sign up SIGN UP

Bukan Cuma Love Language, Kenali Juga Apa Love Style Kamu, Beauties.. Bisa Bikin Hubungan Langgeng, lho

Debby Diah Ekawati Erawan | Beautynesia
Jumat, 06 May 2022 17:00 WIB
Bukan Cuma Love Language, Kenali Juga Apa Love Style Kamu, Beauties.. Bisa Bikin Hubungan Langgeng, lho
caption

Love language kamu apa, sih?” pernah punya pengalaman ditanya atau bertanya dengan pertanyaan serupa? Konsep yang dikenalkan oleh Gary Chapman ini kian populer dan menarik perhatian. Gary menjelaskan ada 5 jenis love language (bahasa cinta), yaitu Words of Affirmation, Quality Time, Receiving Gifts, Acts of Service, dan Physical Touch.

Ternyata, bukan cuma soal love language aja, Beauties juga perlu mengenali apa love style kamu. Pasangan Milan dan Kay Yerkovich merupakan ahli mengenai teori keterikatan, dalam bukunya yang berjudul How We Love menjelaskan seluk beluk mengenai love style. 

Bukan membahas soal tipikal kepribadian melainkan menurut mereka, menunjukkan pengalaman masa kecil dapat membentuk apa yang kamu harapkan dari sebuah hubungan, bagaimana cara kamu mengekspresikan rasa cinta itu sendiri, serta cara kamu merespon dalam keadaan tertentu.

Menurut Milan dan Kay, ada 6 tipe love style, yakni The Avoider (penghindar), The Pleaser (memprioritaskan orang lain), The Vacillator (si galau), The Controller (pengontrol), The Victim (si korban), The Secure Connector (si paling aman).

Yuk, kita bahas satu per satu!

The Avoider

Si penghindar yang jarang terlibat secara emosional/Foto: Freepik/cookie_studio
The Avoider biasanya berasal dari lingkungan yang kurang kasih sayang/Foto: Freepik/Cookie_Studio

Dilansir dari How We Love, si penghindar biasanya berasal dari lingkungan keluarga yang kurang kasih sayang dan terbiasa untuk membatasi perasaan serta menekan kebutuhan mereka.

Meski hal itu membuatnya jadi seseorang yang mandiri, ketika tumbuh menjadi orang dewasa mereka cenderung tampak sulit dijangkau dan jarang terlibat secara emosional. 

The Pleaser

Selalu mendahulukan kepentingan orang lain/Foto: Pexels/Gary Barnes
The Pleaser cenderung mengutamakan kepentingan orang lain/Foto: Pexels/Gary Barnes

Tumbuh dari lingkungan dengan orang tua yang sangat protektif, pemarah, atau kritis, membuat The Pleaser selalu berusaha menjadi “anak baik” dan berupaya menghindari konflik atau hal-hal yang bisa membuat orang tua mereka khawatir.

Mereka tidak mendapatkan kenyamanan, karena cenderung menghabiskan waktu untuk orang lain dengan selalu memantau bagaimana suasana hati orang di sekitarnya dan memikirkan bagaimana cara membuat semua orang senang, sehingga kurang bisa mengekspresikan emosi yang dirasakan, dan memiliki kesulitan untuk meminta apa yang mereka inginkan.

The Vacillator

Berusaha menghindari penolakan dan pengabaian/Foto: Pexels/Liza Summer
Saat dewasa The Vacillator ingin mengindari perasaan ditolak dan diabaikan/Foto: Pexels/Liza Summer

Kurangnya perhatian dan kasih sayang yang didapatkan secara konsisten, membuat The Vacillator merasa “ditinggalkan”. Saat orang tua mereka ingin memberikan perhatian, mereka menganggap hal itu sudah terlambat, terlalu lelah dan marah menunggu orang tua mereka menyadari kebutuhan yang selama ini tidak diprioritaskan.

