sign up SIGN UP

Kalis Mardiasih: Kasus Novia Widyasari Adalah Bentuk Kegagalan Masyarakat Selamatkan Korban

Nadya Quamila | Beautynesia
Kamis, 09 Dec 2021 11:45 WIB
Kalis Mardiasih: Kasus Novia Widyasari Adalah Bentuk Kegagalan Masyarakat Selamatkan Korban
caption
Jakarta -

Kekerasan dalam pacaran yang dialami oleh Novia Widyasari adalah salah satu dari banyaknya kasus yang telah dilaporkan ke Komnas Perempuan. Lembaga tersebut mencatat setiap tahunnya menerima rata-rata 150 kasus kekerasan dalam pacaran yang dilaporkan.

Nama Novia Widyasari menjadi sorotan publik usai viral di media sosial. Ia ditemukan tewas di samping makam sang ayah usai menenggak racun pada Kamis (2/12) lalu. Diduga, ia depresi karena menjadi korban pemerkosaan oleh sang kekasih, Randy Bagus. Ia juga dipaksa untuk menggugurkan kandungannya oleh sang pacar yang kini sudah dijadikan tersangka dan dijebloskan ke penjara.

Kasus Novia Widyasari: Wajah Kegagalan Masyarakat untuk Selamatkan Korban

kekerasan dalam hubunganIlustrasi kekerasan dalam pacaran/Foto: Freepik/Spukkato

Kalis Mardiasih, penulis sekaligus aktivis yang peduli pada hak perempuan dan anak-anak, memberikan tanggapan terkait kasus kekerasan yang dialami oleh Novia Widyasari.

Menurutnya, kasus ini adalah wajah kegagalan masyarakat dalam menyelamatkan nyawa seorang perempuan korban kekerasan seksual. Salah satu penyebab kegagalan adalah karena ketidakpahaman dalam memahami kekerasan seksual yang dialami korban oleh support grup utama korban, yakni keluarga.

"Korban kekerasan seksual tidak mendapat pertolongan, namun justru dianggap aib, bersalah, berdosa dan mencoreng nama baik keluarga," ungkap Kalis Mardiasih kepada Beautynesia, Rabu (8/12/2021).

Bentuk Misogini yang Dilakukan oleh Perempuan

Kasus kekerasan dalam pacaran yang dialami oleh Novia Widyasari ini menorehkan luka tidak hanya bagi keluarga dan orang-orang terdekat, namun juga masyarakat Indonesia. Tagar #SaveNoviaWidyasari diketahui sempat trending di media sosial.

Kalis diketahui juga menuliskan surat terbuka untuk Novia Widyasari yang dibagikan melalui akun Instagramnya, @kalis.mardiasih. Surat tersebut bertajuk "Surat untuk Novia Widyasari, Harum Namamu Kini".

"Dear Novia, maaf aku terlambat mengenalmu. Saat namamu ramai dibicarakan orang hari ini sebagai korban, aku menaruh namamu abai dalam detak nadiku. Aku tak mau menutupi atau menyingkat namamu, sebab kamu bukan aib. Bagiku kini, kamu adalah simbol perlawanan. Namamu kutempatkan di tempat tinggi yang paling mulia. Sebagaimana korban kekerasan seksual lain yang telah melawan dengan sehormat-hormatnya," tulis Kalis di awal surat.

[Gambas:Instagram]

Dalam suratnya, Kalis juga menyinggung perihal misogini, yakni sebuah istilah yang menggambarkan kebencian terhadap perempuan. Kalis menyebutkan bahwa dunia ini berjalan menurut kuasa para misogini. Bahwa kehormatan dan kemuliaan dibangun berdasarkan kepentingan pria.

Walaupun hampir sebagian besar pelaku misogini adalah pria, namun tidak menutup kemungkinan ada perempuan yang juga memiliki perilaku ini. Hal tersebut juga diungkapkan Kalis dalam suratnya perihal kasus Novia Widyasari.

"Misogini tidak hanya bisa dikerjakan oleh pria, tapi juga dilestarikan oleh perempuan. Seperti praktik seorang Ibu yang memaksamu menggugurkan kandungan dengan cara-cara berbahaya itu," tulisnya dalam surat terbuka.

Kenali tingkatan pelecehan seksual agar lebih waspadaIlustrasi kekerasan dalam pacaran/Foto: Pexels/Karolina Grabowska

Lebih lanjut, Kalis menjelaskan bahwa dunia misoginis dibangun atas visi maskulin dan kepentingan maskulin saja, seperti mengontrol, menguasai, memperdaya. Dunia yang maskulin terdiri dari jabatan, kekuasaan, dan simbol kesuksesan khas laki-laki lainnya.

"Dalam kasus Novia, ada seorang Ibu yang menolak memberikan pertolongan kepada seorang korban kekerasan seksual karena khawatir akan mengganggu zona nyaman anak laki-lakinya yang baru saja memulai karier sebagai polisi," ungkap Kalis.

Sebelumnya, diketahui melalui akun Quora, Novia sempat curhat ke Ibu Randy usai meminta pria tersebut bertanggung jawab setelah memperkosa dan menghamilinya. Alih-alih memberikan dukungan, Ibu Randy malah meminta Novia untuk menggugurkan kandungannya.

Fenomena Kasus Kekerasan Seksual di Indonesia: Viral Dulu Baru Diproses

Alasan korban kekerasan seksual enggan untuk melapor/Foto: Pexels.com/Nataliya VaitkevichIlustrasi kekerasan dalam pacaran/Foto: Pexels.com/Nataliya Vaitkevich

Sangat disayangkan bahwa kasus yang dialami Novia seakan harus 'viral' dulu baru bisa diproses untuk mencari keadilan. Namun jika dilihat, fenomena ini sudah sangat sering terjadi di Indonesia.

Korban atau penyintas merasa tidak memiliki jalan lain untuk mencari keadilan. Indonesia masih darurat payung hukum untuk menangani kasus kekerasan seksual. Hal inilah yang mendorong korban atau penyintas akhirnya mengambil 'jalan pintas'.

Kalis juga menanggapi fenomena tersebut. Menurutnya, kasus kekerasan seksual yang seakan harus viral dulu atau viral based policy seharusnya bisa dicegah jika struktur hukum dan budaya hukum di Indonesia cukup untuk melindungi korban kekerasan seksual.

Mengurangi Penggunaan Media Sosial yang Berlebihan / foto : pexels.com/RODNAEProductionIlustrasi media sosial/Foto: Pexels.com/RODNAEProduction

"Sayangnya, saat ini situasinya masih jauh dari yang diharapkan. Kita belum berhasil mengesahkan RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) yang dibutuhkan masyarakat, sehingga memviralkan kasus dianggap sebagai shortcut agar kasus segera mendapat perhatian dari para penegak hukum," ucap Kalis.

Bisa dibilang RUU TPKS sudah menempuh perjalanan yang sangat panjang. Willy Aditya, Wakil Ketua Baleg DPR menyebut bahwa kasus Novia Widyasari menjadi pemantik agar rancangan undang-undang tindak pidana kekerasan seksual (RUU TPKS) segera disahkan, seperti dikutip dari detikcom. Diketahui target persetujuan draf RUU TPKS didapat dalam rapat paripurna DPR RI pada 15 Desember 2021 mendatang.

"Kekerasan seksual adalah salah pelaku. Dan sayangnya, kekerasan seksual bukan terjadi hanya karena ketidakmampuan pelaku untuk mengontrol hasrat seksualnya, melainkan, struktur ekosistem sosial kita juga masih menormalisasi hal tersebut," tutup Kalis.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id