sign up SIGN UP

Sebelum Harry Styles, Konsep Genderless Fashion Ternyata Sudah Ada dari Periode Sebelum Masehi!

Dimitrie Hardjo | Beautynesia
Jumat, 05 Aug 2022 18:00 WIB
Sebelum Harry Styles, Konsep Genderless Fashion Ternyata Sudah Ada dari Periode Sebelum Masehi!
caption

"Fashion has no gender" jadi kalimat yang sering terdengar belakangan ini. Busana laki-laki dikenakan perempuan dan sebaliknya, busana perempuan dikenakan laki-laki. Di era modern seperti sekarang, mungkin ide tersebut terdengar janggal dan kontroversial. Karena itu, ketika laki-laki memakai pakaian dan aksesori yang identik dengan busana perempuan, banyak orang yang membicarakannya dari perspektif berbeda.

Tapi tahukah kamu bahwa laki-laki memakai pakaian yang kini identik sebagai busana perempuan sudah ada bahkan sejak periode sebelum masehi? Ya, pakaian pada zaman itu tidak mengenal gender.

Yuk ketahui lebih dalam perkembangan konsep genderless fashion yang turut memengaruhi perkembangan busana laki-laki. 

Laki-Laki Mesir Kuno yang Kenakan Schenti

Mural Mesir Kuno/
Mural Mesir Kuno tunjukkan laki-laki kenakan schenti/ Foto: pinterest.com/Daily Mail

Lukisan yang ditemukan berasal dari peradaban Mesir Kuno sekitar tahun 2000an sebelum masehi menunjukkan laki-laki kala itu memakai kain yang diikatkan di pinggang alias wrap skirt, Beauties. Kain persegi panjang ini disebut schenti dan biasa dikenakan oleh bangsawan Mesir.

Mengutip Fashion History pada laman Fashion Institute of Technology, pada awalnya schenti terbuat dari kulit hewan sebelum beralih ke linen. Beberapa orang memakai schenti ini dengan ikat pinggang agar tidak jatuh.

 

Masyarakat Yunani Kuno yang Kenakan Chiton

Chiton pakaian Yunani kuno/
Chiton pakaian Yunani kuno/ Foto: pinterest.com/Real Macedonia

Beauties mungkin familiar dengan model pakaian yang mirip seperti tunik ini. Ya, populer di kalangan elit Yunani sekitar abad 5 sebelum masehi, Chiton merupakan pakaian tersusun dari satu atau dua kain yang dililitkan di tubuh dan direkatkan dengan pin pada bagian bahu.

Chiton dikenakan baik perempuan maupun laki-laki Yunani sebagai simbol status dan terkadang dipakai dengan tambahan ikat pinggang.

 

Romawi Kuno yang Memakai Toga Picta

Laki-laki Romawi Kuno kenakan toga/
Laki-laki Romawi Kuno kenakan toga/ Foto: pinterest.com/Mysteron

Toga picta merupakan simbol status yang dikenakan kaisar dan jenderal besar bangsa Romawi Kuno abad ke-4 sebelum masehi.

Gaun dengan panjang kain 3-6 meter dililit membentuk drape ini berwarna ungu dan berbordir benang emas, biasa dikenakan pada acara spesial, seperti perayaan kemenangan. Walaupun begitu, laki-laki Romawi Kuno pada umumnya mengenakan tunik ditumpuk toga berwarna lain untuk sehari-hari.

 

Bangsawan Eropa Abad 17 Kenakan Siluet Feminin 

Lukisan Pangeran Balthasar Charles karya Diego Velázquez/
Lukisan Pangeran Balthasar Charles karya Diego Velázquez/ Foto: pinterest.com/Artsy

Pada tahun masehi, orang-orang belum membedakan pakaian berdasarkan gender sehingga siluet feminin masih dikenakan laki-laki, Beauties. Hal ini terlihat dari berbagai lukisan anggota kerajaan yang menangkap orang-orang pada masa itu. Misalnya lukisan Pangeran Balthasar Charles dari Spanyol pada abad 17 yang tampak mengenakan gaun hitam berbordir emas. 

 

Heels Pertama Kali Dipakai Laki-Laki

King Louis XIV yang memakai sepatu heels dan stoking putih/
Raja Louis XIV yang memakai sepatu heels dan stoking putih/ Foto: pinterest.com/Marie Claire

Bukan cuma gaun dan rok, sepatu heels yang kini dikenal sebagai sepatu perempuan juga bermula dari bagian busana laki-laki. Melansir Google Arts & Culture, high heels pertama kali digunakan di abad 10 oleh prajurit Persia agar lebih stabil saat menembakkan panah. 

Terinspirasi dari prajurit Persia, aristokrat Eropa ikut menggunakannya di abad 17. Gaya laki-laki bangsawan saat itu menegaskan kaki dengan pemakaian sepatu heels dan stoking berwarna. High heels pun menjadi simbol kekayaan, kekuatan militer, dan maskulinitas di Eropa.

Namun, selama abad 18 dan 19, pandangan publik terhadap sepatu hak tinggi berubah seiring dianggap terlalu feminin. Alhasil, laki-laki berhenti memakainya.

 

Interpretasi Lebih Maskulin Baru Diperkenalkan di Abad 19

Busana laki-laki bangsawan Inggris di abad 19/
Busana laki-laki berubah di abad 19/ Foto: pinterest.com/sites.fitnyc.edu

Beauties, gaya yang lebih maskulin baru diperkenalkan di abad 19 oleh aristokrasi Inggris lho! Melansir L'Officiel USA, busana setelan jas yang dipakai mereka menginterpretasi kembali pakaian khusus laki-laki yang kita kenal hingga sekarang. Pembagian pakaian berdasarkan gender––celana untuk laki-laki dan rok untuk perempuan––semakin terlihat jelas di abad 20.

 

Orang-Orang Kreatif Berpenampilan Androgini di Era Modern

Harry Styles kenakan dress untuk pemotretan Vogue/
Harry Styles kenakan dress untuk pemotretan Vogue/ Foto: pinterest.com/Vogue Magazine

Hingga saat ini, penampilan sesuai gender lebih dinormalkan, Beauties. Walaupun begitu, seseorang tetap bebas mengekspresikan dirinya melalui gaya. Penampilan genderless fashion dianggap nyentrik dewasa ini dan biasa diadopsi oleh orang-orang kreatif.

Misalnya David Bowie yang populer sekitar 1970an. Tokoh lainnya seperti Harry Styles, Billy Porter, Jaden Smith, dan lainnya juga beberapa kali ditemukan memakai busana perempuan dan mempopulerkannya kembali.

---

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(raf/raf)

Our Sister Site

mommyasia.id