Viral di Medsos, Ini Kronologi Penumpang Perempuan Alami Pelecehan Seksual di KRL: Langsung Tegur Pelaku
Viral di media sosial seorang perempuan penumpang kereta rel listrik (KRL) rute Bogor-Jakarta Kota mengalami pelecehan seksual pada Senin (9/3) pukul 06:30. Tak tinggal diam, perempuan tersebut langsung menegur dan melabrak pelaku. Kronologi kejadian dibagikan oleh korban melalui akun Instagramnya.Â
"I just want to share an unpleasant experience that happened yesterday on the @commuterline. Sadly I had to go through (again) (Saya hanya ingin berbagi pengalaman tidak menyenangkan yang terjadi kemarin di @commuterline. Sayangnya saya harus mengalaminya (lagi))," tulis akun @inanisaaaa_.
Video yang berwarna hitam putih yang dibagikan korban memperlihatkan wajah pelaku pelecehan seksual di KRL. Korban sempat berteriak meminta tolong usai pelaku melancarkan aksinya.
Kronologi Kasus Pelecehan Seksual di KRL yang Viral di Medsos
Ilustrasi kereta rel listrik (KRL)/Foto: dok. KCI
Menurut penuturan korban, pelaku awalnya menempelkan dan menggesekkan alat vitalnya di bagian belakang tubuh korban. Kala itu, korban masih berusaha bersikap tenang karena kondisi gerbong kereta yang memang padat.
Namun, ada satu momen ketika korban berusaha membuka kamera ponselnya, dan terlihat pantulan wajah pelaku yang sedang tersenyum dan berkata, "Turun di mana?" sembari memegang area pinggul korban. Bahkan, menurut korban, pelaku sempat memasukkan tangannya ke dalam baju korban.
"At that time gue pengen balik badan dan nimpuk mukanya tapi gue bener-bener nggak bisa ngapa-ngapain. Baadan gue kaku seakan-akan nggak bisa ngasih perlawanan, dan karena nggak ada perlawanan itu mungkin pelaku mengira kalau gue "menikmatinya", aduh amit-amit, deh," tulis korban.
Korban merasa panik, ketakutan, dan muak. Ia lalu merekam wajah pelaku dan menegur pelaku. "Bisa diam nggak tangan lo?" tegur korban kepada pelaku. Korban lalu berteriak meminta tolong, "Pak, tolong, Pak, pelecehan!"
Pelaku terlihat membantah aksinya dalam video yang dibagikan korban dan mengatakan tidak tahu apa-apa. Beberapa penumpang yang berada di tempat kejadian kemudian menolong korban yang panik dan menangis.
"Gue teriak minta pertolongan dan ada beberapa orang yang menjauhkan gue dengan pelaku. Gue nggak tau dia [pelaku] turun atau nggak karena gue langsung dikasih seat dengan posisi gue yang nggak bisa berhenti nangis sambil gemetar setelah ada kakak laki-laki bilang, "Mba duduk aja di sana, orangnya ngeliatin terus soalnya"," ujar korban.
Tanggapan KAI atas Kasus Pelecehan di KRL yang Viral di Medsos
KAI Commuter Indonesia (KCI) menyatakan turut prihatin atas tindak pelecehan seksual yang terjadi pada Senin (9/3) pukul 06.30 WIB di dalam Commuter Line. Public Relations Manager KCI, Leza Arlan, menegaskan pihaknya tidak akan menoleransi segala bentuk tindakan kekerasan seksual yang terjadi baik di dalam KRL ataupun di stasiun.
KCI akan memasukkan ciri-ciri sosok pelaku ke dalam sistem CCTV yang mereka punya. Nantinya, jika pelaku terdeteksi, CCTV akan memberi notifikasi kepada petugas lapangan.
"Berdasarkan laporan yang diterima, saat ini petugas kami sedang melakukan penelusuran melalui CCTV dan konfirmasi dengan korban, untuk selanjutnya akan dimasukkan ke dalam data base CCTV analytic yang mana CCTV ini dapat mendeteksi wajah terduga pelaku yang melakukan tindakan kriminalitas," kata Leza, Selasa (10/3), dikutip dari detikNews.
KCI akan mendampingi korban untuk melaporkan dan menyerahkan pelaku ke pihak yang berwajib guna melanjutkan proses hukum. "KAI Commuter juga akan memberikan pendampingan kepada korban secara psikologis, untuk menguatkan korban," tambahnya.
Sementara itu, korban mengatakan bahwa dirinya telah memproses kasus pelecehan ini di jalur hukum pada Selasa (10/3).
"Update kasus. Aku telah memproses kasus ini di jalur hukum sejak tanggal 10 Maret 2026 dan alhamdulillah sudah melalui beberapa tahapan, mulai dari identifikasi awal, melapor ke Polresta setempat, visum, dan dilakukan penyidikan. Sejauh ini pihak KAI maupun Polresta setempat sangat membantu daan mengayomi. Mohon doanya agar kasusnya bisa terselesaikan dengan baik dan pelaku bisa mendapatkan hukuman sesuai dengan UU yang berlaku," ungkap korban.
