? Ida dan Dwi menduga bahwa kelompok periset ini berusaha mendapatkan dana travel grant yang membuat mereka bisa pergi ke luar negeri secara gratis.

"Dengan cara ini, pelaku mendapatkan dana travel grant yang membuat mereka bisa keluar negeri "GRATIS". Gratis, karena yang "bayar" mahal adalah Indonesia yang nama baiknya rusak di mata ilmuwan dunia," sambungnya.

Setelah kasus ini viral di media sosial, terungkap pula bahwa rupanya ini bukan pertama kalinya Rifaldy Fajar dan Prihantini diduga melakukan aksi serupa. Ada beberapa konferensi internasional lainnya yang berhasil diikuti oleh keduanya., seperti iCRS 2025, Outstanding Research Abstract Award di Kyoto, hingga APASL STC 2025.

[Gambas:Instagram]

Siapa Rifaldy Fajar dan Prihantini?

Rifaldy Fajar adalah seorang alumni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dari Program Studi Sarjana Matematika, FMIPA dan menyelesaikan studinya pada tahun akademik 2020/2021. Ia termasuk salah satu mahasiswa berprestasi dan memiliki minat yang tinggi pada matematika terapan, riset ilmiah, serta pengembangan teknologi berbasis data. 

Sementara itu, Prihantini juga merupakan alumni UNY dan berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjana Matematik pada 2019. Ia kemudian melanjutkan studi Magister Matematika di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada bidang Matematika. Sama seperti Rifaldy, Prihantini dikenal sebagai mahasiswa berprestasi dan sering mengikuti berbagai perlombaan, konferensi, hingga forum ilmiah.

Kasus dugaan pemalsuan penelitian ini masih jadi perbicangan hangat di berbagai media sosial. Salah satu topik yang disorot adalah dampak fatalnya bagi peneliti Indonesia lainnya di mata internasional.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE