BILLBOARD
970x250

Benarkah Pemimpin Perempuan Mampu Mengelola Krisis Lebih Efektif? Cek Faktanya, yuk!

Camellia Ramadhani | Beautynesia
Rabu, 09 Mar 2022 19:00 WIB
Benarkah Pemimpin Perempuan Mampu Mengelola Krisis Lebih Efektif? Cek Faktanya, yuk!

Beauties, kamu mungkin pernah merasakan betapa sulitnya mendapat pangkat tinggi di lingkungan kerja sebagai perempuan. Jangankan kenaikan jabatan, barangkali apresiasi sederhana pun tidak kamu dapatkan. Ketidakadilan berbasis gender tidak hanya terjadi dari segi pengabaian dan pengingkaran, tapi juga pemberian kesempatan yang tidak imbang atau imbalan yang tidak sepadan bagi pekerja perempuan.

Meski sering disepelekan, ternyata penelitian dari Harvard mengungkap bahwa pemimpin perempuan lebih efektif menanggulangi krisis dan memulihkan institusi maupun perusahaan, lho!

Penasaran bagaimana penjelasannya? Yuk, cek faktanya berikut ini!

Pemimpin Perempuan di Mata Pekerja

Ilustrasi Pemimpin Perempuan/Foto: Canva/Fat Camera
Ilustrasi Pemimpin Perempuan/Foto: Canva/Fat Camera

Harvard University sering mengadakan survei untuk meneliti indeks kesetaraan gender dari berbagai sisi, salah satunya tentang perbandingan indeks kepuasan pekerja terhadap figur pemimpin pria dan pemimpin perempuan.

Dilansir dari laman Harvard Bussiness Review, perempuan dinilai lebih mampu memimpin dengan baik oleh pekerjanya. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan survei pada 60 ribu pemimpin gabungan pria dan perempuan. Baik dilakukan pada masa pra-pandemi maupun saat pandemi berlangsung, perempuan dinilai secara signifikan lebih positif.

Bahkan, akibat keberhasilan beberapa pemimpin perempuan di dunia dalam memberantas pandemi dan menekan angka kematian, kesenjangan perbandingan antara pemimpin pria dan perempuan tampak jauh lebih signifikan. Pada masa sebelum pandemi, pemimpin pria mendapat suara sebesar 49,8 persen, sedangkan perempuan mendapat suara 53,1 persen.

Di masa pandemi, laki-laki mendapat suara positif sebesar 51,5 persen, sedangkan perempuan mendapat suara sebesar 57,2 persen. Data signifikan ini menunjukkan bahwa pemimpin perempuan dianggap lebih mampu mengelola krisis dengan lebih baik.

Pemimpin Perempuan Lebih Banyak Mendorong Kemajuan Pemikiran Dibanding Segi Praktikal

Ilustrasi Pemimpin Perempuan/Foto: Canva/Gpoint Studio
Ilustrasi Pemimpin Perempuan/Foto: Canva/Gpoint Studio

Parameter untuk mengukur efektivitas kepemimpinan tentu sangat beragam dan dipengaruhi banyak faktor eksternal yang susah diprediksi. Namun, penelitian Harvard menunjukkan bahwa pemimpin perempuan lebih dipercaya dan mendorong kemajuan-kemajuan pemikiran, psikis, dan emosional pekerja sehingga pekerja merasa lebih nyaman dan lebih produktif.

Perempuan dinilai lebih mampu mengambil inisiatif, lebih lincah untuk belajar, lebih baik dalam membangun hubungan interpersonal dengan pekerja serta memberi dukungan moral lebih besar. Selain itu, mereka juga mampu berkolaborasi dan berkomunikasi lebih jelas dan terarah, lebih terbuka dengan perbedaan serta dinilai memiliki perspektif yang lebih luas.

Di sisi lain, pemimpin pria dinilai lebih profesional di bidang teknis dan keberanian mengambil risiko.

Harapan Pekerja Tentang Pemimpin yang Efektif

Ilustrasi Pemimpin Perempuan/Foto: Canva/Kritchanut
Ilustrasi Pemimpin Perempuan/Foto: Canva/Kritchanut

Dari banyaknya responden yang diteliti, dapat disimpulkan bahwa pekerja sangat mendambakan sosok pemimpin yang tidak hanya ahli dalam urusan teknis dan mengambil keputusan, tapi juga yang mampu membuat mereka merasa aman, dihargai, dan didukung sepenuhnya.

Statistik selalu menunjukkan pemimpin perempuan memiliki empati luar biasa bagi pekerjanya, sehingga pekerja merasa terinspirasi dan muncul loyalitas terhadap perusahaan. Para pekerja tidak hanya sekadar mematuhi perintah, namun juga berkaca pada kepribadian pemimpinnya. Oleh karena itu, mereka mendambakan sosok yang terbuka dengan gagasan-gagasan baru, jujur dan berintegritas, peka dan tidak abai pada masalah kesehatan mental pekerja.

Seiring kecanggihan teknologi berkembang pesat, tekanan dari lingkungan kerja pun semakin tinggi. Penguasaan teknis bukan lagi menjadi syarat tunggal bagi pemimpin untuk bisa memajukan perusahaan atau instansi yang dipimpinnya, justru kepekaan pemimpin terhadap faktor emosional pekerja menjadi sangat relevan untuk meningkatkan produktifitas mereka.

Mengesampingkan perbandingan kompetensi pemimpin perempuan dan pria, semua orang harus menyadari bahwa mentalitas dan kondisi psikis pekerja sudah menjadi bagian penting yang harus diperhitungkan dalam bisnis. Dengan kesadaran ini, harapannya segala bentuk superioritas yang destruktif tidak berlaku lagi di tempat kerja, demi kenyamanan dan keuntungan bersama.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE