sign up SIGN UP

RELATIONSHIP

Awas, Ini Bahaya Memuji Anak Secara Berlebihan

tjitradewi | Senin, 19 Apr 2021 18:15 WIB
Awas, Ini Bahaya Memuji Anak Secara Berlebihan
caption

Perkembangan anak usia dini memang sungguh pesat. Berbagai milestone bulan demi bulan pun dilalui. Mulai dari bisa tengkurap, duduk, merangkak, berjalan, berbicara, menyanyi, hingga bisa menari, membaca, dan bercerita. 

Saat anak melakukan sesuatu yang baru dan  mampu memecahkan suatu masalah, biasanya orangtua atau pengasuhnya akan langsung memberi pujian. Pujian yang diberikan biasanya "wahh, kamu pintar ya!" atau "anak mama memang paling pintar". 

Selain itu, ujian juga biasanya diberikan saat pengasuh 'menyogok' agar anak mau melakukan sesuatu yang pengasuhnya inginkan, misalnya makan atau sikat gigi. Kalimat yang dikeluarkan biasanya "kamu makannya pintar ya" atau "wahh sikat giginya pintar sekali, coba bilang a dulu".

Ternyata, penelitian terbaru mengungkap bahwa memuji anak dengan pujian kosong seperti "anak pintar" dan "good job!", justru memberikan dampak negatif dibanding positif ke anak. Menurut seorang Pekerja Sosial berlisensi, Yanique S Chamber, yang dilansir dari website Kiddie Matters, berikut sejumlah alasan dibaliknya.

1. Memuji Bisa Merupakan Bentuk Manipulasi

Ilustrasi anak sedang makan.
Ilustrasi anak sedang makan. (Freepik)

Tanpa disadari, biasanya kita melontarkan pujian agar anak mau melakukan apa yang kita mau atau perintahkan. Misalnya saja, saat anak enggan buka mulut ketika makan, kita biasanya mengatakan "eh, pinter anak mama mau buka, ayo sini aaa dulu". 

Namun misalnya saja kita benar-benar tulus memuji anak, sebenarnya ada dampak negatifnya. Sebab, anak akan terus mengharapkan pujian agar merasa diterima dan menyenangkan orangtuanya.

2. Anak Akan Terus Mencari Penilaian dari Orang Lain

Pujian yang tak tepat membuat anak haus akan penilaian orang.
Pujian yang tak tepat membuat anak haus akan penilaian orang. (Freepik)

Saat kita terbiasa memuji anak saat ia berhasil melakukan sesuatu, mereka tak mendapat kesempatan untuk menilai usaha, pilihan, pencapaiannya. Mereka akan terus melihat orang lain untuk memastikan apakah usaha dan pencapaiannya diterima atau tidak.

Menurut seorang pendidik orangtua, Vicki Hoefle, anak-anak yang dibesarkan dengan cara ini akan selalu mencari respons orang lain atas apa yang dilakukannya. Seperti "Apakah aku sudah melakukannya dengan benar?" dan "Apakah ia bangga kepadaku?". Ketergantungan ini membuat seseorang terlalu mendengarkan opini orang lain atas apa yang ia perbuat.

3. Anak Akan Terpaku pada Pencapaian, Bukan Proses

Anak yang terlalu sering dipuji akan tumbuh menjadi anak yang kurang menghargai proses.
Anak yang terlalu sering dipuji akan tumbuh menjadi anak yang kurang menghargai proses. (Freepik)

Saat anak dipuji ketika berhasil melakukan sesuatu, mereka biasanya akan tumbuh menjadi anak yang kesulitan saat menghadapi kegagalan. Anak-anak yang ketergantungan atas penilaian orang lain, biasanya akan takut untuk menunjukkan kegagalannya.

[Gambas:Instagram]

4. Anak Jadi Malas untuk Mencoba Hal Baru

Ilustrasi anak tak mau mencoba hal baru
Ilustrasi anak tak mau mencoba hal baru (Freepik)

Mereka yang terus menerus dipuji, biasanya akan tumbuh menjadi pribadi perfeksionis dan takut akan kegagalan. Mereka sebisa mungkin tampil sebaik mungkin dihadapan orang lain tanpa cela agar tak menerima kritikan dan mengharapkan pujian.

Biasanya untuk mempertahankan label anak baik dan anak pintar ini, sang anak menjadi takut mencoba hal baru karena enggan berbuat salah. Mereka juga akan menjadi pribadi yang mudah menyerah jika dihadapkan dengan sebuah kesulitan.

Cara Terbaik untuk Memuji Anak

Cara terbaik memuji adalah dengan menyemangati.
Cara terbaik memuji adalah dengan menyemangati. (Freepik)

Lalu, kalau memuji secara berlebihan tak boleh, bagaimana cara mengungkapkannya? Sejumlah psikolog mengatakan, kata-kata yang menyemangati anak baik sejak proses dan tidak  terpaku hanya pada hasil bisa membuat mereka percaya diri. 

Misalnya saja saat anak berusia 2 tahun sudah bisa membuang sampah ke tempatnya, kita bisa berterima kasih kepadanya karena telah melakukan tugasnya. Lalu ketika seorang anak mendapat nilai bagus ketika ujian, kita bisa berkata "Mama lihat kamu sudah berusaha dan belajar dengan giat, tentu kamu mendapat nilai sesuai kerja kerasmu!"

Hal ini mendorong anak untuk memahami bahwa sebuah proses adalah hal krusial. Jangan sampai pujianmu malah membuat anak hanya berfokus pada kesempurnaan tujuan dan tak mau berbuat salah untuk mencoba dan menguasai hal baru. 

(kik/kik)

Our Sister Site

mommyasia.id