sign up SIGN UP

Sering Dinormalisasi, Sudah Saatnya Rape Culture Dihentikan untuk Selamatkan Korban

Salsabila Rimawan | Senin, 22 Nov 2021 11:45 WIB
Sering Dinormalisasi, Sudah Saatnya Rape Culture Dihentikan untuk Selamatkan Korban
Apa itu rape culture, dan mengapa kita harus menghentikannya sesegera mungkin?/Foto: Pexels.com/RODNAE Production

Ada banyak kejadian di sekitar kita yang merupakan bentuk dari tindakan pelecehan dan kekerasan seksual, tetapi sayangnya, masih sering dimaklumi dan dan dianggap biasa. 

“Ah maklum, namanya juga cowok.”

“Kan di-siulin doang, gitu aja marah!”

“Siapa suruh pakai baju terbuka.”

Apakah kamu sering mendengar kata-kata tersebut, Beauties?

Pemakluman dari tindakan pelecehan disebut dengan rape culture. Menurut Women’s & Gender Center Marshall University, rape culture adalah suatu istilah ketika pelecehan seksual dianggap lazim dan kekerasan seksual terhadap seseorang dinormalisasi dan dimaafkan baik di lingkup masyarakat, media dan budaya populer.

Dampak dari Rape Culture bagi Korban

Dampak Buruk Rape Culture pada Korban
Dampak Buruk Rape Culture/Foto: pexels.com/ Kat Smith


Ada banyak dampak buruk dari rape culture terutama dari sisi korban. Korban akan merasa disudutkan atas kejadian yang tidak diinginkannya sama sekali. Pelecehan yang dialami korban yang dianggap sepele membuatnya takut untuk speak up bahkan enggan untuk melaporkan kejadian tidak mengenakkan tersebut.

Dari adanya rape culture, para korban kekerasan dan pelecehan seksual bukan hanya terluka fisiknya, tetapi juga merasa bersalah akan dirinya, merasa khawatir dan berujung pada luka pada mentalnya. Lantas, bagaimana dengan pelaku?

Pelaku dapat melenggang dengan bebas tanpa merasa bersalah. Rape culture membuat ruang gerak masyarakat yang rentan menjadi terbatas. Dikutip dari UN Women, pada dasarnya, rape culture mempengaruhi kita semua, terlepas dari identitas gender, seksualitas, status ekonomi, ras, agama atau usia. Mencabutnya berarti meninggalkan definisi gender dan seksualitas yang membatasi hak seseorang untuk mendefinisikan dan mengekspresikan diri.

Cara Menghentikan Rape Culture

Cara-cara menghentikan rape culture
Menghentikan Rape Cultire/Foto: pexels.com/Matheus Bertelli

Apa yang bisa kita lakukan untuk menghentikan rape culture?

Cara yang paling mudah adalah dengan mengedukasi diri sendiri. Jika kita sudah paham dan mampu mengidentifikasi bentuk dari rape culture, maka ketika orang terdekat ataupun orang lain mengalami hal tersebut, kita tidak hanya tinggal diam dan bisa membantu mereka.

Banyak sekali cara untuk mengedukasi diri, seperti terlibat dalam diskusi, mengikutsertakan diri untuk menyuarakan suara korban dan melantangkan penolakan atas normalisasi rape culture. Kamu juga bisa memenuhi informasi akan gender, toleransi, hingga kelompok minoritas dari buku, penelitian atau media yang kredibel. 

Dengan membekali diri dengan ilmu yang tepat dan benar, kamu jadi tahu bahwa tindakan tersebut adalah tindakan yang salah. Lalu, bukan tawa atau ejek yang kamu lontarkan, tapi melindungi dan bersama dengan korban untuk mendukungnya melaporkan kekerasan atau pelecehan seksual yang dialami.

Kekerasan Dalam Rumah TanggaRape Culture/Foto: Pexels/Karolina Grabowska/ Foto: Pexels/Karolina Grabowska

Siapapun dan dari manapun pelaku berasal, tidak memandang status sosial dan latar belakang lainnya, pelaku perlu mempertanggungjawabkan tindakannya. Korbanlah yang harus dilindungi.

Selain itu, kita juga perlu sebarkan informasi dan pengetahuan yang didapatkan ke orang lain sehingga rape culture tidak tumbuh di generasi selanjutnya.  Semakin banyaknya generasi muda yang paham dampak rape culture, semakin banyak pula korban yang berani melantangkan suara atas kebenaran. 

“We hear you. We see you. We believe you.”

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id