Berantas Period Poverty, Hawaii Gratiskan Produk Menstruasi di Sekolah
Hawaii baru saja mengesahkan undang-undang yang mewajibkan sekolah umum untuk memberikan produk menstruasi secara gratis kepada semua siswa. Langkah ini adalah upaya untuk mengakhiri period poverty atau 'kemiskinan menstruasi', yaitu masalah yang didefinisikan sebagai kurangnya akses ke produk menstruasi dan dapat menyebabkan tantangan fisik dan mental.
Siswa di Hawaii yang mengalami menstruasi dapat mengakses produk sanitasi gratis setelah Gubernur David Ige (D) menandatangani undang-undang baru terkait kesetaraan menstruasi.
Ige berharap undang-undang ini akan memastikan siswa di Hawaii akan selalu memiliki akses penuh dan gratis ke produk menstruasi kapan pun mereka membutuhkannya.
"Periode kemiskinan (period poverty) adalah masalah nyata bagi kaum muda dan dapat berdampak pada pendidikan mereka secara substansial. Seharusnya tidak ada siswa yang terhambat perjalanan pendidikannya karena kurangnya akses ke produk menstruasi," kata Ige, dilansir dari The Hill.
Menurut United Nations Population Fund, kemiskinan menstruasi atau period poverty adalah suatu kondisi yang menggambarkan perjuangan perempuan berpenghasilan rendah untuk membeli produk menstruasi. Istilah ini juga mengacu pada beban keuangan yang dihadapi perempuan karena harus membeli produk menstruasi.
Lebih lanjut, penelitian dari kelompok Women for Independence mengungkapkan bahwa hampir satu dari lima wanita pernah mengalami period poverty, dilansir dari The Guardian. Hal ini berdampak pada kebersihan, kesehatan, dan kesejahteraan mereka.
Ilustrasi pembalut/Foto: Pexels/ Sora Shimazaki/ Foto: Raudiya Nurfadilah |
Ada berbagai jenis period poverty, dari tidak mampu membeli produk sanitasi yang diperlukan, malu dan takut akan rasa malu tersebut, kurangnya pasokan produk menstruasi dan fasilitas sanitasi terdekat.
"Itu mudah. Tidak ada anak yang seharusnya terpaksa bolos kelas karena mereka tidak mampu membeli produk menstruasi dan harus tinggal di rumah," kata Ige di Twitter.
Journal of Global Health Reports mencatat 16,9 juta orang yang menstruasi di AS juga hidup dalam kemiskinan. Sebagai perbandingan, sekitar dua pertiga dari orang-orang tersebut adalah perempuan berpenghasilan rendah yang tidak mampu membeli produk menstruasi, dengan separuhnya harus memilih antara membeli produk menstruasi atau makanan.
Ilustrasi pembalut/Foto: Freepik.com/User18526052 |
Kesulitan membeli produk menstruasi mengakibatkan perempuan tidak bisa belajar di sekolah atau memaksa mereka untuk bekerja dari rumah. Hal ini dapat berdampak pada pendidikan dan peluang ekonomi mereka dalam jangka panjang.
Sebelumnya, Skotlandia menjadi negara pertama di dunia yang menyediakan produk menstruasi secara gratis untuk perempuan. Kebijakan ini disetujui pada November tahun 2020 lalu oleh para anggota parlemen setelah mengesahkan RUU bernama Product Bills menjadi sebuah undang-undang.
Hal ini dilakukan untuk mengatasi period poverty yang memang telah menjadi isu global. Produk menstruasi seperti pembalut dan tampon tersedia untuk diakses secara gratis di gedung-gedung publik, termasuk sekolah dan universitas di seluruh Skotlandia.
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!
Ilustrasi pembalut/Foto: Pexels/ Sora Shimazaki/ Foto: Raudiya Nurfadilah
Ilustrasi pembalut/Foto: Freepik.com/User18526052