sign up SIGN UP

VIDEO VIRAL

Pelecehan Seksual Terhadap Dinar Candy, Potret Masyarakat yang Permisif akan Kekerasan pada Perempuan

Amelia Ayu Kinanti | Sabtu, 10 Jul 2021 13:54 WIB
Pelecehan Seksual Terhadap Dinar Candy, Potret Masyarakat yang Permisif akan Kekerasan pada Perempuan
caption
Jakarta -

Di sosial media tengah viral rekaman seorang presenter, Dinar Candy yang mengalami pelecehan saat tengah syuting sebuah program di salah satu stasiun televisi. Video ini kali pertama justru diunggah oleh akun resmi stasiun televisi tersebut, dengan caption yang cukup menarik perhatian pemirsa "Host Dinar Candy nggak mau syuting gegara ini!" seolah pelecehan yang dialami adalah sebuah hal yang hanya dijadikan alat untuk clickbait alias mengundang orang agar banyak yang melihat.

Pelecehan Terjadi di Ruang Publik

Pelecehan Seksual dan Rasial di Australia Banyak Dialami Perempuan Keturunan AsiaPelecehan Terjadi di Ruang Public/ Foto: ABC Australia

Beauties, yuk sama-sama kita bedah, betapa banyak hal yang salah yang terjadi dalam video tersebut. Yang pertama, pelecehan terjadi di ruang publik. Pelaku dengan beraninya melakukan pelecehan, di siang bolong, di depan orang banyak, padahal Dinar saat itu dikelilingi kru dan ada petugas keamanan berseragam di situ.

Saat Dinar berteriak dan bilang ia mengalami pelecehan, mari kita amati apa yang dilakukan orang sekitar? Yup, sebagian tertawa, sebagian menganggap tidak terjadi hal serius, bahkan diam saja. Lalu apa yg dilakukan petugas keamanan? Mengamankan pelaku. Bukan mengamankan korban. Ironis bukan?

Korban Diminta Memaafkan Pelaku

Korban Diminta Maafkan PelakuKorban Diminta Maafkan Pelaku/ Foto: freepik

Mari kembali perhatikan videonya, dan dengarkan apa yang dikatakan saksi (orang sekitar) saat pelecehan terjadi. Selain mereka tertawa-tawa, mereka malah meminta korban untuk memaafkan pelaku. Ada satu ibu (berkerudung ungu) dengan jelas mendekat ke arah dinar dan berkali-kali bilang "maapin aja yaa..".

Saat kita perhatikan lagi, lebih banyak orang yang meminta Dinar memaafkan pelaku, ketimbang mereka yang justru menegur pelaku. Dalam hal ini Dinar sebagai korban seperti berjuang sendiri, menjelaskan bahwa ia mengalami pelecehan, bahwa apa yang dilakukan pelaku adalah salah.

Ini menggambarkan mayoritas masyarakat yang masih memaklumi tindakan pelecehan, ketimbang mengajar orang untuk tidak melecehkan, mereka lebih memilih untuk meminta korban untuk memaafkan pelecehan yang mereka alami.

Sikap Netizen yang Menyalahkan Korban

Dinar Candy saat ditemui di Trans TV.Dinar Candy/ Foto: Noel/detikFoto

Tak sedikit juga komentar jelek justru ditujukan pada Dinar. Padahal sudah jelas, dan disaksikan orang banyak ia mengalami pelecehan. Namun komentar kebanyakan netizen tetap menyalahkan busana yang dikenakan Dinar.

Sekali lagi budaya victim blaming atau menyalahkan korban masih sangat melekat di masyarakat kita. Seolah karena pilihan busana, seseorang boleh dilecehkan. Sebuah pemikiran yang sangat salah.

Perlu Disikapi Secara Serius

Dinar Candy saat ditemui di kawasan Trans TV.Dinar Candy/ Foto: Noel/detikFoto

Hingga artikel ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Dinar ataupun stasiun TV tempatnya bekerja mengenai kelanjutan kasus pelecehan seksual ini. Namun seharusnya, ini tentu perlu diseriusi. Pelecehan seksual bukanlah bahan drama untuk sekadar mendulang penonton lebih banyak. Jika ini dibiarkan, maka akan semakin melenggangkan kesalapahaman soal pelecehan seksual di ruang publik.

Sekali lagi pelecehan seksual dibiarkan, sekali lagi korban disalahkan, sekali lagi pelaku dibebaskan. Mau sampai kapan?

Kalau menurutmu bagaimana Beauties?

(ayk/ayk)

Our Sister Site

mommyasia.id