Sehingga dalam hubungan asmara, mereka berupaya untuk menemukan “cinta” yang dulu tidak pernah mereka rasakan. Saat dewasa, mereka berharap bisa menghindari perasaan penolakan dan pengabaian. Jika hidup terasa tidak ideal, mereka jadi sering marah dan kecewa. 

The Controller

Pengontrol cenderung menjadi pemarah/Foto: Pexels/Pavel Danilyuk
The Controller percaya rasa marah adalah senjata terkuat yang mereka miliki/Foto: Pexels/Pavel Danilyuk

Masa kanak-kanak yang mereka lalui dengan perasaan takut dan tidak berdaya, membuat The Controller tumbuh menjadi seseorang yang merasa perlu memiliki kendali atas sesuatu, agar apa pun yang mereka rasakan dulu, tidak terulang kembali ketika mereka dewasa.

Childhood trauma yang dulu dialami menjadikan mereka sosok yang kurang menyayangi diri sendiri. Mereka cenderung menjadi seorang pemarah untuk tetap berada dalam kendali, karena mereka percaya rasa marah itu adalah senjata paling kuat yang mereka miliki.

The Victim

Si korban yang cenderung jadi anak yang harus selalu patuh/Foto: Freepik/Benzoix
Latar belakang yang chaotic menjadikan The Victim cenderung patuh dan toleran/Foto: Freepik/Benzoix

Memiliki latar belakang keluarga yang pemarah, lalai, dan chaotic menjadikan The Victim tumbuh menjadi seseorang yang patuh dan toleran meski hal tersebut tidak tertahankan. Saat dewasa, mereka kerap merasa cemas, depresi, dan merasa tidak berharga.

Ketika bergaul dengan lingkungan di sekitarnya, The Victim jadi memiliki coping method yang sama dengan apa yang mereka rasakan saat anak-anak. Mereka merasa harus selalu patuh. Terbiasa menghadapi kekacauan, saat merasakan ketenangan mereka justru cemas karena percaya sesuatu yang buruk selalu ada di hadapan mereka.

The Secure Connector

Mampu menerapkan batasan dan mengutarakan keinginan/Foto: Pexels/Kindel Media
The Secure Connector mampu mengomunikasikan kebutuhan mereka dan bisa menetapkan batasan/Foto: Pexels/Kindel Media

Berada dalam lingkungan yang “aman” membentuk The Secure Connector memiliki kemampuan untuk mengomunikasikan kebutuhan dan perasaan mereka. Mereka bisa menggambarkan apa saja kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri sendiri dan orang lain tanpa merendahkan.

Mampu secara tegas berkata tidak dan menetapkan batasan, mudah beradaptasi, tidak mudah puas, dan berani mengambil risiko. Menyelesaikan konflik adalah cara mereka untuk belajar menjadi dewasa.

Kok Hampir Buruk Semua?

Well, Beauties, dari beberapa love language di atas, tampak yang positif hanya yang terakhir, The Secure Connector. Masih dikutip dari laman yang sama, apapun tipe kecenderungan love style kamu rupanya memang dibutuhkan adanya proses penyembuhan atau healing yang mesti dilalui secara perlahan untuk mencapai Secure Connector.

Pasalnya ada faktor pola pengasuhan masa kecil hingga trauma yang kemudian 'memblok' seseorang, sehingga memengaruhi hubungannya dengan orang lain saat dewasa. Contohnya seperti yang telah disebutkan di atas, seperti kamu cenderung akan menghindari keterikatan emosional, sulit mengatakan 'tidak', dan sebagainya.

Siapa, sih, yang nggak mau punya hubungan langgeng sampai maut memisahkan? Tapi, untuk bisa sampai pada titik itu, kita harus terus mau belajar, Beauties. Dengan berusaha memahami diri dengan mencari tahu apa love language dan love style kita, kemudian terbuka dengan perbaikan diri kita sehingga kita mendapatkan hubungan sehat yang less dramaWho doesn't want it?

---

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(fip/fip)

Our Sister Site

mommyasia.id