sign up SIGN UP

Beauties Perlu Waspada, Ini 6 Bentuk Kekerasan Emosional Dalam Hubungan Rumah Tangga

Novianty Aulia Anjani | Beautynesia
Senin, 16 May 2022 20:30 WIB
Beauties Perlu Waspada, Ini 6 Bentuk Kekerasan Emosional Dalam Hubungan Rumah Tangga
caption

Tidak selalu berbicara fisik, kekerasan secara emosional juga bisa menjadi tindakan berbahaya yang juga kerap terjadi dalam hubungan pernikahan. Beragam serangan verbal mulai dari mencaci bahkan mengancam, salah satunya dilakukan pasangan untuk memanipulasi secara emosional.

Meskipun tidak terlihat jelas, kekerasan emosional pun sama merusaknya dengan kekerasan fisik karena disertai efek samping berkelanjutan yang dapat mengganggu ketenangan diri hingga kesehatan mental ke depannya.

Dilansir dari laman Brides, berikut 6 bentuk kekerasan emosional yang dapat kamu deteksi dalam hubungan pernikanan.

Gaslighting 

Pasangan sengaja memanipulasi kenyataan dengan ilusi yang dibuatnya sendiri.
Melakukan manipulasi gaslighting/Foto:Freepik.com/Bestsudio


Bentuk manipulasi psikologis gaslightling bertujuan mengaburkan kenyataan dengan menciptakan ilusi baru. Akibatnya, korban mulai meragukan kebenaran diri sendiri karena terperdaya permainan pasangan.

Dalam kasus pernikahan, pasangan dengan sengaja terus mempertanyakan kebenaran dari apa yang kamu katakan. Pertengkaran hebat terjadi setiap kali kamu meminta penjelasan sehingga akhirnya kamu meyakini bahwa kamu adalah yang salah.

Mood Swing 

Pasangan tidak dapat mengontrol emosi sehingga mood swing terjadi secara terus menerus.
Mood swing secara berlebihan/Foto:Freepik.com/Ufabizphoto


Wajar mengalami pasang surut perasaan secara alami, tetapi akan menjadi sebuah kekerasan emosional ketika terjadi secara berlebihan. Sebagai pasangan, kamu dipaksa untuk terus memahami emosinya yang justru malah melukai diri kamu sendiri. 

Sekali lagi kamu dibuat bingung oleh taktik pintar pasangan dengan memberikan banyak hadiah setiap kali emosi selesai meledak, hanya untuk memperdaya dan mendapatkan maaf darimu kembali.

Obsesif 

Pasangan mengambil alih terlalu banyak bagian dari hidupmu sehingga kamu terlalu diatur olehnya.
Banyak mengatur hidupmu/Foto:Freepik.com/Freepik


Sikap khawatir pasangan lambat laun berubah larangan yang membatasi kamu dalam beraktivitas. Semakin banyak ruang pribadi yang diawasinya secara berlebihan hingga kamu tidak lagi memiliki kebebasan untuk dirimu sendiri.

Kesalnya lagi, pasangan dengan mudah melanggar aturan yang dibuatnya sendiri sementara di satu sisi, ia terus melemparkan komentar negatif setiap kali kamu menolak keinginannya.

Berteriak dan Mencemooh

Pasangan dengan terang-terangan mencemooh dirimu.
Tidak segan untuk mencemooh dirimu/Foto:Freepik.com/Ksandrphoto


Ketidakmampuan pasangan untuk mengatur emosi membuatnya terbiasa melampiaskan amarah dengan meninggikan suara setiap kali terjadi ketidaksepakatan dalam pembicaraan.

Tidak puas dengan berteriak, pasangan juga akan menanggapi keluhanmu dengan perkataan tidak baik. Kritik berkelanjutan yang terjadi terus-menerus yang kemudian mempengaruhi kesehatan mental serta cara pandang kamu dalam melihat kelayakan diri sendiri. 

Mengancam

Pasangan mengancam kamu sebagai manipulasi kontrol agar kamu selalu menuruti apa yang dirinya katakan.
Menggunakan ancaman sebagai hukuman/Foto:Freepik.com/Avistock


Setiap kali kamu menolak keinginannya, pasangan dengan cepat mengatakan "Jika kamu begini, saya bisa melalukan sesuatu lebih dari ini". Ketakutan akan ancaman secara emosional bahkan fisik akhirnya memaksa kamu untuk terus mengatakan iya atas apa yang dia katakan. 

Pembalasan ialah bentuk manipulasi kontrol dengan tujuan membuat kamu tidak berdaya sekalipun sebenarnya mampu. Kekerasan emosional ini lambat laun mengambil alih hidupmu sehingga terus diatur olehnya. 

Stonewalling

Setiap kali terjadi perdebatan, pasangan sengaja menutup pintu berkomunikasi sehingga kamu mau tidak mau menuruti keinginannya.
Pasangan menolak berkomunikasi/Foto:Freepik.com/Yanalya


Pasangan seketika diam dan menutup akses berkomunikasi menjadi salah satu bentuk kekerasan yakni stonewalling. Tindakan stonewalling terlihat ketika pasangan sengaja menolak kehadiranmu sehingga akhirnya kamu merasa bersalah. 

Stonewalling tidak hanya menyakiti kamu secara perasaan, namun juga memanipulasi cara pikirmu. Kamu tidak lagi merasa perlu bahkan memandang remeh argumen pribadimu hanya karena takut kembali didiamkan oleh pasangan.

---

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(fip/fip)

Our Sister Site

mommyasia.id