Masih Banyak Komentar Nirempati dan Tak Pantas terhadap Korban
Ilustrasi/Foto: Ilustrasi dari LLLLixi
Usai membagikan kronologi kejadian pelecehan seksual yang dialaminya, video korban menjadi viral di media sosial dan menuai beragam reaksi. Kolom komentar video tersebut dibanjiri dukungan dan pujian karena korban berani bersuara meski tidak mudah.
Namun, di sisi lain, sayangnya, masih banyak pula komentar-komentar nirempati dan tidak pantas yang ditujukan kepada korban. Ada sejumlah orang yang berkomentar soal pakaian korban, mengapa korban hanya diam saat pelaku melancarkan aksinya, hingga mempertanyakan mengapa korban menangis.
Beauties, perlu kita ketahui bahwa respon membeku saat seseorang mengalami ancaman adalah hal yang wajar terjadi. Hal ini dikenal dengan istilah tonic immobility, yaitu kelumpuhan sementara pada seseorang saat menghadapi ancaman intens, misalnya seperti pelecehan seksual. Korban merasakan ketakutan luar biasa sehingga susah berbicara dan susah bergerak sehingga stimulasi apa pun tidak akan bisa menggerakkan tubuhnya.
Menurut Maryland Coalition Against Sexual Assault (MCASA), secara ilmiah setiap orang pasti akan mengalami freeze atau kelumpuhan sementara ketika menghadapi bahaya meskipun hanya sepersekian detik. Setelah mengalami syok, korban secara naluriah akan mengambil tindakan antara tiga hal, yaitu melawan jika bahayanya dirasa dapat diatasi, lari ketika dia melihat peluang untuk melarikan diri, atau tetap membeku jika bahaya yang dialami sangat mencekam.
Bagi korban yang diam membeku dan tidak melawan, korban dianggap 'menikmati' pelecehan seksual yang dilancarkan oleh pelaku. Faktanya, segala bentuk pelecehan seksual adalah pengalaman yang menakutkan dan memalukan, di mana korban tidak memiliki kendali atas apa yang terjadi. Tentu tidak ada yang menikmati pengalaman seperti itu.
Berbicara soal pakaian korban, ketika ada kasus pelecehan seksual menyeruak ke permukaan, respon pertama yang masih sering dilontarkan oleh publik adalah, "baju apa yang dikenakan korban?". Jika korban mengenakan pakaian terbuka atau seksi, maka publik langsung percaya bahwa itu adalah kesalahan korban. Menurut mereka, berpakaian terbuka artinya 'mengundang' nafsu sehingga terjadi pelecehan seksual.
Penelitian menemukan bahwa korban pelecehan seksual bervariasi dalam penampilan, jenis pakaian, usia, dan perilaku. Faktanya, pakaian bukanlah penyebab pelecehan seksual. Kesalahan sepenuhnya ada pada pelaku.
Pelaku Pelecehan Seksual di Transportasi Publik Bisa Dijerat UU TPKS
Para pelaku pelecehan seksual di transportasi publik bisa dijerat dengan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS). UU TPKS memasukkan sembilan jenis kekerasan seksual yang bisa dijerat pidana, di antaranya pelecehan seksual non fisik dan fisik.
Dalam Pasal 5 UU TPKS, pelaku pelecehan seksual non fisik dapat dipidana hingga 9 bulan penjara dan denda paling banyak Rp10 juta. Pelecehan seksual non fisik sendiri kerap terjadi di ruang publik, termasuk di transportasi publik, misalnya seperti catcalling yang masih kerap terjadi. Pelecehan seksual non fisik sendiri meliputi pernyataan, gerak tubuh, atau aktivitas yang tidak patut dan mengarah kepada seksualitas dengan tujuan merendahkan atau mempermalukan.
Sementara itu untuk pelecehan fisik, sebagaimana diatur dalam Pasal 6 UU TPKS, pelaku dapat dipidana hingga 12 tahun penjara dan denda paling banyak Rp300 juta.
Pelecehan seksual bukan hal yang bisa dipandang sebelah mata dan dianggap angin lalu, Beauties. Ini bukan pertama kalinya kasus pelecehan seksual di transportasi publik menjadi viral.
Namun, komentar senada bernuansa nirempati masih saja sering terdengar. Pilunya, semua komentar tersebut selalu memojokkan korban, bukannya fokus pada kesalahan pelaku dan mencari solusi agar hal serupa tidak terulang kembali.
Yuk, edukasi diri sendiri dan orang lain bahwa pelecehan seksual adalah sepenuhnya kesalahan pelaku, bukan korban. Alih-alih memojokkan korban, kita seharusnya bisa berempati dan membantu korban untuk pulih dari traumanya.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!